GUA KRISTAL, KEINDAHAN DI PERUT BUMI KUPANG YANG TERABAIKAN


Gua Kristal. Namanya saja sudah terdengar indah dan membuat orang penasaran. Begitu juga dengan saya. Sejak melihat foto-foto Gua Kristal di blog teman, saya jadi penasaran untuk mengunjunginya. Makanya, di Hari Sabtu yang cerah, saya nekad pergi sendirian ke Gua Kristal karena sudah tak sabar ingin melihat secara langsung gua yang berada tak jauh dari Kota Kupang tersebut. Sebenarnya saya berencana pergi bersama teman. Namun, tiba-tiba dia membatalkan keikutsertaannya karena ada acara mendadak. Jadi, saya terpaksa pergi sendirian. 

Gua Kristal terletak di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat , Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Jaraknya sekitar 13 km dari pusat Kota Kupang atau sekitar 45 menit berkendara. Gua ini berada tak jauh dari Pelabuhan Bolok, pelabuhan penyeberangan ke berbagai pulau di wilayah Provinsi NTT. Mencapai Gua Kristal dari Kota Kupang cukup mudah, meski tak ada rambu-rambu/petunjuk arah sama sekali menuju gua tersebut. Saya tinggal mengarahkan kendaraan ke arah Pelabuhan Bolok. Sesampainya di pertigaan di mana belok kanan menuju Pelabuhan Bolok, saya tinggal lurus saja ke arah Kantor Polisi Perairan (Polair) Bolok yang jaraknya sekitar 1 km dari Pelabuhan Bolok. 

 
 Pertigaan menuju Gua Kristal dan Kantor Polisi Perairan (Polair) Bolok

Tak sampai satu jam, saya pun tiba di dekat Kantor Polair Bolok, titik terdekat untuk mencapai Gua Kristal. Saya segera memarkir sepeda motor di depan sebuah warung yang saat itu sedang tutup. Di sana juga sudah ada dua sepeda motor yang terparkir rapi. Mungkin sepeda motor pengunjung Gua Kristal juga. Saya pun yakin, tempat inilkah titik terdekat untuk menuju Gua Kristal. Apalagi saya juga melihat jalan setapak ke arah kiri, seperti informasi yang saya dapat di internet. 

Setelah memarkir sepeda motor, saya berjalan menyusuri jalan setapak dengan semak-semak di kanan kirinya dan hamparan batu karang hitam di sekitarnya. Sinar matahari yang begitu terik pagi itu tak saya hiraukan karena sudah tak sabar ingin melihat Gua Kristal. Anehnya, setelah berjalan beberapa ratus meter, saya tidak menemukan tanda-tanda adanya sebuah gua. Bahkan, gua tersebut tetap tidak saya temukan meski saya terus berjalan hingga tiba di tepi pantai yang sepi. Padahal, dari informasi di blog teman, jarak dari “tempat parkir” (jalan raya) ke Gua Kristal hanya sekitar 100 meter atau 5 menit berjalan kaki. Sementara saya sudah berjalan ratusan meter. Berarti saya salah jalan. Sialnya, tak ada satu pun orang yang bisa saya tanyain arah jalan menuju Gua Kristal karena di daerah tersebut memang benar-benar tak ada orang lain saat itu. 


 Pantai cantik yang saya temukan secara tidak sengaja ketika sedang mencari Gua Kristal.

Saya istirahat sejenak di pantai sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Kemudian saya berjalan ke sisi pantai yang lain. Untunglah saya bertemu dengan sepasang suami istri yang sedang menjemur rumput laut di pinggir pantai. Saya pun bertanya kepada mereka, arah jalan menuju Gua Kristal. Ternyata, saya memang salah jalan. Gua Kristal, berada tak jauh dari pinggir jalan raya, hanya sekitar 100 meter. Namun, memang tak ada petunjuk arah ke sana. Sayangnya bapak tersebut, tak bisa menjelaskan secara detil jalan menuju Gua Kristal. 

Saya pun berjalan kembali ke tempat parkir. Karena tak ada orang yang bisa saya tanyai juga, saya langsung menuju Kantor Polair Bolok untuk menanyakan letak Gua Kristal yang sebenarnya. Tak disangka-sangka, ada seorang polisi yang baik hati mau mengantarkan saya ke Gua Kristal. Padahal saya hanya bertanya jalan menuju Gua Kristal bukan minta diantar. Saya pun gembira bukan kepalang. 

 
 Titik awal penjelajahan ke Gua Kristal

Polisi yang baik hati tersebut mengantarkan saya ke suatu tempat, tak jauh dari warung tempat saya parkir semula (sekitar 50 meter). Di tempat tersebut, dia menawarkan bantuannya untuk mengantarkan saya ke Gua Kristal. Menurut dia, gua tersebut terkenal angker, jadi tidak disarankan ke sana sendirian. Namun, saya menolak kebaikannya karena saya yakin bisa pergi ke Gua Kristal sendiri. Kemudian, polisi tersebut menunjukkan arah jalan ke Gua Kristal yang katanya tak jauh dari tempat tersebut, jaraknya hanya sekitar 100 meter. Kalau nanti tidak ketemu juga, polisi tersebut meminta saya untuk menghubunginya lagi dan dia siap untuk mengantarkan. Saya benar-benar tidak menyangka ada polisi sebaik dia di zaman seperti sekarang ini. 

