PESONA NGADA MEMANG TIDAK MENGADA-ADA


Mungkin Anda jarang atau bahkan belum pernah mendengar nama Kabupaten Ngada. Letaknya yang berada di tengah Pulau Flores dan akses yang cukup sulit, memang membuatnya seperti terasing dan tidak banyak dikenal orang. Padahal kabupaten yang beribukota di Bajawa ini, menyimpan beragam pesona wisata yang tak kalah menariknya dengan daerah lain di Indonesia. Gunung, pantai, taman laut, air terjun, sumber air panas, hingga desa tradisional dengan adat dan budayanya yang unik, semua ada di Kabupaten Ngada. Menariknya lagi, semua objek wisata di Kabupaten Ngada masih benar-benar alami dan belum tersentuh komersialisasi. Berikut pesona Kabupaten Ngada yang harus Anda kunjungi ketika berlibur ke Flores.

Kota Bajawa yang tenang dan indah

Bajawa
Petualangan di Kabupaten Ngada bisa Anda mulai dari Kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Bajawa terletak tepat di jantung Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kota ini berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan air laut, sehingga udaranya pun sangat sejuk. Menurut penduduk setempat, nama Bajawa berasal dari kata “Ba” dan “Jawa.” Ba artinya mangkok, dan Jawa artinya Pulau Jawa. Maksudnya, Bajawa merupakan kota yang berada di dalam cekungan/mangkok dan penduduknya banyak yang berasal dari Pulau Jawa. Faktanya, kota cantik ini memang seperti berada di sebuah mangkok karena dikelilingi gunung dan perbukitan yang indah, dan konon katanya memang banyak pendatang dari Pulau Jawa yang datang ke kota ini. Karena keindahan kotanya, Bajawa sering dikunjungi banyak turis, baik turis domestik maupun turis asing. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 15 ribu orang, Bajawa menawarkan keramahtamahan dan fasilitas yang cukup memadai untuk tamu yang singgah. Kota yang memiliki julukan “Kota Bunga” ini sudah dilengkapi dengan fasilitas hotel, restoran, kafe, pasar tradisional dan art shop. Dari Bajawa, Anda bisa melanjutkan petualangan ke berbagai destinasi menarik lainnya di Kabupaten Ngada.

Kawah Wawo Muda
Kawah Wawo Muda terletak di Dusun Ngoranale, Kelurahan Susu, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Untuk mencapai kawah ini Anda harus berkendara sekitar 15 menit dan berjalan kaki mendaki gunung sekitar 30 menit. Pagi hari, adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Kawah Wawo Muda karena di pagi hari yang cerah, biasanya Puncak Gunung Wawo tak berkabut, sehingga Anda bisa menyaksikan keindahan Kawah Wawo Muda dengan air yang berwarna-warni. Karena memiliki tiga buah kawah kecil dengan warna yang berbeda-beda, Kawah Wawo Muda sering disebut sebagai “Mini Kelimutu.” Saat saya berkunjung ke sana, tiga kawah Wawo Muda memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat.

Kawah Wawo Muda yang airnya berwarna-warni

Kawah Wawo Muda memiliki cerita menarik. Kawah ini berada di Gunung Wawo Muda yang letaknya tidak begitu jauh dari Kota Bajawa. Sebelum meletus, Gunung Wawo Muda hanyalah gunung berapi biasa, dan tidak memiliki kawah. Gunung ini juga tidak begitu tinggi (tingginya hanya 1.559 meter di atas permukaan laut), sehingga tampak seperti bukit. Gunung Wawo Muda mulai menyita perhatian masyarakat dan terkenal sampai ke mancanegara sejak meletus pada tahun 2001. Saat itu, malam hari tanggal 11 Januari 2001, salah satu lereng Gunung Wawo Muda meletus, dan mengagetkan Warga Kota Bajawa dan sekitarnya. Letusan tadi disertai dengan gempa yang melenyapkan sebagian lereng gunung, yang dulunya merupakan area perkebunan kopi. Akibat letusan tersebut, terbentuklah beberapa kawah dengan air kawah yang berwarna-warni. Dari keterangan petugas hotel tempat saya menginap, setelah meletus terbentuk lima kawah dengan berbagai ukuran di lereng Gunung Wawo Muda. Kawah-kawah tersebut berisi air yang awalnya berwarna merah marun. Namun, ada yang unik dengan air kawah tersebut. Warna air kawah di Gunung Wawo Muda kerap berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Saat ini, kawah di Gunung Wawo Muda tinggal tersisa tiga buah. Tiga kawah tersebut memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat. Menurut para ahli, perubahan warna air kawah tersebut adalah akibat perubahan kandungan mineral dalam air kawah dan bebatuan di sekitarnya.

Air Terjun Ogi
Mungkin inilah satu-satunya air terjun di Indonesia, yang letaknya sangat dekat dengan kota. Air Terjun Ogi terletak di Desa Faobata, Kecamatan Bajawa. Jaraknya hanya sekitar 7 Km dari pusat Kota Bajawa. Karena berada di dekat kota, akses jalan menuju Air Terjun Ogi sangat mudah dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Sayangnya, tidak ada rambu-rambu atau penunjuk arah ke air terjun ini. Jadi Anda harus bertanya kepada penduduk setempat untuk mencapai air terjun ini. Dari pusat Kota Bajawa, arahkan kendaraan Anda menuju Desa Faobata. Dalam perjalanan Anda akan melewati sebuah SPBU, yang merupakan satu-satunya SPBU di Kota Bajawa. Dari SPBU tersebut Anda lurus saja, sampai tiba di depan rumah penduduk dengan sawah di seberang jalannya. Beloklah ke kanan, mengikuti jalan setapak di samping sawah tersebut (kira-kira sejauh 500 meter) dan sampailah Anda di Air Terjun Ogi.

Air Terjun Ogi

Air Terjun Ogi memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan debit air yang cukup besar. Anda tidak perlu membayar tiket masuk untuk mengunjungi air terjun ini. Air Terjun Ogi dikelilingi pepohonan yang hijau dan asri. Udaranya juga sejuk dan bebas polusi, sehingga membuat betah pengunjung untuk berlama-lama di sana. Di dekat air terjun terdapat sebuah bangunan yang digunakan oleh PLN untuk menjadi pembangkit listrik. Namun, saya kurang tahu, apakah saat ini masih digunakan atau tidak. Di samping kiri Air Terjun Ogi terdapat sebuah anak tangga dari besi yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk menuju puncak air terjun. Ikuti saja jalan tersebut tanpa belok kanan atau kiri sejauh 6,5 km,

Kampung Bena
Pernah membaca Komik Asterix dan Obelix, di mana terdapat Desa Galia yang rumah-rumahnya berbentuk seragam? Kabupaten Ngada memiliki sebuah desa megalitikum yang mirip Desa Galia di Komik Asterix dan Obelix. Namanya Kampung Bena. Kampung tradisional yang unik ini terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Kampung yang berada di kaki Gunung Inerie ini, jaraknya sekitar 19 km dari pusat Kota Bajawa atau setengah jam berkendara. Letak Kampung Bena yang di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat penganut aliran dinamisme yang percaya bahwa gunung adalah tempat bersemayamnya para dewa. Penduduk Kampung Bena meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di Gunung Inerie yang melindungi kampung mereka. Keistimewaan Kampung Bena adalah kehidupan dan budaya masyarakatnya yang masih tradisional. Walau zaman sudah modern, penduduk Bena masih memegang teguh adat dan budaya para leluhurnya.

Kampung Bena bentuknya memanjang, dari utara ke selatan dengan kontur tanah yang miring. Pintu masuk kampung hanya dari sebelah utara, di pinggir jalan. Sementara ujung lainnya di bagian selatan merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal. Rumah-rumah di Kampung Bena membentuk dua baris dan letaknya berhadap-hadapan. Saat ini, jumlah rumah di Kampung Bena sekitar 45 unit rumah, yang dihuni oleh sembilan suku, yaitu : Suku Bena, Suku Dizi, Suku Dizi Azi, Suku Wahto, Suku Deru Lalulewa, Suku Deru Solamae, Suku Ngada, Suku Khopa, dan Suku Ago. Untuk membedakan antara satu suku dengan suku lainnya, dipisahkan berdasarkan sembilan tingkat ketinggian tanah dan kubur batu yang menjadi batas tiap-tiap suku.Suku Bena merupakan suku tertua dan pendiri Kampung Bena, sehingga namanya digunakan sebagai nama kampung.

Kampung Megalitikum Bena
Rumah-rumah di Kampung Bena bentuknya seragam dengan dinding yang terbuat dari kayu dan bambu, serta atap yang tinggi terbuat dari ijuk. Rumah keluarga inti pria disebut Sakalobo. Ini ditandai dengan patung pria memegang parang dan busur panah di atas rumah. Sementara rumah keluarga inti wanita disebut Sakapu’u. Di beberapa rumah terdapat tanduk kerbau dan rahang babi yang diapajang di depan rumah. Tanduk kerbau yang dipajang menandakan bahwa keluarga di rumah tersebut pernah berbuat suatu kebaikan untuk orang miskin, sedangkan rahang babi menunjukkan jumlah babi yang pernah dipotong untuk Upacara Kasao (upacara membuat rumah adat).

Di tengah-tengah Kampung Bena ada lapangan terbuka di mana terdapat batu-batu megalitikum yang merupakan makam para leluhur dan beberapa bangunan yang disebut Ngadhu dan Bhaga. Ngadhu merupakan simbol dari laki-laki, berbentuk seperti payung setinggi tiga meter yang ditopang oleh tiang kayu berukir. Tiang Ngadhu terbuat dari jenis kayu khusus yang sangat keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat. Arti dari simbol tersebut adalah meskipun laki-laki masuk dalam keluarga perempuan, dia tetap menjadi penguasa tunggal di dalam keluarganya dan menjadi seseorang yang mengayomi dan melindungi keluarga. Sedangkan Bhaga merupakan simbol dari perempuan, berupa miniatur rumah adat yang artinya perempuan dipersiapkan untuk menerima laki-laki ke dalam rumah yang akan mereka tempati bersama. Di atap rumah terdapat senjata yang berguna untuk melindungi penghuni rumah dari gangguan roh-roh jahat.