 
 Jalan setapak menuju Gua Kristal

Setelah mendapat "pencerahan" dari polisi tersebut, dengan mantap saya berjalan menyusuri jalan setapak menuju Gua Kristal. Dan benar saja, lima menit kemudian saya sudah sampai di mulut Gua Kristal. Mulut gua tersebut berada di bawah pepohonan. Dari kejauhan, mulut Gua Kristal memang tidak kelihatan karena tidak mengarah ke jalan dan sedikit terhalang batu karang besar. Setelah saya dekati, ternyata mulut Gua Kristal cukup besar.
 
 Pintu masuk Gua Kristal berada di bawah pepohonan dan sedikit terhalang batu-batu karang

Saya segera masuk ke dalam Gua Kristal. Tidak saya pungkiri, sebenarnya ada perasaan takut/ngeri ketika memasuki Gua Kristal sendirian. Apalagi saat itu, tak ada satu pun pengunjung lain selain saya. Suasana di sekitar gua benar-benar sepi dan lengang. Namun, rasa penasaran akan keindahan Gua Kristal mengalahkan segala rasa takut saya. 

 
 Mulut Gua Kristal yang cukup lebar

Beberapa kelelawar beterbangan ke sana kemari, menyambut kedatangan saya di Gua Kristal. Batu-batu besar yang berserakan di dalam gua juga seperti memberi ucapan selamat datang kepada saya. Stalaktit-stalaktit yang menggantung indah di langit-langit gua membuat Gua Kristal semakin eksotis. Sayangnya, dinding dan atap gua dikotori beberapa coretan, ulah oknum yang tak bertanggung jawab. 

 Stalaktit-stalaktit menggantung indah di langit-langit Gua Kristal

Suasana di dekat mulut gua, masih terang karena sinar matahari masih bisa masuk. Namun, semakin ke dalam suasana semakin gelap. Dan uniknya, bentuk Gua Kristal bukan hanya mendatar (horizontal) seperti gua kebanyakan. Baru masuk beberapa meter, posisi gua berubah menurun terjal dengan lantai gua tertutup batu-batu besar. Dari situ sudah mulai terlihat kolam air berwarna biru jernih di bawah sana. Meski dari kejauhan, dasar kolam kelihatan dengan jelas, saking beningnya air kolam. Sinar matahari yang menerobos masuk, membuat air kolam tampak biru berkilauan seperti kristal. Tak salah memang kalau gua ini dinamakan Gua Kristal. Pasalnya air di dalam kolam akan terlihat biru berkilau seperti kristal saat terkena pantulan sinar matahari. 

 Kolam biru sebening kristal dengan hiasan stalaktit di atasnya
 
Saya benar-benar terpesona melihat kolam dengan air berwarna biru berkilauan. Langsung saja saya keluarkan kamera kesayangan untuk mengabadikan keindahan Gua Kristal. Namun, ternyata tak mudah memotret di dalam ruang gua yang minim cahaya. Tangan goyang/bergetar sedikit saja, foto menjadi kabur. Apalagi dasar gua dipenuhi batu-batu besar dengan permukaan yang cukup licin. Acara memotret jadi semakin menantang. Namun, saya sudah mengantisipasi hal tersebut dengan membawa tripod. Saya segera memasang kamera di tripod dan memotret berbagai sudut Gua Kristal. foto-foto cantik Gua Kristal pun bisa saya dapatkan berkat bantuan tripod tersebut. 

 
Kolam biru sebening kristal di dasar Gua Kristal

Tak puas memotret kolam biru dari kejauhan, pelan-pelan saya turun ke dasar gua. Saya menuruni gua dengan hati-hati karena batu-batu besar yang menjadi pijakan cukup licin dan suasana gua cukup gelap akibat sinar matahari tak bisa menembus masuk ke seluruh sudut gua. Saya benar-benar heran dengan pemerintah daerah (terutama dinas pariwisata) setempat. Tempat seindah Gua Kristal, kok ditelantarkan begitu saja. Tak ada satu pun rambu-rambu atau petunjuk arah yang menunjukkan keberadaan Gua Kristal. Bagian dalam gua juga dibiarkan alami begitu saja, tanpa ada anak tangga atau lampu penerangan untuk kenyamanan pengunjung. Makanya belum banyak yang tahu keberadaan Gua Kristal. Masyarakat setempat juga belum banyak yang tahu. Padahal, dengan keindahan dan keunikannya, Gua Kristal sangat potensial menjadi objek wisata terkenal. 

 

Beningnya air kolam di Gua Kristal

Tiba di dasar gua, saya langsung mendekati kolam air berwarna biru yang sejak tadi seperti memanggil-manggil saya. Saya duduk di sebuah batu sambil membenamkan kaki ke dalam kolam. Airnya begitu jernih dan sejuk. Dasar kolam terlihat dengan jelas saking beningnya air kolam. Saya coba menyibak air kolam dan mengaduk-aduk dengan kedua tangan saya, tapi air kolam tetap jernih. Penasaran dengan air kolam yang katanya asin, saya mencoba mencicipinya. Ternyata, air kolam tersebut memang payau/asin. Mungkin karena letak Gua Kristal yang lumayan dekat dengan pantai, membuat airnya terasa asin. 

Sebenarnya saya ingin berenang-renang di kolam Gua Kristal yang sangat bening tersebut. Sepertinya nikmat sekali berenang di kolam renang alami yang airnya sangat bening dan sejuk tersebut. Namun, suasana gua yang gelap dan sepi membuat saya mengurungkan niat berenag. Saya sudah cukup puas merekam keindahan Gua Kristal dengan kamera saya. Saya merasa beruntung, bisa mengunjungi salah satu gua tercantik di Indonesia ini. Sambil melangkah meninggalkan gua, dalam hati saya berjanji, suatu hari nanti akan kembali ke Gua Kristal bersama teman-teman untuk berenang-renang di kolam Gua Kristal yang memang sebening kristal. 

How to Get There
Untuk mencapai Gua Kristal, dari Kota Kupang, arahkan kendaraan Anda menuju Pelabuhan Bolok. Setelah sampai di pertigaan di mana belok kanan menuju Pelabuhan Bolok, Anda lurus saja mengikuti rambu-rambu ke arah Kantor Polisi Perairan (Polair) Bolok. Begitu menjumpai pertigaan dengan rambu-rambu belok kiri menuju Polair Bolok, beloklah ke kiri sejauh 200 meter hingga Anda tiba di suatu tempat di kiri jalan dengan hamparan batu-batu karang hitam dan sebatang pohon rindang (tanpa ada rambu-rambu/petunjuk arah ke Gua Kristal). Tempat ini berada sekitar 100 meter sebelum Kantor Polair Bolok. Parkirlah kendaraan Anda di sana, dan berjalanlah mengikuti jalan setapak ke arah kiri sekitar 100 meter dan tibalah Anda di Gua Kristal. Jika Anda kebingungan dan tidak melihat penduduk setempat untuk ditanya, bertanyalah ke Polisi di Kantor Polair Bolok. Dengan senang hati, mereka akan menunjukkan jalan menuju Gua Kristal. (edyra)*** 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

JELAJAH ROTE, PULAU SERIBU LONTAR DI UJUNG SELATAN INDONESIA

Menikmati keindahan Pantai Tunggaoen

Yang namanya rezeki, memang tak bisa diduga datangnya. Seperti yang saya alami baru-baru ini. Sudah lama saya memimpikan perjalanan ke Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, tak disangka-sangka, saya mendapat tugas dari kantor untuk sebuah pekerjaan di sana. Tentu saja saya langsung menerima tugas tersebut tanpa perlu mikir dua kali. Saya memang penasaran dengan pulau yang terkenal dengan Sasando dan Topi Ti’ilangganya ini. Apalagi Pulau Rote juga menyandang status sebagai pulau yang letaknya paling selatan di Indonesia. Rasanya ada kebanggan tersendiri jika saya bisa menginjakkan kaki di ujung selatan negeri ini. 

Asyiknya lagi, ada seorang teman asal Kupang tapi sudah tinggal cukup lama di Pulau Rote, yang akan menemani perjalanan saya. Saya tak perlu kebingungan mencari akomodasi dan informasi tempat-tempat menarik di Rote. Bahkan teman saya bersedia meminjamkan sepeda motornya, untuk saya gunakan menjelajah Pulau Rote. Betapa senangnya saya. 

Perjalanan ke Pulau Rote kami awali dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Dari pelabuhan ini, saya dan teman naik Kapal Cepat Express Bahari 8 B menuju Pelabuhan Ba’a, di Pulau Rote. Ada dua pilihan kelas di kapal ini, yaitu tiket kelas ekonomi seharga Rp 140.000,00 dan tiket kelas VIP seharga Rp 190.000,00. Karena tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelas ekonomi dan kelas VIP (selain tempat duduk di VIP yang lebih longgar dan AC yang lebih dingin), kami memilih tiket kelas ekonomi. 

Perjalanan dari Pelabuhan Tenau, Kupang menuju Pelabuhan Ba’a, Pulau Rote memakan waktu sekitar 2 jam, tergantung cuaca (kecepatan angin dan gelombang). Untungnya saat perjalanan kemarin, cuaca sangat cerah dan laut pun sangat tenang tanpa gelombang. Laut Sawu yang terkenal dengan ombaknya yang ganas, saat itu sangat tenang seolah menyambut kedatangan kami dengan gembira. Jadi perjalanan ke Pulau Rote sangat menyenangkan. Kapal berangkat dari Pelabuhan Tenau, Kupang pukul 08.30 (molor 30 menit dari jadwal) dan merapat di Pelabuhan Ba’a, Rote pukul 10.30. 