Penduduk Kampung Bena yang berprofesi sebagai petani, selalu menggelar pesta adat yang disebut Reba setiap tahun. Reba diselenggarakan pada bulan Desember atau Januari setiap tahunnya. Reba merupakan suatu pesta adat untuk melakukan syukuran atas apa yang telah diperoleh selama setahun dan memohon keberhasilan di tahun yang akan datang. Prosesi ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan dan sekaligus sebagai ritual untuk menghormati nenek moyang. Pada saat Prosesi Reba, semua anggota keluarga berkumpul dalam sebuah rumah adat dan harus memakai pakaian adat Bena.

Untuk berkunjung ke Kampung Bena, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Pengunjung hanya diminta mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pemeliharaan kampung agar senantiasa terjaga keaslian tradisinya.

Gunung Inerie

Gunung Inerie
Kabupaten Ngada merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki banyak gunung. Di antara gunung-gunung tersebut yang tertinggi adalah Gunung Inerie. Gunung yang bentuknya seperti kerucut ini memiliki ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut. Bagi yang suka mendaki gunung, Anda pasti tertantang untuk mendaki gunung ini. Titik awal pendakian Gunung Inerie berada di Desa Watumeze (sekitar 30 menit berkendara dari Bajawa). Pendakian dari Desa Watumeze ke puncak Gunung Inerie memakan waktu sekitar tiga jam. Dari puncak Gunung Inerie Anda bisa menyaksikan panorama spektakuler Kota Bajawa, Laut Sawu, dan hutan yang ada di wilayah Kabupaten Ngada.

Air Panas Mengeruda
Setelah seharian berkeliling Kabupaten Ngada, akhirilah hari Anda dengan berendam air hangat di Pemandian Air Panas Mengeruda. Pemandian air panas ini terletak di Desa Mengeruda, Kecamatan Soa. Jaraknya sekitar 25 km dari Kota Bajawa atau sekitar empat puluh menit berkendara. Untuk mengunjungi Air Panas Mengeruda, sebaiknya Anda menyewa kendaraan atau naik ojek dari Bajawa karena tidak ada kendaraan umum yang menuju atau melewati air panas ini.

Air Panas Mengeruda
Pada awalnya, Pemandian Air Panas Mengeruda adalah pemandian alam bagi para petani di sekitarnya yang lelah bekerja seharian di ladang. Sebelum pulang ke rumah, mereka berendam dulu di Air Panas Mengeruda agar badan segar kembali. Saat ini, Air Panas Mengeruda sudah dikelola dengan baik dan dibuka untuk wisatawan. Pemerintah Kabupaten Ngada telah membangun tembok yang memagari Kompleks Air Panas Mengeruda. Sumber air panas yang berada di sebuah kolam juga dipagari tembok. Di Kompleks Air Panas Mengeruda telah dibangun berbagai fasilitas untuk turis, antara lain : kolam renang, restoran, toilet, dan ruang ganti. Sayangnya, pada saat saya ke sana, toilet dan ruang gantinya dalam kondisi yang kurang terawat. Restorannya juga sudah lama tutup.

Untuk masuk ke Pemandian Air Panas Mengeruda, turis lokal dikenakan biaya sebesar Rp 2.500,00 per orang, sedangkan turis asing dikenakan biaya Rp 5.000,00 per orang. Anda bisa memilih mandi di air panas yang ada di pinggir sungai atau berendam dan berenang di kolam renang. Keduanya berair hangat karena airnya berasal dari mata air yang sama. Berendam di air hangat dengan suhu sekitar 40 derajat Celcius tentunya sangat menyenangkan. Selain menghilangkan pegal-pegal, Air Panas Mengeruda dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena mengandung belerang.

Getting There
Untuk mengunjungi Kabupaten Ngada yang ada di Pulau Flores, Anda harus terbang dulu menuju Denpasar atau Kupang. Dari Kupang, lanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Bajawa atau Ende (kota terdekat dengan Bajawa). Kalau dari Denpasar, Anda hanya bisa terbang ke Ende. Dari Ende, Anda harus melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam menuju Bajawa. Dari Bajawa, Anda bisa menuju berbagai tempat wisata di Kabupaten Ngada dengan menyewa kendaraan atau naik ojek. Sebenarnya Anda bisa naik kendaraan umum tapi saya tidak menganjurkan karena kendraan umum di Bajawa belum menjangkau semua tempat wisata yang ada di wilayah Kabupaten Ngada dan waktu beroperasi kendaraan umum pun sangat terbatas.

Maskapai yang melayani penerbangan dari Denpasar atau Kupang menuju Bajawa dan Ende adalah Lion Air (www.lionair.co.id), Merpati Air (www.merpati.co.id), dan Trans Nusa (www.transnusa.co.id). Sebaiknya Anda menanyakan langsung ke maskapai tersebut atau mengecek jadwal penerbangan di internet karena penerbangan menuju kedua kota tersebut tidak tersedia setiap hari. (edyra)***

*Dimuat di Majalah CHIC No.119, 11 Juli 2012.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

KEAJAIBAN WARNA-WARNI ALAM FLORES

Berfoto di Kawah Wawo Muda, dengan kawahnya yang berwarna-warni unik

Kalau ada yang bertanya, di mana tempat liburan alternatif di Indonesia selain Bali dan Lombok? Jawaban saya adalah Flores. Mengapa Flores? Flores adalah pulau dengan segala keunikan dan keindahan di setiap jengkal tanahnya. Sesuai dengan namanya yang berarti bunga, Flores memang sangat cantik seperti bunga. Dari barat ke timur, pulau yang panjangnya sekitar 400 km ini benar-benar cantik menawan. Pulau ini “kaya warna” dalam arti sesungguhnya, baik warna alam, penduduk maupun budayanya. Mungkin tidak ada pulau atau tempat lain di dunia ini yang memiliki warna-warni alam selengkap Flores. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, coklat hingga merah muda (pink) semua bisa Anda lihat di Flores. Danau, pantai, sawah, hingga kawah gunung di Flores semuanya memiliki warna yang unik, yang sulit atau bahkan tidak mungkin Anda jumpai di belahan bumi mana pun.

Keajaiban warna alam Flores bisa Anda saksikan dari ujung barat pulau di Labuan Bajo, sampai ujung timur pulau di Larantuka. Berikut lima keajaiban warna alam Flores yang harus Anda lihat ketika Anda berkunjung ke Flores. Tak masalah Anda memulai kunjungan dari arah barat (Labuan Bajo) maupun dari arah timur (Maumere/Ende). Semuanya menawarkan pesona yang sangat menarik. Sebagai Warga Negara Indonesia, sudah sepantasnya Anda mendahulukan mengunjungi Flores daripada jalan-jalan jauh keluar negeri. Rugi rasanya kalau Anda tidak melihat dengan mata kepala sendiri warna-warni alam Flores, minimal sekali seumur hidup.

Pantai Merah (Pink Beach)
Bila Anda memulai kunjungan di Flores dari arah barat (Labuan Bajo), keajaiban warna alam Flores pertama yang harus Anda lihat adalah Pantai Merah (Pink Beach). Pantai Merah yang di kalangan turis asing disebut Pink Beach letaknya bukan di daratan Pulau Flores, tetapi di Pulau Komodo. Untuk mencapai Pantai Merah, Anda harus menyewa perahu atau speedboat dari Labuan Bajo, dengan lama perjalanan sekitar satu sampai dua jam.

Pink Beach yang indah dengan pasirnya yang berwarna pink

Sesuai dengan namanya, hamparan pasir di Pantai Merah berwarna merah muda (pink). Konon pantai berpasir pink hanya ada tujuh di dunia, salah satunya di Pulau Komodo. Makanya, sebagai Warga Negara Indonesia, kita patut berbangga hati memiliki pantai berpasir pink. Pasir pink ini terbentuk dari pecahan karang berwarna merah. Sebenarnya, hewan laut sejenis amuba bernama Foraminifera yang memproduksi warna merah pada karang tersebut. Dari kejauhan, pasir Pantai Merah terlihat berwarna putih seperti pantai berpasir putih biasa. Namun, semakin Anda mendekat, pasir pantai akan terlihat berwarna pink. Bila Anda mengambil segenggam pasirnya, akan terlihat butir-butir pasir berwarna merah di antara butiran pasir putih. Bila ombak menyapu pasir dan menariknya, maka warna pasir tersebut berubah menjadi pink cerah. Benar-benar indah! Butiran pasirnya sangat halus dan lembut, sehingga sangat nyaman untuk berjemur atau berjalan di atasnya.

Salah satu sudut Pink Beach yang eksotis

Selain keindahan pasirnya, kecantikan panorama Pantai Merah juga tak terbantahkan. Pantai ini dikelilingi bukit-bukit kecil dan pulau-pulau mungil di sekitarnya. Air lautnya sangat jernih berwarna hijau toska. Dari sudut mana pun Anda memotret Pantai Merah, Anda pasti akan mendapatkan foto yang menawan. Selain berfoto, aktivitas yang bisa Anda lakukan di Pantai Merah adalah berenang, berjemur, atau bermalas-malasan di pinggir pantai sambil membaca buku. Bagi Anda penggemar diving (menyelam) dan snorkeling, Pantai Merah adalah surganya. Keindahan bawah laut Pantai Merah sudah terkenal kemana-mana. Terumbu karang di Pantai Merah sangat banyak jenisnya dan semua dalam kondisi sehat. Mulai dari karang keras (hard corals) sampai karang lunak (soft corals), semua ada di Pantai Merah. Warnanya pun bermacam-macam. Mulai dari merah, kuning, hijau, biru, ungu, coklat hingga pink semua ada di sana. Aneka biota laut cantik dan unik seperti ikan badut (clown fish), butterfly fish, parrot fish, dan bintang laut (star fish) bisa Anda jumpai dengan mudah di Pantai Merah. Singkatnya, Pantai Merah adalah salah satu surga tersembunyi (hidden paradise) yang dimiliki Indonesia.

Bila Anda ingin menyelam (diving) ataupun snorkeling di Pantai Merah, Anda harus membawa peralatan sendiri karena di sana tidak ada tempat penyewaan peralatan diving dan snorkeling. Bila Anda malas membawa peralatan diving/snorkeling dari rumah, Anda tak perlu khawatir. Anda bisa menyewa peralatan tersebut di berbagai dive operator yang banyak terdapat di Labuan Bajo. Namun, satu hal yang perlu Anda ingat. Anda harus membawa perbekalan makanan dan minuman yang cukup karena di Pantai Merah tidak ada satu pun restoran ataupun warung.