Cuaca panas dan sinar matahari yang terik menyengat menyambut kedatangan saya dan teman di Pulau Rote. Panorama di sekitar Pelabuhan Ba’a yang indah, dengan air laut yang biru jernih membuat saya langsung kesengsem dengan Rote dan tak sabar ingin segera menjelajahinya. Namun, saya harus menunda dulu niat meng-explore Rote karena harus menyelesaikan urusan pekerjaan terlebih dahulu. Syukurlah urusan pekerjaan ternyata tak memakan waktu lama. Dengan bantuan teman-teman di Rote yang baik hati, pekerjaan saya sudah beres di sore hari. Tibalah saatnya berpetualang di Pulau Rote. 

Tiang Bendera
Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Pelabuhan Ba’a, Pulau Rote, saya melihat sebuah tanjung dengan rumah-rumah beratap merah dan hijau di kejauhan. Di sekitarnya tampak laut biru menyejukkan mata. Pikir saya, pasti itu salah satu hotel (resort) di Rote. Ternyata dugaan saya keliru. Kata teman saya, tempat itu merupakan salah satu tempat wisata di Rote, namanya Tiang Bendera. Karena penasaran dengan keunikan nama tempat tersebut, sore hari, saya meminta teman untuk mengantarkan saya ke sana. 

Tiang Bendera berada tak jauh dari pusat Kota Ba’a, jaraknya hanya sekitar 5 km. Namun, kondisi jalan menuju tempat ini sangat buruk. Sekitar 2 km pertama, kondisi jalan masih bagus karena merupakan jalan utama di Rote. Setelah masuk ke perkampungan penduduk dan melewati perbukitan, kondisi jalan berubah drastis menjadi jalan tanah berbatu yang berkelok-kelok naik turun. Parahnya lagi, tak ada satu pun rambu-rambu atau penunjuk arah di sepanjang jalan menuju Tiang Bendera. Untunglah dalam kunjungan ke Tiang Bendera, saya diantar menggunakan mobil oleh teman-teman yang asli Rote. Jadi, saya tak perlu susah payah menanyakan jalan ke penduduk setempat dan tentunya bebas dari acara tersesat. 

Tak sampai setengah jam, kami pun tiba di Tiang Bendera. Tak ada seorang pun di sana selain rombongan kami. Nampak sejumlah lopo-lopo (semacam bale-bale/gazebo) dengan atap berwarna merah dan sebagian hijau di pinggir pantai yang berpasir putih. Rupanya lopo-lopo ini yang tadi pagi saya kira hotel. Meski saat itu sedang surut, pesona pantai di sekitar Tiang Bendera tidak ikut surut. Pantai berpasir putih ini tetap kelihatan cantik dengan hiasan sejumlah batu karang dengan beragam bentuk dan ukuran di sana-sini. Ada satu pulau karang yang menjadi pusat perhatian di pantai ini, tak lain adalah tempat berdirinya tiang bendera yang letaknya agak di tengah laut.

 
Tiang Bendera

Karena laut sedang surut, kami bisa mencapai pulau karang tersebut dengan cukup mudah. Namun, untuk mendaki pulau karang tersebut ternyata tak semudah yang dibayangkan. Pasalnya seluruh permukaan pulau berupa karang-karang runcing dan tajam. Kalau tidak memakai alas kaki yang kuat, mustahil untuk bisa mencapai puncak pulau karang ini. Syukurlah, saya dan teman-teman berhasil mencapai puncak pulau tanpa terluka sedikit pun. Dari puncak pulau karang tersebut, panorama indah di sekeliling terhampar dengan jelas. Tanpa dikomando, saya segera mengabadikan panorama cantik tersebut dengan kamera kesayangan saya. 

Dinamakan Tiang Bendera karena di kawasan pantai tersebut terdapat sebuah tugu beton setinggi 2,5 meter yang berdiri di atas pulau karang, di tengah laut. Konon katanya, tiang tersebut merupakan tiang peninggalan Belanda, tempat mereka mengibarkan benderanya sebagai tanda bahwa Pulau Rote merupakan wilayah jajahannya. Saya tak menyangka bahwa Belanda juga sempat menjejakkan kaki di Pulau Rote. 

 
 Panorama sunset di Tiang Bendera tak kalah dengan Tanah Lot, Bali

Tiang Bendera merupakan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan panorama matahari terbenam (sunset) di Rote. Kata teman-teman yang asli Rote, keindahan sunset di Tiang Bendera tak kalah dengan keindahan sunset di Tanah Lot, Bali. Makanya kami sengaja menunggu momen sunset tersebut. Dan penantian kami tak sia-sia. Di saat sunset, panorama di sekitar Tiang Bendera sangat menakjubkan. Semburat sinar jingga kemerahan di sekitar pulau karang membuatnya makin menawan, sangat mirip dengan Tanah Lot. Bedanya, di pulau karang tersebut tak ada pura. Tak henti-hentinya saya menekan rana kamera, untuk menangkap detik-detik matahari terbenam di Tiang Bendera yang sangat mempesona. 

Pantai Nemberala
Salah satu tempat wisata paling terkenal di Pulau Rote adalah Pantai Nemberala. Pantai ini tersohor sampai ke mancanegara berkat kedahsyatan ombaknya. Para penggemar olahraga selancar (surfing) dari berbagai penjuru dunia rajin mendatangi pantai yang sudah lama menjadi andalan wisata Rote ini. Makanya saya tak mau melewatkan kunjungan ke sana. Di hari kedua di Pulau Rote, saya mengagendakan waktu sehari penuh untuk menjelajah pantai-pantai di bagian barat daya Rote, termasuk Nemberala. Saya nekad berpetualang sendirian karena teman saya sudah harus kembali ke Kupang. Modal saya adalah sepeda motor pinjaman dari teman dan selembar Peta Pulau Rote yang saya download dari internet. 

Jarak dari Kota Ba’a ke Pantai Nemberala sekitar 40 km. Biasanya perjalanan Ba’a - Pantai Nemberala memakan waktu sekitar satu jam. Namun, saya menempuhnya dalam waktu hampir dua jam karena di sepanjang jalan menuju Pantai Nemberala, tak ada rambu-rambu atau petunjuk arah sama sekali. Setiap menemui pertigaan/perempatan jalan, saya selalu bertanya ke penduduk setempat. Sialnya, saya sempat kesasar karena sewaktu di pertigaan tidak ada orang sama sekali yang bisa saya tanyaian arah jalan ke Pantai Nemberala. Saya tidak menyangka bahwa jalan menuju objek wisata terkenal seperti Pantai Nemberala, tidak ada rambu-rambu/petunjuk arahnya sama sekali. 

 
Kuda merumput di savana, tak jauh dari pantai

Kondisi jalan jari Kota Ba’a menuju Pantai Nemberala sebagian besar sudah mulus (karena baru saja dibangun), kecuali beberapa kilometer mendekati Desa Nemberala. Pemandangan sepanjang jalan juga sangat indah. Mulai dari rumah-rumah penduduk yang sebagian masih beratap ilalang, ratusan pohon lontar, hingga sapi-sapi dan kuda-kuda yang merumput di savana. Di beberapa spot yang menarik, misalnya di savana saya berhenti sebentar untuk memotret panorama eksotis tersebut. Ratusan pohon lontar/siwalan (Borassus flabellifer) juga dengan mudah saya jumpai di sepanjang jalan, baik di kota, di pekarangan rumah penduduk, di hutan maupun di pinggir pantai. Tak heran kalau Pulau Rote mendapat julukan sebagai Pulau Seribu Lontar. 

 
 Pohon lontar bisa dijumpai dengan mudah di berbagai sudut Pulau Rote

Setelah menempuh perjalanan sekitar 90 menit, saya tiba di Pantai Nemberala. Hamparan pasir putih dan air laut hijau toska menyambut kedatangan saya. Deretan pohon kelapa di pinggir pantai makin mempercantik Pantai Nemberala. Rasa capek dan penat akibat perjalanan jauh mendadak hilang melihat pantai cantik terhampar di hadapan. Asyiknya lagi, pantai sangat sepi hanya ada satu dua orang pengunjung selain saya. Saya segera mencari tempat yang agak teduh di bawah pohon agar terlindung dari terik matahari yang menyengat. Sambil menikmati keindahan Pantai Nemberala saya menyantap bekal yang saya bawa. 

 
 Pantai Nemberala

Ada yang aneh dengan Pantai Nemberala. Tak ada tanda/tulisan yang menunjukkan bahwa pantai tersebut adalah Pantai Nemberala selain gerbang “Selamat Datang di Pantai Wisata Nemberala” yang jaraknya masih sekitar 3 km dari pantai. Sebagian besar hotel yang berada di pinggir pantai juga tidak memasang papan nama atau penunjuk arahnya. Kalau tidak bertanya ke penduduk setempat, saya tidak akan tahu letak hotel-hotel tersebut, kecuali hotel yang berada di pinggir jalan utama yang sudah memasang papan nama. 

 
 Jalan di Desa Nemberala dengan jajaran pohon kelapa di kanan kirinya

Pantai Bo’a
Dari Pantai Nemberala saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Bo’a yang jaraknya sekitar 4 km dari Pantai Nemberala. Perjalanan menuju Pantai Bo’a sangat menyenangkan. Saya melewati jalan berpagar deretan pohon kelapa di antara perkampungan penduduk. Rumah-rumah penduduk yang sebagian masih beratap ilalang dengan pagar terbuat dari tumpukan batu karang membuat panorama makin eksotis. Warga Rote, terutama yang tinggal di pedesaan memang mempunyai kebiasaan memagari rumah mereka dengan tumpukan batu karang. Saya yang baru pertama kali melihat pemandangan tersebut, benar-benar terpesona. Beberapa kali saya berhenti untuk memotret rumah-rumah penduduk dengan pagar unik tersebut. 