Sawah Laba-Laba atau Sawah Lodok (Spider-Web Ricefield)
Sawah terasering atau sawah datar yang menghampar luas sudah sering kita lihat di berbagai penjuru Indonesia. Namun, bagaimana dengan sawah yang berbentuk lingkaran dengan petak-petak sawah yang seperti jaring laba-laba? Pernahkah Anda melihatnya? Jika belum, datanglah ke Desa Cara, Kecamatan Cancar, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di desa yang letaknya sekitar 17 km sebelah barat Kota Ruteng ini, terdapat sawah yang bentuknya sangat unik dan hanya ada satu-satunya di dunia, yaitu Sawah Laba-laba. Penduduk setempat menyebutnya Sawah Lodok, wisatawan asing menyebutnya Spider-Web Ricefield. Konon, bentuk unik dan artistik persawahan itu mencerminkan betapa kuatnya hubungan kekerabatan Masyarakat Cancar.

Sawah Lodok yang bentuknya seperti jaring laba-laba

Lodok adalah sistem pembagian tanah atau sawah adat di Desa Cara, Kecamatan Cancar, Kabupaten Manggarai. Tanah/sawah adat di Desa Cara disebut Lingko. Cara pembagian sawah/lingko yang unik menjadikan sawah tersebut berbentuk seperti jaring laba-laba. Proses pembagian sawah adat (lingko) dimulai dari pusat sawah. Di pusat sawah ditanam sebatang kayu yang disebut Teno. Dinamakan Teno karena sepotong tiang itu diambil dari sejenis pohon yang dinamakan Haju Teno (Pohon Teno). Teno merupakan titik pusat lingkaran tanah lingko. Dari Teno ditarik garis-garis pembatas sawah (yang disebut Langang), sampai ke batas terluar tanah lingko (yang disebut Cicing). Untuk menentukan ukuran (luas) tanah di Sawah Lodok, Masyarakat Manggarai membaginya berdasarkan Moso (satuan jari tangan) sebagai dasar pembagian awal. Besaran moso pun sangat relatif, tergantung pada berapa jumlah warga yang akan menerima pembagian lingko tersebut. Semakin banyak yang akan menerima, semakin kecil ukuran moso, demikian pula sebaliknya, semakin sedikit jumlah penerima, semakin besar ukuran moso. Selain itu, besarnya moso juga bergantung pada kedudukan seseorang di desanya. Ada istilah moso biasa (satu jari), moso kina (satu setengah jari), dan moso wase (tiga jari). Warga yang dianggap sebagai pemimpin (tua beo/golo) atau tuan tanah (tua teno) biasanya mendapat moso wase (tiga jari), yang merupakan ukuran paling besar. Sedangkan warga lainnya akan menerima moso biasa (satu jari) atau moso kina (satu setengah jari).

Sawah Lodok ini letaknya di pinggir Jalan Raya Lintas Flores. Namun, dari pinggir jalan Anda tidak akan melihat keunikan sawah ini karena sawah ini nampak seperti sawah kebanyakan yang menghampar luas. Untuk bisa melihat keunikan Sawah Lodok, Anda harus membelokkan kendaraan Anda menuju Desa Cara dan mendaki sebuah bukit kecil, di dekat menara BTS provider telepon seluler. Dari puncak bukit tersebut, Anda baru bisa menyaksikan panorama menakjubkan Sawah Lodok, yang bentuknya seperti jaring laba-laba. Pada saat musim tanam, jaring laba-laba tersebut berwarna hijau menyejukkan mata. Sedangkan pada saat menjelang panen, jaring laba-laba tersebut berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Inilah salah satu keunikan alam Flores yang tidak akan Anda temui di tempat lain.

Kawah Wawo Muda
Danau kawah berwarna hijau, mungkin sudah biasa dan banyak ditemui di tempat lain. Lalu, bagaimana kalau danau kawah berwarna merah marun, kuning atau coklat? Danau kawah tersebut hanya ada di Flores, yaitu Kawah Wawo Muda. Kawah berwarna-warni cantik tersebut terletak di Dusun Ngoranale, Kelurahan Susu, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Kawah Wawo Muda, sering disebut sebagai “Mini Kelimutu” karena ukuran kawahnya yang lebih kecil dari Danau Kawah Kelimutu, dan memiliki tiga buah kawah dengan warna yang berbeda-beda. Saat saya berkunjung ke sana, tiga kawah Wawo Muda memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat.

Dua Kawah Wawo Muda yang berwarna merah kecoklatan dan coklat

Kawah Wawo Muda memiliki cerita menarik. Kawah ini berada di Gunung Wawo Muda yang letaknya tidak begitu jauh dari Kota Bajawa. Sebelum meletus, Gunung Wawo Muda hanyalah gunung berapi biasa, dan tidak memiliki kawah. Gunung ini juga tidak begitu tinggi (tingginya hanya 1.559 meter di atas permukaan laut), sehingga tampak seperti bukit. Gunung Wawo Muda mulai menyita perhatian masyarakat dan terkenal sampai ke mancanegara sejak meletus pada tahun 2001. Saat itu, malam hari tanggal 11 Januari 2001, salah satu lereng Gunung Wawo Muda meletus, dan mengagetkan Warga Kota Bajawa dan sekitarnya. Letusan tadi disertai dengan gempa yang melenyapkan lereng gunung, yang dulunya merupakan area perkebunan kopi. Akibat ledakan tersebut, terbentuklah beberapa kawah dengan air kawah yang berwarna-warni. Dari keterangan petugas hotel tempat saya menginap, setelah meletus terbentuk lima kawah dengan warna merah marun di lereng Gunung Wawo Muda. Salah satu kawah berukuran besar dan kawah-kawah lainnya berukuran lebih kecil. Warna air kawah tersebut kerap berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Saat ini, kawah di Gunung Wawo Muda tinggal tersisa tiga buah. Tiga kawah tersebut memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat. Menurut para ahli, perubahan warna air kawah tersebut adalah akibat perubahan kandungan mineral dalam air kawah dan bebatuan di sekitarnya.

Pantai Batu Hijau (Green Stone Beach)
Dari Kawah Wawo Muda di Bajawa, lanjutkan perjalanan Anda ke arah timur menuju Pantai Batu Hijau, yang berada di wilayah Kabupaten Ende. Kalau di tempat lain ada pantai berpasir hitam, pantai berpasir putih, pantai berbatu atau pantai berlumpur, mungkin hanya di Flores kita dapat menemukan pantai berbatu hijau. Wisatawan biasanya menyebut pantai ini sebagai Pantai Batu Biru (Blue Stone Beach), tapi penduduk setempat menyebutnya sebagai Pantai Batu Hijau. Sebenarnya ada berbagai warna batu di pantai ini, mulai dari putih, coklat, krem, hijau, biru hingga ungu. Namun, yang paling banyak adalah batu berwarna hijau. Karena itulah pantai yang berada di Desa Penggajawa, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur ini dinamakan Pantai Batu Hijau.

Hamparan batu hijau di Pantai Batu Hijau

Ketika melakukan perjalanan dari Ende menuju Bajawa (atau sebaliknya), Anda akan bertemu Pantai Batu Hijau ini. Begitu memasuki Desa Penggajawa (sekitar 23 km dari pusat Kota Ende), Anda akan mulai melihat tumpukan batu berwarna-warni (dengan warna dominan hijau), di pinggir jalan. Semakin ke barat, tumpukan batu terlihat semakin banyak. Di beberapa tempat, batu-batu tersebut sudah dimasukkan ke dalam karung-karung kecil berwarna putih. Selanjutnya, Anda akan bertemu dengan pantai berpasir hitam dengan hamparan batu berwarna dominan hijau di sebelah kiri Anda (bila Anda datang dari arah Ende). Air lautnya berwarna hijau menawan. Itulah Pantai Batu Hijau. Satu-satunya pantai yang memiliki batuan berwarna hijau di Indonesia bahkan di dunia.

Kalau di pekarangan rumah Anda terdapat batu-batu kecil berwarna hijau atau biru, bisa jadi batu-batu tersebut berasal dari Pantai Batu Hijau. Setiap harinya, penduduk sekitar pantai yang kebanyakan kaum perempuan, bekerja mengumpulkan batu-batu hijau di pantai. Untuk mendapatkan batu-batu yang berkualitas, para penambang batu harus bersusah-payah, menggali pasir sampai kedalaman satu meter. Setelah terkumpul banyak, batu-batu tersebut dimasukkan ke dalam karung-karung kecil dan diletakkan di pinggir jalan, untuk selanjutnya dijual ke penadah. Dari tangan penadah, batu-batu tersebut disebarluaskan ke berbagai kota di Indonesia. Menurut seorang ibu yang sempat saya jumpai di Pantai Batu Hijau, batu-batu cantik tersebut hanya dihargai Rp 8.000,00 per karung kecil. Padahal satu karung kecil batu, beratnya lebih dari 10 kg kilogram. Harga yang sangat murah untuk batu-batu yang sangat cantik. Padahal, kalau sudah masuk toko bahan bangunan, harga batu-batu tersebut akan membengkak puluhan kali lipat. Satu lagi, bukti keajaiaban warna alam Flores.

Danau Kelimutu
Dari Pantai Batu HIjau lanjutkan perjalanan ke arah timur lagi untuk menyaksikan keajaiban warna alam Flores yang lain, yaitu Danau Kelimutu. Danau kawah yang berada di puncak Gunung Kelimutu ini sangat tersohor ke mana-mana karena keunikan warna danau kawahnya, yang terdiri dari tiga danau kawah dengan warna yang berbeda-beda dan selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Danau Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Desa terdekat dengan Danau Kelimutu adalah Dusun Moni (Desa Koanara). Dari Ende ke Moni jaraknya sekitar 60 km atau sekitar 90 menit berkendara sedangkan dari Maumere jaraknya sekitar 80 km atau sekitar tiga jam berkendara.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Danau Kelimutu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Keindahan Danau Kelimutu semakin dikenal masyarakat dunia setelah Y. Bouman, seorang turis dari Eropa, menulis artikel tentang Danau Kelimutu pada tahun 1929. Sejak saat itu, mulai banyak turis asing dan peneliti yang berdatangan ke Danau Kelimutu.