 
 Rumah-rumah penduduk di Desa Nemberala yang berpagar tumpukan batu karang

Tepat tengah hari, saya tiba di Pantai Bo’a. Nampak beberapa turis asing membawa papan selancar di pinggir pantai. Namun, mereka hanya melihat-lihat suasana pantai tanpa berselancar. Saat itu, ombak di Pantai Bo’a memang sedang tidak bagus. Ombaknya pecah dan kecil sehingga tidak bisa untuk selancar. 

 
Pantai Bo'a, surga peselancar di Pulau Rote

Pantai Bo’a memang salah satu pantai dengan ombak terbaik di Indonesia. Meski nama pantai ini kalah populer dibandingkan dengan Pantai Nemberala, namun ombak di Pantai Bo’a jauh lebih bagus. Sebenarnya, pantai yang dicari para turis untuk berselancar di Pulau Rote adalah Pantai Bo’a bukan Pantai Nemberala. Namun, mereka menginap di Pantai Nemberala karena di sanalah terdapat hotel dan penginapan (home stay) dengan berbagai pilihan tarif. Sementara itu, di Pantai Bo’a belum ada satu pun hotel/penginapan. Saat saya ke sana, sedang ada pembangunan sebuah hotel di ujung Pantai Bo’a. 

Pantai Tunggaoen
Pantai terakhir yang saya sambangi di kawasan Rote Barat Daya adalah Pantai Tunggaoen. Saya menemukan pantai ini secara tak sengaja. Sebenarnya tujuan saya adalah Pantai Oeseli. Namun, karena sepeda motor saya hampir kehabisan bensin dan saya tidak menemukan penjual bensin, saya terpaksa mengurungkan niat ke Pantai Oeseli. Pasalnya jarak dari Pantai Bo’a ke Pantai Oeseli masih lumayan jauh dan jalannya semakin jelek (aspal yang sudah rusak). Daripada saya kehabisan bensin di tengah jalan dan harus melakukan adegan dramatis mendorong sepeda motor berkilo-kilometer di tengah cuaca yang terik, lebih baik saya membatalkan kunjungan ke Pantai Oeseli. 
 
 Pantai Tunggaoen yang cantik dan masih alami

Saya segera memutar balik sepeda motor, kembali ke Pantai Nemberala. Sekitar 2 km lepas dari Pantai Bo’a, saya bertemu pertigaan dengan jalan tanah yang sepertinya mengarah ke pantai. Saya pun membelokkan sepeda motor menyusuri jalan tersebut yang ternyata hanya beberapa ratus meter. Ternyata dugaan saya benar. Saya tiba di sebuah pantai yang sangat sepi tanpa ada satu orang pun pengunjung. Pantainya berpasir putih dengan air laut berwarna hijau toska. Menariknya lagi, ada batu karang berbentuk seperti kodok, di sebelah kanan pantai, sedikit di tengah laut. Tak pelak lagi, batu karang tersebut membuat pantai yang belum saya ketahui namanya tersebut semakin fotogenik. 

 
 Batu karang miripp kodok di Pantai Tunggaoen

Saya puaskan diri bermain-main di pantai tersebut. Mulai dari berenang, bermain pasir hingga foto-foto dengan berbagai gaya. Saya benar-benar menikmati kesendirian saya di pantai cantik nan sunyi tersebut. Kapan lagi saya bisa bermain-main di “pantai pribadi” tanpa gangguan orang lain kalau bukan di Pulau Rote. 

Keasyikan bermain di pantai, membuat saya lupa waktu. Tanpa terasa matahari mulai beranjak ke barat. Sinarnya sudah tidak segarang saat kedatangan saya. Saya pun harus mengakhiri kenikmatan di “pantai pribadi” yang baru saya temukan. Rasanya berat sekali meninggalkan pantai secantik ini. Namun, mau tak mau saya harus meninggalkannya karena perjalanan panjang telah menanti. Saya harus menempuh jarak sekitar 50 km untuk kembali ke Kota Ba’a, tempat hotel saya berada. 

Ketika hendak meninggalkan pantai, saya melihat dua orang penduduk setempat sedang berjalan di pantai. Saya mendekati mereka, untuk menanyakan nama pantai cantik tersebut. Sejak tadi, saya memang penasaran dengan nama pantai ini, karena tak ada petunjuk/papan nama yang menunjukkan nama pantai. Ternyata namanya adalah Pantai Tunggaoen, sama seperti nama desa tempat pantai tersebut berada. Saya pun pulang dengan tersenyum puas setelah mengetahui nama pantai tersebut. 

Batu Termanu

Keesokan harinya, sebelum meninggalkan Pulau Rote, saya menyempatkan diri mengunjungi salah satu tempat paling terkenal di Pulau Rote, namanya Batu Termanu. Sejak kedatangan saya kemarin, teman saya, merekomendasikan saya untuk mengunjungi tempat ini. Apalagi jaraknya juga tak begitu jauh dari Kota Ba’a, hanya sekitar 7 km. Makanya saya tertarik untuk mengunjunginya. 