Tiwu Ata Polo (depan/kanan) dan tampak sedikit Tiwu Nua Muri Koo Fai (kiri)

Danau Kelimutu berada di puncak Gunung Berapi Kelimutu yang memiliki ketinggian 1.690 meter di atas permukaan laut. Luas ketiga Danau Kelimutu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter. Dulunya dinding pemisah tersebut cukup lebar dan bisa dilewati orang. Sekarang, dinding pemisah tersebut sangat tipis/sempit dan tidak bisa dilewati orang. Dengan posisi berdekatan, tidak menutup kemungkinan kedua danau ini akan menyatu bila terjadi gempa bumi dengan skala besar.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warni Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Mereka percaya bahwa perubahan warna pada ketiga Danau Kelimutu merupakan isyarat atau pertanda akan terjadinya suatu peristiwa/bencana alam di negeri ini, seperti : gunung meletus, tanah longsor, kekeringan atau bencana alam lainnya. Mereka sudah hafal arti warna yang ditunjukkan oleh Danau Kelimutu. Misalnya : bila air Danau Tiwu Ata Polo berwana hijau lumut berarti akan ada warga sekitar yang meninggal dunia.

Tiwu Nua Muri Koo Fai

Meski banyak ahli yang sudah melakukan penelitian, sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebab perubahan warna Danau Kelimutu. Sejumlah kalangan menduga, perubahan warna air di Danau Kelimutu disebabkan oleh tekanan gas aktivitas vulkanik, pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, kandungan zat kimia terlarut (garam, besi, sulfat dan mineral lain), serta pantulan warna dinding dan dasar danau. Selain itu, aktivitas kegempaan juga dapat mengubah warna kawah danau.

Tiwu Ata Mbupu

Saat ini ketiga Danau Kelimutu meiliki warna yang berbeda, yaitu : Tiwu Ata Polo berwarna hijau tua, Tiwu Nua Muri Koo Fai (yang paling besar) berwarna hijau toska, dan Tiwu Ata Mbupu (yang paling kecil dan letaknya terpisah jauh) berwarna hitam kelam. Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Mbupu warnanya relatif stabil yaitu hijau toska dan hitam kelam. Sedangkan Tiwu Ata Polo paling cepat berubah. Menurut informasi penduduk setempat, selama tahun 2010 ini sudah terjadi tiga kali perubahan warna di Danau Tiwu Ata Polo, dari coklat tua, hijau lumut, dan hijau tua. Pada tahun 2006, saat saya pertama kali berkunjung ke Danau Kelimutu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna coklat tua. Tiwu Ata Polo merupakan tempat berkumpulnya arwah orang jahat (tukang tenung), Tiwu Nua Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya arwah muda-mudi, dan Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya arwah orang tua.

Getting There
Untuk mengunjungi Flores, Anda harus terbang menuju Denpasar atau Kupang. Dari Denpasar/Kupang, lanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Labuan Bajo (bila Anda ingin memulai perjalanan dari arah barat) Ende atau Maumere (bila Anda ingin memulai perjalanan dari arah timur). Maskapai yang melayani penerbangan ke dua kota tersebut, adalah Lion Air (www.lionair.co.id), Merpati Air (www.merpati.co.id), dan Trans Nusa (www.transnusa.co.id). Untuk mencapai Pantai Merah yang berada di Pulau Komodo, Anda harus menyewa perahu atau speedboat dari Labuan Bajo, dengan lama perjalanan sekitar satu sampai dua jam. Sedangkan untuk mencapai tempat-tempat lainnya, dari Labuan Bajo, Ende atau Maumere, Anda tinggal melanjutkan perjalanan darat baik dengan kendaraan umum maupun menyewa mobil. Sebaiknya Anda menyewa mobil karena kendaraan umum di Flores belum menjangkau semua tempat wisata di sana dan waktu beroperasi kendaraan umum pun sangat terbatas. (edyra)***

*Dimuat di Majalah CITA CINTA No. 9, 27 April 2011
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MENGEJAR MATAHARI TERBIT DI KELIMUTU

Foto dulu di dekat Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur. Suasana sepi mencekam, udara dingin menusuk tulang. Kamis, 18 November 2010, pukul 04.15 pagi, dengan mata yang masih sedikit mengantuk, saya dan Ahmad keluar dari hotel di Kampung Moni, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Dengan berbekal jaket tebal, sarung tangan, dan syal, kami mengendarai sepeda motor, menembus dinginnya udara Moni, menuju Danau Kelimutu. Hanya suara binatang malam dan temaram sinar bulan yang menemani perjalanan kami pagi itu. Keinginan melihat indahnya matahari terbit di Puncak Gunung Kelimutu dan menyaksikan keajaiban warna-warni Danau Kelimutu, mengalahkan rasa kantuk dan malas kami.

Jarak dari Moni ke Puncak Gunung Kelimutu sekitar 13 km atau sekitar 30 menit berkendara. Kami harus melewati jalan yang menanjak dan berkelok-kelok seperti ular untuk mencapai tempat parkir Danau Kelimutu. Beberapa kilometer sebelum sampai di tempat parkir, kami harus berhenti sejenak di Gerbang Taman Nasional Kelimutu untuk membeli tiket masuk sebesar Rp 2.500,00 per orang dan Rp 3.000,00 untuk sepeda motor.

Dari Gerbang Taman Nasional Kelimutu, tempat parkir sudah dekat. Selanjutnya, kami harus jalan kaki dari tempat parkir (sekitar 15 menit), menyusuri jalur trekking dan mendaki ratusan anak tangga untuk mencapai gardu pandang (viewing point) Danau Kelimutu. Jalur trekking dan anak tangga menuju viewing point sudah dibuat dengan rapi dan ada penunjuk arah yang jelas. Namun, di tengah cuaca pagi yang masih gelap (untungnya saat itu sedang terang bulan), penunjuk arah tersebut biasanya tidak jelas terlihat. Sebaiknya Anda membawa senter agar perjalanan Anda lebih nyaman dan tidak salah jalan.

Anak tangga menuju Gardu Pandang (Viewing Point)

Setelah menyusuri jalur trekking dan mendaki ratusan anak tangga, sampaialah kami di gardu pandang (viewing point) Danau Kelimutu. Kami tiba di viewing point tepat sesaat sebelum sang surya memancarkan sinarnya. Kami langsung mencari tempat terbaik dan mengeluarkan kamera, bersiap-siap menyaksikan “pertunjukan alam” yang akan disajikan oleh Danau Kawah Kelimutu. Beberapa turis asing juga sudah nangkring di viewing point sambil memegang kameranya masing-masing. Setiap pagi yang cerah, bisa dipastikan selalu ada turis asing yang berkunjung ke Danau Kelimutu. Mereka sengaja jauh-jauh datang ke Danau Kelimutu untuk menyaksikan keajaiban warna-warni Danau Kelimutu.

Menyaksikan indahnya Danau Kelimutu dari Viewing Point

Perlahan-lahan langit mulai terang, dan semburat warna jingga mulai terlihat di ufuk timur. Dari sekian banyak pengunjung yang ada di Danau Kelimutu saat itu, tak ada satu pun yang bersuara. Semua seperti tersihir melihat perubahan warna langit yang mempesona, mulai dari gelap pekat, lembayung, dan perlahan-lahan berubah menjadi merah dengan semburat jingga. Seiring langit yang semakin terang dan matahari keluar dengan sempurna dari peraduannya, warna-warni ketiga Danau Kelimutu pun mulai nampak. Walau ketiga danau tersebut sering berubah-ubah warna, pagi itu Danau Kelimutu menyajikan warna hijau gelap (Tiwu Ata Polo), hijau toska (Tiwu Nua Muri Koo Fai), dan hitam (Tiwu Ata Mbupu). Cuaca memang sempurna pagi itu, langit cerah dan tak berkabut. Saya duduk di puncak viewing point sambil memandangi ketiga danau kawah yang terlihat sangat indah pagi itu. Tak lupa saya memotret ketiga danau ajaib tersebut. Pemandangan luar biasa indah radius 360 derajat, membuat saya takjub dan tak bisa berkata-kata. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena dua kali berkunjung ke Danau Kelimutu, saya bisa melihat ketiga danau secara utuh tanpa terhalang kabut. Menurut Pak Johanes, penjual kopi di Danau Kelimutu, di musim hujan seperti sekarang ini cuaca di Puncak Gunung Kelimutu sering mendung dan berkabut sehingga sulit untuk menyaksikan ketiga danau dengan sempurna. Pernah ada seorang turis dari Perancis, yang selama tiga hari berturut-turut mengunjungi Danau Kelimutu tapi tak bisa menyaksikan tiga danau kawah secara utuh. Mendengar cerita Pak Johanes, saya benar-benar merasa beruntung bisa menyaksikan panorama matahari terbit di atas Danau Kelimutu dan bisa menyaksikan tiga danau kawah secara utuh tanpa terhalang kabut.

Matahari terbit di Puncak Gunung Kelimutu

Sejarah Kelimutu
Kelimutu merupakan gabungan dari kata “keli” yang berarti gunung, dan “mutu” yang berarti mendidih. Danau Kelimutu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Keindahan Danau Kelimutu semakin dikenal masyarakat dunia setelah Y. Bouman, seorang turis dari Eropa, menulis artikel tentang Danau Kelimutu pada tahun 1929. Sejak saat itu, mulai banyak turis asing dan peneliti yang berdatangan ke Danau Kelimutu.

Danau Kelimutu berada di puncak Gunung Berapi Kelimutu yang memiliki katinggian 1.690 meter di atas permukaan laut. Danau kawah ini dianggap ajaib dan misterius, karena warna air di ketiga danau selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu. Uniknya lagi, warna air di tiga danau tersebut selalu berbeda (jarang warnanya sama) pada waktu yang bersamaan. Karena keunikannya yang tidak bisa ditemui di tempat lain, Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi TamanNasional sejak tanggal 26 Februari 1992. Keindahan Danau Kelimutu juga pernah diabadikan dalam uang kertas pecahan lima ribu rupiah, yang terbit tahun 1992 dengan warna danau merah (Tiwu Ata Polo), hijau toska (Tiwu Nua Muri Koo Fai), dan hitam (Tiwu Ata Mbupu).

Masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Kelimutu percaya bahwa seseorang yang meninggal dunia arwah/jiwanya akan meninggalkan kampung halamannya dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau/kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Selanjutnya, arwah tersebut masuk ke dalam salah satu danau/kawah yang ada tergantung usia dan perbuatannya. Tiwu Ata Polo merupakan tempat berkumpulnya arwah orang jahat (tukang tenung), Tiwu Nua Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya arwah muda-mudi, dan Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya arwah orang tua.

Perubahan Warna Danau Kelimutu
Meski banyak ahli yang sudah melakukan penelitian, sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebab perubahan warna Danau Kelimutu. Sejumlah kalangan menduga, perubahan warna air di Danau Kelimutu disebabkan oleh tekanan gas aktivitas vulkanik, pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, kandungan zat kimia terlarut (garam, besi, sulfat dan mineral lain), serta pantulan warna dinding dan dasar danau. Selain itu, aktivitas kegempaan juga dapat mengubah warna kawah danau. Sebagai contoh : meningkatnya kandungan besi (Fe) dalam air kawah menyebabkan warna danau merah kehitaman, sedangkan warna hijau lumut dimungkinkan karena adanya biota jenis lumut tertentu.

Tiwu Nua Muri Koo Fai, saat ini berwarna hijau toska

Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warni Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Mereka percaya bahwa perubahan warna pada ketiga Danau Kelimutu merupakan isyarat/pertanda akan terjadinya suatu peristiwa/bencana alam di negeri ini, seperti : gunung meletus, tanah longsor, kekeringan atau bencana alam lainnya. Mereka sudah hafal arti warna yang ditunjukkan oleh Danau Kelimutu. Misalnya : bila air Danau Tiwu Ata Polo berwana hijau lumut berarti akan ada warga sekitar yang meninggal dunia.

Tiwu Ata Polo, saat ini berwarna hijau kebiruan

Saat ini ketiga Danau Kelimutu meiliki warna yang berbeda, yaitu : Tiwu Ata Polo berwarna hijau kebiruan, Tiwu Nua Muri Koo Fai (yang paling besar) berwarna hijau toska, dan Tiwu Ata Mbupu (yang paling kecil dan letaknya terpisah jauh) berwarna hitam pekat. Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Mbupu warnanya relatif stabil yaitu hijau toska dan hitam pekat. Sedangkan Tiwu Ata Polo paling cepat berubah. Menurut informasi penduduk setempat, selama tahun 2010 ini sudah terjadi tiga kali perubahan warna di Danau Tiwu Ata Polo, dari coklat tua, hijau lumut, dan hijau tua. Pada tahun 2006, saat saya pertama kali berkunjung ke Danau Kelimutu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna coklat tua.

Tiwu Ata Mbupu, saat ini berwarna hitam

Dinding Pemisah Danau Kelimutu
Danau Kelimutu terdiri dari tiga buah danau dengan bentuk, ukuran dan warna yang tidak sama. Ketiga danau tersebut adalah Tiwu Ata Polo (letaknya paling kanan), Tiwu Nua Muri Koo Fai (letaknya di tengah dan paling besar), dan Tiwu Ata Mbupu (letaknya terpisah jauh/paling kiri dan paling kecil). Dari tiga danau kawah tersebut, dua danau (Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo) letaknya berdekatan, sedangkan danau satunya lagi (Tiwu Ata Mbupu) letaknya terpisah jauh. Antara Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo dipisahkan oleh dinding pemisah yang sangat sempit. Dari sudut pandang geologi, dinding danau merupakan bagian yang paling labil. Dulunya dinding pemisah tersebut cukup lebar dan bisa dilewati orang. Sekarang, dinding pemisah tersebut sangat tipis/sempit dan tidak bisa dilewati orang. Dengan posisi berdekatan, tidak menutup kemungkinan kedua danau ini akan menyatu bila terjadi gempa bumi dengan skala besar.

Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo letaknya berdekatan dan
hanya dipisahkan oleh dinding pemisah yang sempit


Arboretum

Selain keindahan danau kawah, daya tarik Kelimutu adalah arboretum, hutan mini seluas 4,5 hektar, tempat tumbuhnya berbagai jenis pohon yang mewakili potensi biodiversitas Taman Nasional Kelimutu. Di sana terdapat aneka flora yang jumlahnya sekitar 78 jenis pohon. Di antara flora itu ada yang endemik Kelimutu, yakni uta onga (Begonia kelimutuensis) dan turuwara (Rhododendron renschianum).

Tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Kelimutu antara lain : kayu mata (Albizia montana), kebu (Homalanthus giganteus), tokotaka (Putranjiva roxburghii), uwi rora (Ardisia humilis), longgo baja (Drypetes subcubica), toko keo (Cyrtandra sp.), kayu deo (Trema cannabina), dan kelo (Ficus villosa).

Taman Nasional Kelimutu merupakan habitat sekitar 19 jenis burung yang terancam punah, di antaranya : Punai Flores (Treron floris), Burung Hantu Wallacea (Otus silvicola), sikatan rimba-ayun (Rhinomyias oscillans), Kancilan Flores (Pachycephala nudigula), sepah kerdil (Pericrocotus lansbergei), Tesia Timor (Tesia everetti), opior jambul (Lophozosterops dohertyi), opior paruh tebal (Heleia crassirostris), cabai emas (Dicaeum annae), Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), burung madu matari (Nectarinia solaris), dan Elang Flores (Spizaetus floris).

Taman Nasional Kelimutu memiliki empat jenis mamalia endemik, yang sering dijumpai adalah dua tikus gunung, Bunomys naso dan Rattus hainaldi. Di Taman Nasional Kelimutu juga dapat dijumpai beberapa satwa seperti : banteng (Bos javanicus), kijang (Muntiacus muntjak), luwak (Pardofelis marmorata), trenggiling (Manis javanica), landak (Hystrix brachyura), dan kancil (Tragulu sjavanicus).

Getting There
Untuk mencapai Danau Kelimutu, Anda harus terbang menuju Denpasar atau Kupang. Dari Denpasar/Kupang, lanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju kota terdekat dengan Danau Kelimutu, yaitu Ende atau Maumere di Pulau Flores. Harap Anda perhatikan bahwa pesawat dari Denpasar/Kupang ke Ende/Maumere tidak tersedia tiap hari, tetapi hanya beberapa kali seminggu. Untuk memastikan jadwalnya, coba cek situs maskapai yang melayani penerbangan ke dua kota tersebut, yaitu Lion Air (www.lionair.co.id), Merpati Air (www.merpati.co.id), dan Trans Nusa (www.transnusa.co.id). Dari Ende atau Maumere, Anda tinggal melanjutkan perjalanan darat baik dengan kendaraan umum maupun menyewa mobil menuju Kampung Moni (Desa Koanara), desa terdekat dengan Danau Kelimutu. Dari Ende ke Moni jaraknya sekitar 60 km atau sekitar 90 menit berkendara sedangkan dari Maumere jaraknya sekitar 80 km atau sekitar tiga jam berkendara. Dari Moni ke Danau Kelimutu. Anda bisa naik ojek atau menyewa mobil. Jarak dari Moni ke Danau Kelimutu sekitar 13 km atau 30 menit berkendara.

Tips Berkunjung ke Danau Kelimutu
• Waktu terbaik untuk mengunjungi Danau Kelimutu adalah pada musim kemarau (April - September), di mana langit cerah dan tidak ada kabut. Pada musim hujan, cuaca di sekitar Danau Kelimutu sering berkabut sehingga susah untuk melihat ketiga danau secara utuh.
• Saat terbaik untuk menyaksikan keindahan Danau Kelimutu adalah di pagi hari antara pukul 06.00 -09.00 WITA. Lewat pukul 09.00 WITA, Danau Kelimutu biasanya sudah diselimuti kabut sehingga susah untuk melihat panorama ketiga danau secara utuh.
• Untuk bisa menyaksikan matahari terbit (sunrise) di puncak Gunung Kelimutu, sebaiknya Anda menginap di Moni. Di Moni terdapat sejumlah hotel atau home stay sederhana dengan harga terjangkau. Dari Moni, sebaiknya Anda berangkat sekitar pukul 04.00 WITA, sehingga pukul 05.00 WITA Anda sudah sampai di puncak Gunung Kelimutu.
• Jangan lupa untuk membawa jaket tebal, syal, kaos kaki, dan sarung tangan karena udara di sekitar Moni dan Danau Kelimutu sangat dingin, terutama di pagi dan malam hari! (edyra)***

*Dimuat di Majalah SEKAR No. 48, Januari 2011
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

TAMAN LAUT 17 PULAU RIUNG, SURGA BAWAH LAUT YANG BELUM TERJAMAH

Bermain-main di Pantai Rutong yang berpasir putih dan lembut

Perahu motor telah menunggu saya dan teman (Ahmad) di ujung Dermaga Riung, Desa Nangamese, pagi itu. Pak Burhanudin, sang nahkoda perahu yang telah kami booking kemarin sore, tersenyum manis menyambut kedatangan kami. Setelah membeli tiket masuk Taman Laut 17 Pulau Riung seharga Rp 2.000,00 per orang dan Rp 10.000,00 untuk perahu (total Rp 14.000,00), kami segera naik ke atas perahu. Kami sudah tidak sabar untuk segera memulai petualangan di Taman Laut 17 Pulau Riung karena sudah lama saya memimpikan petualangan ini.

Dermaga Riung dan Pulau Patta yang nampak di sebelah kanan

Dari Dermaga Riung, terlihat beberapa pulau kecil yang seolah melambai-lambai, mengundang kami untuk singgah. Wah, tentunya menarik sekali kalau bisa mengunjungi semua pulau di Taman Laut 17 Pulau Riung! Namun,sepertinya kami tidak bisa mengunjungi semua pulau yang ada di taman laut tersebut karena keterbatasan waktu. Rencananya, dalam waktu setengah hari (sekitar lima jam), kami akan mengunjungi empat pulau dari sekitar 30-an pulau yang ada di Taman Laut 17 Pulau Riung. Meski namanya Taman Laut 17 Pulau Riung, jumlah pulau di kawasan taman laut ini lebih dari 17 pulau. “Jumlah semua pulau di Riung ada 30-an lebih, mas,” kata Pak Burhanudin. Angka 17 sengaja dipilih untuk nama taman laut ini karena alasan patriotisme, sesuai dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Pulau-pulau kecil di Taman Laut 17 Pulau Riung

Taman Laut 17 Pulau Riung merupakan gugusan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau karang yang terletak di sebelah utara Pulau Flores, tepatnya di Teluk Riung yang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Taman laut ini terhampar memanjang dari Tanjung Toro Padang di sebelah barat sampai dengan Pulau Pangsar di sebelah timur. Pulau-pulau di Taman Laut 17 Pulau Riung beraneka ragam bentuk dan ukurannya, dengan pulau terbesar adalah Pulau Ontoloe (Pulau Kelelawar). Selain Pulau Ontoloe ada Pulau Patta, Pulau Pau, Pulau Borong, Pulau Dua, Pulau Kolong, Pulau Lainjawa, Pulau Besar, Pulau Halima (Pulau Nani), Pulau Rutong, Pulau Meja, Pulau Bampa (Pulau Tampa atau Pulau Tembang), Pulau Tiga (Pulau Panjang), Pulau Tembaga, Pulau Taor, Pulau Sui, dan Pulau Wire. Seluruh pulau tersebut tidak berpenghuni. Pulau Patta yang letaknya paling dekat dengan Dermaga Riung, dulu pernah dihuni oleh Suku Bugis dan Bajo. Namun, sejak tahun 1976, semua penghuni Pulau Patta dipindahkan ke daratan Pulau Flores (sekitar Teluk Riung) oleh pemerintah. Karena keunikannya, oleh Departemen Kehutanan, kepulauan yang terletak di Pantai Utara Flores itu ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam dengan nama Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung, yang terdiri dari darat dan laut. Luas taman wisata alam daratan (kawasan konservasi) adalah 19.100 hektar, dan kawasan konservasi taman lautnya 9.900 hektar. Kawasan ini berada sekitar 75 Km sebelah utara Kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Walaupun nama resminya Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung, para turis lebih senang menyebutnya Taman Laut 17 Pulau Riung atau Riung, Seventeen Islands Marine Park.