Tepat jam 09.00 pagi, saya berangkat dengan sepeda motor menuju Batu Termanu dan 10 menit kemudian saya sudah sampai di sana. Seperti tempat-tempat wisata lainnya di Rote, suasana di Batu Termanu juga sangat sepi dan masih alami. Tak ada pengunjung lain, ketika saya tiba di sana. Padahal saat itu adalah akhir pekan (Sabtu) di mana tempat-tempat wisata pada umumnya ramai didatangi para pengunjung. 

 
 Batu Suelai

Batu Termanu merupakan dua buah bukit batu yang berada di sebuah tanjung dan di lepas pantai tak jauh dari tanjung tersebut. Dua batu unik ini terletak di Desa Onatali, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao. Kedua batu tersebut mempunyai nama, yaitu Batu Suelai yang ukurannya lebih besar dan masih berada di daratan Pulau Rote, serta Batu Hun yang lebih kecil dan berada di lepas pantai. Menurut masyarakat setempat, Batu Suelai diyakini berjenis kelamin pria sedangkan Batu Hun berjenis kelamin wanita. Pada saat-saat tertentu, kedua batu ini bisa bergerak sendiri. Batu Termanu diyakini berasal dari kepulauan di Maluku, yang dapat berpindah-pindah sampai menetap di tempatnya sekarang ini. Mereka menganggap kedua batu ini sebagai batu keramat di mana saat Rote mengalami kemarau panjang, maka melalui Mane Leo (tokoh adat/kepala suku) sebagai pemimpin dari rumpun keluarga “Suelai Hun” melakukan upacara adat di kaki batu untuk memohon turunnya hujan.

Terlepas dari berbagai mitos dan cerita mistis yang menyelimutinya, Batu Termanu sangat menarik. Bagi Anda yang menyukai tantangan, Anda bisa mendaki Batu Termanu sampai puncak. Dari puncak inilah Anda bisa panorama menakjubkan di sekitar Batu Termanu. Mulai dari “pasangan” Batu Suelai, yaitu Batu Hun yang berada agak di tengah laut, bukit-bukit gersang yang ditumbuhi pohon-pohon lontar, hingga pantai-pantai cantik di sekitarnya. 
 
Pantai Batu Termanu yang indah dan sepi

Bagi Anda yang tak ingin susah payah mendaki Batu Termanu, Anda tak perlu khawatir. Anda masih bisa menikmati sisi lain Batu Termanu, tak lain adalah Pantai Batu Termanu yang indah dengan hamparan pasir putih dan batu karang di tepian pantainya. Di pantai tersebut telah dibangun sejumlah bale-bale (lopo-lopo dalam bahasa setempat) yang bisa Anda manfaatkan untuk berlindung dari teriknya matahari Pulau Rote. Ada juga sebuah hotel yang berdiri tak jauh dari pantai. 

 
 Lopo-lopo di Pantai Batu Termanu

Karena Pantai Batu Termanu menghadap ke barat, tentunya sangat tepat untuk menyaksikan panorama matahari terbenam (sunset) di sana. Anda bisa menunggu sunset dengan duduk-duduk di lopo-lopo yang telah disediakan. Sayangnya saya tidak bisa melihat sunset di Batu Termanu karena siang nanti, saya harus meninggalkan Rote. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali lagi ke Batu Termanu untuk menyaksikan sunset yang menakjubkan di sana. 

Getting There
Untuk mencapai Pulau Rote, Anda harus terbang dulu ke Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sampai saat ini, penerbangan langsung ke Kupang bisa melalui tiga kota, yaitu : Jakarta, Surabaya dan Denpasar. Selanjutnya, dari Kupang Anda bisa mencapai Pulau Rote dengan dua cara : jalur laut atau jalur udara, dengan penjelasan sebagai berikut : 
1. Untuk jalur udara, maskapai yang melayani rute Kupang - Rote - Kupang adalah Trans Nusa (www.transnusa.co.id) dan Susi Air (www.susiair.com) dengan jadwal seminggu 3 kali, Senin, Rabu dan  Jumat/Sabtu. Namun, jadwal ini bisa berubah-ubah tergantung cuaca. Untuk memastikan jadwal penerbangan ke Rote dan sebaliknya, Anda bisa cek di situs masing-masing.