Pulau Ontoloe (Pulau Kelelawar)
Petualangan di Taman Laut 17 Pulau Riung kami awali di Pulau Ontoloe. Perjalanan dari Dermaga Riung menuju Pulau Ontoloe hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit. Pulau Ontoloe yang berbukit-bukit dan dikelilingi hutan bakau (mangrove), merupakan pulau terbesar di kawasan Taman Laut 17 Pulau Riung. Walaupun tidak memiliki terumbu karang yang berarti, pulau ini memiliki pesona tersendiri yang tidak dimiliki oleh pulau-pulau lainnya di Taman Laut 17 Pulau Riung. Hutan bakau di Pulau Ontoloe telah lama menjadi rumah dari ribuan kelalawar, elang laut, dan monyet. Karena itulah Pulau Ontoloe disebut juga Pulau Kelelawar atau Pulau Kalong. Ketika senja tiba, rombongan kelalawar terbang meninggalkan Pulau Ontoloe untuk mencari makan di berbagai tempat di Pulau Flores. Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, mereka kembali ke sarangnya di pucuk-pucuk pohon mangrove dan digantikan oleh elang laut yang berburu di Teluk Riung dan Pantai Utara Flores. Sementara itu, monyet-monyet mencari makan di Pulau Ontoloe dan juga berenang ke Pulau Flores.

Kelelawar beterbangan di atas Pulau Ontoloe

Dari kejauhan sudah terlihat ribuan titik hitam di atas Pulau Ontoloe. “Itu kelelawarnya, mas,” kata Pak Burhanudin sambil menunjuk ke tititk-titik hitam tersebut. Semakin mendekati pulau, titik-titik hitam itu semakin jelas dan berubah menjadi pemandangan yang luar biasa. Rupanya, titik-titik hitam tersebut adalah kelelawar penghuni Pulau Ontoloe. Kami terkesima melihat ribuan kelelawar beterbangan di atas hutan mangrove Pulau Ontoloe. Pagi itu, langit biru tanpa awan di atas Pulau Ontoloe berubah menjadi meriah dipenuhi ribuan kelelawar yang beterbangan ke segala arah. Mereka menyambut kedatangan kami dengan ramah. Mereka beterbangan di atas kami dan sepertinya tidak terganggu dengan kehadiran kami. Hampir lima belas menit kelelawar itu beterbangan kesana-kemari, sebelum akhirnya menggantung lagi di dahan pohon mangrove untuk beristirahat. Senang rasanya, pagi-pagi sudah disuguhi atraksi alam yang sangat memukau.

Pulau Rutong
Setelah puas menyaksikan atraksi kelelawar, kami segera meninggalkan Pulau Ontoloe. Perahu yang kami tumpangi bergerak perlahan membelah Laut Flores yang cukup tenang. Angin laut juga tak bertiup kencang. Sepertinya alam Flores benar-benar bersahabat dengan kami pagi itu. Pak Burhanudin mengarahkan haluan ke sebuah pulau yang dari kejauhan nampak berpasir putih. Pulau Rutong, itulah tujuan kami selanjutnya. Mendekati Pulau Rutong, air laut berubah menjadi sangat bening sehingga pemandangan di bawahnya terlihat begitu jelas. Nampak berbagai jenis terumbu karang dan ikan-ikan cantik aneka warna. “Di sini mas, tempat snorkelingnya,” ujar Pak Burhanudin mengagetkan saya yang sedang terkagum-kagum menikmati panorama bawah laut Pulau Rutong dari atas perahu. Segera saja saya mengenakan masker dan snorkel, lalu nyebur ke laut. Dan benar saja, begitu saya nyebur ke laut, panorama luar biasa indah terhampar di depan mata saya. Terumbu karang aneka warna, mulai dari hijau, biru, ungu, coklat, krem sampai pink semuanya ada di sekitar saya. Ikannya pun sangat banyak dan beraneka ragam. Beberapa ikan berwarna biru menyala berenang berseliweran di sekitar saya. Saya benar-benar takjub dan tak mampu berkata-kata menyaksikan keajaiban panorama bawah laut Pulau Rutong. Saya seperti berada di aquarium raksasa bersaman makhluk-makhluk cantik aneka bentuk dan warna. Tidak salah memang, kalau Pulau Rutong dianggap sebagai salah satu surga bawah laut terindah di Indonesia. Sayangnya saya tidak membawa camera underwater. Jadi, saya tidak bisa mengabadikan keindahan bawah laut Taman Laut 17 Pulau Riung.

Pantai Rutong yang berpasir putih, dengan air laut berwarna hijau toska

Selesai snorkeling, saya kembali naik perahu. Kali ini perahu bergerak menuju daratan Pulau Rutong. Begitu perahu mendekati bibir Pantai Rutong yang berpasir putih, Pak Burhanudin segera membuang sauh, dan kami pun langsung meloncat ke daratan Pulau Rutong. Saat itu, kami melihat beberapa perahu telah tertambat di bibir Pantai Rutong. Rupanya, cukup banyak turis yang berkunjung ke Pulau Rutong saat itu. Selain turis lokal, saya juga melihat beberapa rombongan turis asing.

Berada di daratan Pulau Rutong, lagi-lagi saya terkesima dengan pemandangan di depan mata saya. Pantai berpasir putih selembut tepung, air laut sebening kristal berwarna hijaui toska, dan langit biru tanpa awan ada di sekitar saya. Panorama alam yang benar-benar menyejukkan mata dan batin saya. Saya dan Ahmad berlarian di pasir putih seperti anak kecil yang kegirangan. Kami segera jalan-jalan keliling Pulau Rutong dan memotret tiap sudut pulaunya yang eksotis.

Bermain bersama bintang laut yang banyak terdapat di Pantai Rutong

Saat berjalan di bibir pantai yang ramai dengan turis, langkah saya terhenti sejenak. Saya melihat banyak bintang laut berwarna coklat (Protoreaster nodosus) di pinggir pantai. Rupanya laut di sekitar Pulau Rutong yang bersih dan bening merupakan habitat berbagai jenis bintang laut. Saya segera bermain-main dengan makhluk cantik tersebut. Melihat saya begitu terpesona menyaksikan bintang laut, seorang anak kecil dengan semangat mengumpulkan bintang laut untuk saya. Dia bolak-balik ke laut untuk mengambil bintang laut. Alhasil, bintang laut yang terkumpul pun semakin banyak. Saya pun memotret makhluk-makhluk cantik nan lucu tersebut. Dan tentunya, kami tak melewatkan acara foto bersama bintang laut tersebut. Para pengunjung pulau pun ikut berfoto dengan bintang laut bersama kami.

Pulau Meja dan Pulau Rutong

Pulau Meja

Pulau Meja berdekatan dengan Pulau Rutong. Kami tidak menginjakkan kaki di daratan pulau mungil ini, tetapi hanya berenang-renang di perairan sekitarnya. Dari kejauhan tampak pasir putih yang berkilauan tertimpa sinar matahari di sekeliling Pulau Meja. Perairan di sekitar pulau ini juga sangat bersih dan jernih. Apalagi pulau ini juga jarang dikunjungi turis. Pulau ini merupakan salah satu surga bawah laut terindah di Taman Laut 17 Pulau Riung, dengan aneka ragam terumbu karang dan ikan hias. Terumbu karang yang paling banyak di sekitar Pulau Meja adalah jenis karang meja (acropora). Saat saya snorkeling, sejauh mata memandang, karang meja terhampar di hadapan saya. Di sela-sela karang tersebut ada karang lunak (soft coral), kipas laut (sea fan) dan berbagai jenis karang lainnya yang memancarkan warna-warni sangat indah. Nafas saya seperti terhenti menyaksikan panorama bawah laut Pulau Meja yang begitu menakjubkan. Baru kali ini saya melihat hamparan karang meja yang begitu luas. Mungkin karena itulah pulau ini dinamakan Pulau Meja selain bentuknya yang memang mirip meja bila dilihat dari jauh.

Pulau Tiga
Selanjutnya kami beranjak menuju Pulau Tiga. Dinamakan Pulau Tiga karena di pulau ini terdapat tiga gundukan bukit kecil dengan ketinggian yang tidak sama. Kami tiba di pulau ini menjelang tengah hari, sehingga cuaca sangat panas dan menyengat. Kami beristirahat sejenak di pinggir pantai yang teduh sambil menikmati makanan ringan yang kami bawa. Seperti pulau-pulau lainnya di Taman Laut 17 Pulau Riung, Pulau Tiga juga berpasir putih bersih dan lembut. Air lautnya tak kalah bening dengan pulau-pulau lainnya, sehingga membuat saya tergoda untuk bersnorkeling lagi. Segera saya kenakan masker dan snorkel, lalu nyebur ke dalam hijaunya laut Pulau Tiga. Berbagai binatang laut cantik pun berseliweran di dekat saya. Saya juga melihat banyak bintang laut berwarna biru (Linckia laevigata) dan bintang laut berwarna coklat seperti yang saya temui sebelumnya di Pulau Rutong. Sayangnya, terumbu karang di sekitar Pulau Tiga tidak sebanyak terumbu karang di pulau-pulau lainnya. Banyak terumbu karang yang rusak dan mati karena ulah para nelayan yang tidak bertanggung jawab.