2. Untuk jalur laut ada 2 pilihan : kapal lambat (ferry) atau kapal cepat (speed boat). 
a. Bila Anda memilih ferry, Anda harus naik ferry dari Pelabuhan Bolok, Kupang. Ferry berangkat dari Kupang setiap hari, pukul 08.00 WITA dan berlabuh di Pelabuhan Pantai Baru, Rote (sekitar 1 jam perjalanan ke Kota Ba’a). Perjalanan dengan ferry memakan waktu sekitar 4 jam. Harga tiket kelas ekonomi untuk penumpang tanpa kendaraan Rp 33.800,00 dan tiket untuk penumpang dengan sepeda motor Rp 79.900,00. Bila Anda membawa kendaraan ke Rote, satu-satunya cara adalah dengan naik ferry karena kapal cepat hanya memuat penumpang (orang). 
b. Bila Anda memilih kapal cepat, Anda harus naik kapal cepat dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Kapal berangkat dari Kupang setiap hari, pukul 08.00 WITA dan berlabuh di Pelabuhan Ba’a, Rote. Perjalanan dengan kapal cepat memakan waktu sekitar 2 jam. Harga tiket kelas ekonomi Rp 150.000,00 dan kelas VIP Rp 190.000,00. 

Where to Stay 
Hotel Ricky
Jl. Gereja, Ba’a, Pulau Rote, NTT
Telp. : (0380) 871045, 871025
Tarif : mulai Rp 100.000,00

Hotel Grace
Jl. Pabean No. 12, Ba’a, Pulau Rote, NTT
Telp. : (0380) 841055
Tarif : mulai Rp 100.000,00

Hotel Tiberias
Batu Termanu, Desa Onatali, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, NTT
Telp. : (0380) 8110700
www.rotebeachresort.com
Tarif : mulai Rp 150.000,00

Nemberala Beach Resort***
Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, NTT www.nemberalabeachresort.com
Tarif : mulai USD 170

T-Land Resort*** 
Desa Nemberala, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, NTT
www.t-landresort.com
Tarif : mulai USD 145

Where to Eat 
Sampai saat ini belum ada restoran/kafe yang representatif di Pulau Rote, baik di Kota Ba’a maupun Pantai Nemberala. Yang ada hanya warung-warung makan sederhana seperti Warung Jawa atau Rumah Makan Padang di Kota Ba’a. Di kawasan Pantai Nemberala hanya ada satu rumah makan sederhana, namanya Rumah Makan Tessa Lifu Delha. Itu pun sering tutup. Namun, Anda tak perlu khawatir. Biaya kamar di hotel-hotel yang berada di Pantai Nemberala, biasanya sudah termasuk makan tiga kali sehari. Tanyakan urusan makan ini, pada saat reservasi atau saat kedatangan Anda. 

What to Do
Berenang, surfing, snorkeling, memancing dan mengunjungi pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Rote. Anda juga bisa mengenal lebih dekat adat dan budaya masyarakat Pulau Rote dengan mengunjungi desa-desa di pedalaman pulau. 

When to Go
Waktu terbaik untuk mengunjungi Pulau Rote adalah di musim kemarau (Juni - Oktober) karena pada saat itu cuaca cerah dan gelombang di Selat Rote juga tidak begitu besar/tinggi sehingga perjalanan dengan ferry/kapal cepat tetap aman. Ombak di Pantai Nemberala dan Bo’a juga sedang bagus-bagusnya, sehingga cocok untuk olahraga selancar (surfing). Di luar bulan-bulan tersebut (terutama di Bulan November - Februari), gelombang di Selat Rote sangat tinggi dan membahayakan. Jadwal ferry dan kapal cepat menjadi tidak menentu di bulan-bulan tersebut dan sering dibatalkan mendadak bila cuaca buruk (angin besar/gelombang tinggi). (edyra)*** 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MASJID DI PULAU TIMOR (1) : KOTA KUPANG


Dibanding wilayah lainnya di Indonesia, Islam terbilang agak terlambat masuk ke Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Karena itu, tidak heran kalau umat Islam di Pulau Timor terbilang minoritas. Apalagi pulau ini berbagi wilayah (bertetangga) dengan Negara Timor Leste yang mayoritas warganya beragama Katolik. Meski demikian, bukan berarti di Pulau Timor tidak ada masjid sama sekali. Anda bisa menemukan masjid di sejumlah daerah, di Pulau Timor, baik di Kota Kupang maupun di wilayah lainnya. Karena jumlah masjid di Pulau Timor cukup banyak, tulisan tentang "Masjid di Pulau Timor" ini saya bagi menjadi dua : 1. Masjid di Kota Kupang, 2. Masjid di Luar kota Kupang. Berikut beberapa masjid yang bisa Anda gunakan untuk beribadah sholat lima waktu, bila kebetulan Anda sedang berkunjung ke Kota Kupang. 

1. Masjid Raya Nurussa’adah 
    Jl. Soekarno No. 24, Fontein, Kupang

 

2. Masjid Al Fatah 
    Kampung Solor, Kupang

 

3. Masjid Al Hidayah
    Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang



4. Masjid Al Hidayah
     Jl. Raya Tablolong Km. 14, Desa Batatkte, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang


5. Masjid Al Istiqomah
     Jl. Bundaran PU, Gang Tuak Daun Merah II, Kupang


6. Masjid Al Muhajirin
     Jl. HTI, Oebufu, Kupang


7. Masjid At Taqwa
     Jl. Jend. Suharto No. 15, Naikoten I, Kupang


8. Masjid Baiturrahman
    Jl. Anniba, Nefonaek