Pulau Tiga yang mempesona

Baru beberapa saat snorkeling, tiba-tiba Ahmad memanggil saya dan meminta saya untuk berhenti snorkeling. Dia mengingatkan bahwa kami harus segera meninggalkan Pulau Tiga karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 lebih dan air laut sudah mulai naik. Dengan berat hati saya pun menepi ke pinggir pantai.

Sebenarnya saya belum puas menjelajahi Taman Laut 17 Pulau Riung. Masih banyak pulau-pulau menarik lainnya yang ingin saya kunjungi. Antara lain : Pulau Batang Kolong dan Pulau Bampa, habitat mawar laut yang berwarna merah, Pulau Sui yang terkenal dengan tebing dan jurang bawah lautnya yang menawan, serta Tanjung Toro Padang habitat Biawak Riung (Varanus riungensis), yang oleh warga setempat disebut “Mbou.” Sayang, waktu yang kami miliki sangat terbatas sehingga kami hanya bisa menjelajah empat pulau di Taman Laut 17 Pulau Riung. Ketika perahu bergerak meninggalkan Pulau Tiga, dalam hati saya berjanji, suatu hari nanti saya akan kembali ke Riung untuk menjelajahi semua pulau di Taman Laut 17 Pulau Riung.

Getting There
Untuk mencapai Taman Laut 17 Pulau Riung, Anda harus terbang menuju Denpasar atau Kupang. Dari Denpasar/Kupang, lanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju kota terdekat dengan Taman Laut 17 Pulau Riung, yaitu Bajawa atau Ende. Harap Anda perhatikan bahwa pesawat dari Denpasar/Kupang ke Bajawa/Ende tidak tersedia tiap hari, melainkan hanya beberapa kali seminggu. Untuk memastikan jadwalnya, coba hubungi maskapai yang melayani penerbangan ke dua kota tersebut, yaitu Lion Air (www.lionair.co.id), Merpati Air (www.merpati.co.id) dan Trans Nusa (www.transnusa.co.id). Dari Bajawa atau Ende, Anda tinggal melanjutkan perjalanan darat baik dengan kendaraan umum maupun menyewa mobil. Dari Bajawa ke Riung jaraknya sekitar 95 km atau sekitar tiga jam berkendara sedangkan dari Ende sekitar empat jam berkendara. Kendaraan umum dari Bajawa ke Riung hanya tersedia sekali sehari, di pagi hari sedangkan dari Ende tidak ada kendaraan umum yang langsung ke Riung. Jadi, sebaiknya Anda menyewa mobil dari Bajawa atau Ende agar lebih nyaman dan hemat waktu.

Getting Around
Untuk mengunjungi pulau-pulau di Taman Laut 17 Pulau Riung, Anda harus menyewa perahu dari nelayan setempat. Besarnya biaya sewa perahu tergantung dari berapa pulau yang ingin Anda kunjungi dan berapa lama kunjungan Anda. Untuk berkeliling Taman Laut 17 Pulau Riung selama lima sampai enam jam, biaya sewa perahu sekitar Rp 250.000,00 - Rp 400.000,00 tergantung kepiawaian Anda menawar. Pastikan Anda mendapatklan perahu sehari sebelum keberangkatan, mengingat waktu terbaik untuk menjelajahi Taman Laut 17 Pulau Riung adalah sekitar jam 06.00 pagi.

Where to Stay
Karena semakin banyak turis yang berkunjung ke Taman Laut 17 Pulau Riung, saat ini di Riung sudah tersedia hotel dan homestay walaupun sangat sederhana. Semua hotel dan bangunan di Riung, seperti bangunan lainnya di Pulau Flores, beratapkan seng. Sebagian besar hotel di Riung tanpa dilengkapi kipas angin atau pendingin ruangan karena listrik di sana hanya menyala di malam hari, dari pukul 18.00 - 06.00 WITA. Berikut ini tiga hotel terbaik di Riung yang memiliki fasilitas kipas angin dan pendingin ruangan.

Hotel Bintang Wisata
Jl. Taman Wisata Alam (TWA) 17 Pulau, Desa Nangamese, Riung.

Nirvana Bungalow
Jl. Taman Wisata Alam (TWA) 17 Pulau, Desa Nangamese, Riung.

Pondok SVD
Jl. Taman Wisata Alam (TWA) 17 Pulau, Desa Nangamese, Riung.

Tips Berkunjung ke Taman Laut 17 Pulau Riung
• Anda bisa mengunjungi Taman Laut 17 Pulau Riung kapanpun Anda mau, tetapi waktu terbaik untuk berkunjung ke Taman Laut 17 Pulau Riung adalah pada saat musim kemarau (April - Oktober), di mana saat itu laut tenang dan tidak ada ombak.
• Cara terbaik untuk menikmati keindahan Taman Laut 17 Pulau Riung adalah dengan snorkeling dan menyelam (diving). Beberapa hotel di Riung menyediakan peralatan snorkeling yang bisa Anda sewa, namun sampai saat ini belum ada hotel atau tempat lain yang menyediakan penyewaan peralatan menyelam. Jadi, Anda harus membawa peralatan menyelam sendiri bila ingin menyelam di Taman Laut 17 Pulau Riung.
• Ketika berkunjung ke Riung, siapkan busana yang tipis dan bisa menyerap keringat (berbahan katun) karena suhu udara di Riung sangat panas dan semua hotel di sana beratapkan seng sehingga membuat suhu udara semakin panas.
• Jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman secukupnya. Di Riung belum tersedia restoran atau kafe yang layak untuk turis kecuali di hotel yang bagus. Di Riung hanya ada beberapa warung makan sederhana dengan pilihan menu yang terbatas.
• Listrik di Riung hanya dinyalakan pada pukul 18.00 - 06.00 WITA. Jadi, jangan lupa untuk mengisi ulang (charge) baterai ponsel dan kamera Anda pada jam-jam tersebut.
• Bagi Anda pengguna Telkomsel, Anda masih bisa menggunakan telepon seluler di Riung. Namun, bagi pengguna provider telepon seluler lainnya, tidak ada sinyal sama sekali. (edyra)***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

KETIKA KABUT MENYAPA DI SAPA

Di Desa Cat Cat yang dingin dan berkabut

Kabut tipis dan udara dingin menusuk tulang menyambut kedatangan saya dan teman saya (Imel), di Sapa, Vietnam pagi itu. Di Bulan Januari, kota kecil di Vietnam Utara itu memang sedang memasuki musim dingin. Tidak mengherankan kalau udara sangat dingin menggigit, karena suhu udara di pagi hari hanya berkisar 8-12 derajat Celcius. Suhu yang sangat dingin bagi kami yang terbiasa tinggal di daerah tropis yang panas. Kami tiba di Sapa, setelah menempuh perjalanan panjang yang cukup melelahkan dari Hanoi, yaitu naik kereta api selama sekitar delapan jam dan dilanjutkan dengan naik van selama satu jam.

Kota Berselimut Kabut
Sapa merupakan sebuah kota kecil yang terletak di barat daya Vietnam, tepatnya di Provinsi Lao Cai. Jaraknya sekitar 350 km dari Hanoi atau sekitar 8 - 9 jam perjalanan naik kereta api. Kota ini berhawa sejuk dengan suhu udara rata-rata harian hanya berkisar 15 - 18 derajat Celcius dan hampir selalu diselimuti kabut, karena terletak di lereng Gunung Fansipan yang memiliki ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. (Puncak Gunung Fansipan 3.143 meter di atas permukaan laut). Pada musim dingin, sekitar Bulan Desember - Februari, suhu udara sangat dingin, hanya berkisar 8 - 12 derajat Celcius sehingga bisa dipastikan kabut pun selalu menyelimuti kota ini. Karena cuacanya yang sering berubah-ubah,Sapa dikenal sebagai kota dengan empat musim dalam sehari, yaitu musim semi di pagi hari, musim panas di siang hari, musim gugur di sore hari dan musim dingin di malam hari. Bagi kami yang berasal dari daerah tropis, suhu udara di Sapa terasa sangat dingin sehingga memaksa kami untuk selalu mengenakan jaket tebal, syal, kaos kaki, dan kaos tangan.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Sapa adalah Bulan April - Mei, ketika Sapa memasuki musim semi di mana cuaca cukup hangat dan bunga-bunga mulai bermekaran. Di awal tahun (Januari - Maret), cuaca sangat dingin dan berkabut karena Sapa sedang memasuki musim dingin. Bulan Juni - September, Sapa memasuki musim panas, namun hujan sering turun sehingga tidak nyaman untuk jalan-jalan.

Tempat Kediaman Etnis Minoritas
Sapa merupakan kota kecil di lereng Gunung Fansipan, tempat kediaman berbagai etnis minoritas. Setidaknya, terdapat lima suku/etnis minorotas yang tinggal di kaki gunung (lembah) di sekitar Sapa, yaitu : Etnis Hmong (52 %), Dao (25 %), Tay (5 %), Giay (2 %), dan sebagian kecil Xa Pho. Kelima etnis minorotas tersebut tinggal menyebar di berbagai desa di sekitar Sapa, dengan gaya hidup yang masih tradisional. Keunikan etnis-etnis tersebut adalah busana dan aksesoris yang biasa mereka pakai dalam kehidupan sehari-hari. Etnis-etnis tersebut (khususnya kaum wanita), selalu mengenakan busana dan aksesoris meriah dan berwarna-warni. Bagi kaum wanita dari Etnis Hmong dan Dao, pakaian selain sebagai penanda identitas juga menjadi simbol penting dalam relasi sosial. Keunikan busana dan aksesoris berbagai etnis minoritas di Sapa, mengundang para turis dan fotografer dari berbagai penjuru dunia untuk mengunjungi Sapa.

Trekking ke Desa Cat Cat
Selain menyaksikan keunikan kehidupan etnis minoritas, di Sapa Anda juga bisa menyaksikan panorama alam yang indah, berupa gunung, lembah, dan sawah terasering yang menghampar luas. Cara paling asyik untuk bisa menikmati keindahan Sapa adalah dengan trekking menyusuri desa-desa tempat kediaman berbagai etnis minoritas tersebut.

Selama dua hari berada di Sapa, aktivitas yang saya dan Imel lakukan adalah trekking. Karena sudah termasuk dalam paket tur, kami tidak perlu susah-susah lagi menentukan jalur trekking dan mencari pemandu trekking (tour guide). Di hari pertama, tujuan trekking kami adalah mengunjungi Desa Cat Cat dan Air Terjun Cat Cat. Jalur trekking ini panjangnya sekitar 6 km (pergi pulang) atau sekitar 3 jam perjalanan. Rombongan trekking kami terdiri dari delapan orang, yaitu : saya, Imel, dua orang turis Jerman, sepasang turis Swiss yang sudah paruh baya, dan sepasang kekasih dari Amerika Serikat. Selama trekking, kami ditemani pemandu tur, perempuan Sapa dari Etnis Black Hmong, yang sedang hamil anak pertamanya. (Maaf, saya lupa namanya karena rada susah).

Desa Cat Cat merupakan tempat kediaman Etnis Hmong Hitam (Black Hmong) yang masih tradisional. Cara berpakaian etnis ini sangat unik, yaitu pakaian yang berwarna-warni meriah. Etnis ini bertubuh kecil dan pendek. Cara hidup mereka masih sangat tradisional, yaitu dengan bertani dan membuat kerajinan tangan berupa baju, tas, scarf, topi, kalung/gelang manik-manik, dan lain-lain. Berbagai kerajinan tangan tersebut dijual kepada turis yang berkunjung Desa Cat Cat. Mereka juga beternak ayam, sapi atau babi. Rumah mereka terbuat dari anyaman bambu, beratap ilalang/rumbia dan berlantai tanah.

Air Terjun Cat Cat

Di Desa Cat Cat terdapat sebuah air terjun yang indah, yaitu Air Terjun Cat Cat. Untuk menuju air terjun ini Anda harus trekking menuruni anak tangga yang curam dan menyeberangi jembatan gantung kecil (Si Bridge). Air terjun ini merupakan ikonnya Desa Cat Cat, sekaligus titik akhir trekking ke Desa Cat Cat. Di dekat air terjun ini terdapat warung-warung sederhana yang menjual makanan dan minuman ringan. Biasanya para turis berhenti di air terjun ini untuk foto-foto dan istirahat sebelum kembali ke Sapa.

Untuk kembali ke Sapa, jalur yang harus Anda lewati adalah jalur mendaki yang cukup terjal dan berkelok-kelok. Kalau Anda masih kuat berjalan, Anda bisa berjalan kaki kembali ke hotel. Namun, bila Anda sudah kecapekan, Anda bisa naik ojek yang banyak terdapat di dekat Air Terjun Cat Cat. Sebenarnya kami ingin berjalan kakii kembali ke hotel di pusat Kota Sapa. Berhubung kami sudah kecapekan karena tadi pagi baru sampai di Sapa dan langsung trekking naik turun gunung, kami memilih untuk naik ojek. Tarif ojek dari Cat Cat ke Sapa sekitar VND 20.000,00 (sekitar Rp 10.000,00), tergantung kepiawaian Anda menawar. Anda harus menawar terlebih dahulu sebelum menaiki ojek, karena mereka biasanya akan meminta ongkos yang mahal kepada Anda bila tidak menawarnya terlebih dahulu.

Trekking ke Desa Lao Chai dan Desa Ta Van
Hari kedua di Sapa, aktivitas kami juga trekking. Kali ini tujuan trekking kami adalah mengunjungi Desa Lao Chai dan Ta Van. Jalur trekking ini cukup jauh, sekitar 9 km (Sapa - Lao Chai : 6 km, Lao Chai - Ta Van : 3 km) sehingga kami harus menyiapakan energi dan stamina yang prima. Makanya sebelum trekking, kami mengisi perut sampai kenyang di hotel.

Sawah terasering yang indah di Desa Lao Chai

Kami mulai trekking sekitar jam 09.00 waktu setempat. Trekking kali ini, kami juga ditemani pemandu kami yang kemarin, dan beberapa perempuan Sapa dari Etnis Black Hmong. Di awal perjalanan, rute yang kami lewati masih nyaman, yaitu jalan beraspal yang menurun. Namun, setelah berjalan sekitar 2 km, trekking yang sebenarnya baru dimulai. Kami harus berjalan menyusuri jalan tanah yang naik turun dengan kondisi jalan becek dan licin. Untungnya pemandangan di sepanjang jalan kami lewati sangat indah. Sawah terasering (yang saat itu sedang tidak ada padinya) terhampar di kiri kanan jalan. Pemandangan semakin memukau ketika mendekati Desa Lao Chai (Ingat Lao Chai berbeda dengan Lao Cai!) Sawah terasering dengan dibelah sungai yang meliuk-liuk seperti ular terhampar luas di depan mata kami. Kabut tipis yang menyelimuti sawah tersebut semakin menambah eksotis panorama. Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan panorama alam yang menakjubkan tersebut. Segera saya keluarkan kamera, untuk mengabadikan lukisan alam yang sangat indah tersebut. Saya dan Imel juga menyempatkan diri berfoto bersama beberapa perempuan Black Hmong yang mengenakan busana dan aksesoris warna-warni.

Berfoto bersama Etnis Black Hmong di Desa Lao Chai

Tengah hari kami tiba di Desa Lao Chai. Desa ini merupakan tempat kediaman Etnis Black Hmong dan Etnis Giay. Kami berhenti untuk makan siang di sebuah restoran di pinggir sungai. Namun, sebelum kami masuk ke restoran, kami dihadang sekelompok perempuan Black Hmong yang menjajakan souvenir dengan sedikit memaksa. Perempuan Black Hmong yang dari tadi menemani perjalanan kami juga memaksa kami untuk membeli souvenir darinya. Dengan tegas saya menolak mereka, karena saya tahu harga barang yang mereka jual kepada kami pasti sangat mahal. Menurut informasi dari internet dan travel agency di Hanoi, tempat murah untuk membeli souvenir khas Sapa adalah di Pasar Sapa. Namun, saat itu Imel jadi korban pemaksaan para perempuan Black Hmong tersebut. Karena dikerubutin begitu banyak perempuan Black Hmong yang menjual barang dengan memaksa, akhirnya Imel membeli beberapa souvenir dari mereka.

Lepas dari gerombolan perempuan Black Hmong, kami segera masuk ke restoran di pinggir sungai untuk makan siang. Menu makan kami adalah sandwich baguette (roti khas Perancis) dengan isi sosis, keju, dan selada. Dessert-nya berupa yoghurt, apel, dan pisang. Lumayan nikmat dimakan di tengah cuaca yang dingin. Makan siang ini sudah termasuk dalam paket trekking di Sapa. Jadi, kami tidak perlu mengeluarkan uang lagi. Kami hanya perlu mengeluarkan uang untuk membeli minuman. Inilah uniknya Vietnam, semua paket makan di Vietnam, tidak termasuk minuman. Meski Anda ikut tur yang sudah termasuk makan tiga kali sehari, minuman (walau hanya air putih) tidak termasuk dalam paket tur. Jadi Anda harus memesan dan membayar minuman tersendiri.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Ta Van. Desa ini berada di sebuah lembah dan dikelilingi gunung. Di Desa Ta Van juga bermukim Etnis Black Hmong dan Etnis Giay. Kami melewati persawahan dan perkampungan Etnis Black Hmong dan Etnis Giay. Kami juga sempat berhenti di halaman sebuah sekolah dasar, untuk menyaksikan pertunjukan tari yang dilakukan oleh anak-anak dari Etnis Black Hmong.

Anak-anak Etnis Black Hmong sedang menari

Desa Ta Van merupakan titik akhir trekking kami hari ini. Dari desa ini kami dijemput mobil van yang akan membawa kami kembali ke hotel. Saya tidak bisa membayangkan kalau harus jalan kaki kembali ke hotel. Pasalnya, kami harus berjalan sejauh 9 km dengan kondisi jalan yang menanjak dan berkelok-kelok. Untungnya kami ikut paket tur yang ada fasilitas mobil penjemput. Jadi kami tidak perlu menguras tenaga untuk kembali ke hotel.

Setelah berburu souvenir di Sapa Market

Berburu Souvenir di Sapa Market
Selesai istirahat dan makan siang di hotel, kami beranjak menuju Pasar Sapa (Sapa Market) untuk membeli souvenir khas Sapa. Pasar ini jaraknya hanya beberapa ratus meter dari hotel kami. Pasar Sapa merupakan tempat untuk membeli oleh-oleh/souvenir khas Sapa. Di pasar ini, Anda bisa bertemu dengan perempuan Sapa dari berbagai etnis dengan busana khasnya yang berwarna-warni. Anda bisa membeli berbagai macam souvenir khas Sapa, seperti : baju, rok, topi, scarf, syal, tas, kalung, dan gelang manik-manik. Semuanya dengan warna-warni meriah. Barang-barang tersebut harganya cukup murah dan cocok untuk oleh-oleh. Namun, Anda harus menawar agar bisa mendapatkan harga yang murah. Anda tidak perlu khawatir masalah bahasa. Sebagian besar pedagang di Pasar Sapa bisa berbahasa Inggris, walau hanya sekedar mengucapkan harga barang. Saya dan Imel membeli beberapa scarf dari wol dengan harga yang sangat murah, hanya VND 25.000 (sekitar Rp 15.000) per lembar.

Getting There
Dari Hanoi Anda bisa naik kereta api menuju Lao Cai (Stasiun Kereta Api terdekat dengan Kota Sapa). Perjalanan Hanoi - Lao Cai memakan waktu 8 - 9 jam. Kereta berangkat dari Hanoi pukul 21.00 dan sampai di Lao Cai sekitar pukul 05.00 pagi. Dari Lao Cai lanjutkan perjalanan Anda menuju Sapa dengan naik kendaraan umum, minibus/van. Sapa jaraknya sekitar 38 km dari Lao Cai atau sekitar satu jam berkendara.

Sebaiknya Anda ikut paket tur ke Sapa dari Hanoi agar lebih praktis. Harganya juga tidak jauh beda dibandingkan dengan Anda melakukan perjalanan sendiri tanpa ikut tur. Paket tur biasanya termasuk tiket kereta Hanoi - Sapa pulang pergi, antar jemput dari dan ke stasiun, akomodasi di hotel, makan tiga kali sehari, dan pemandu tur (tour guide) untuk trekking di Sapa. (edyra)***

*Dimuat di Majalah CHIC
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments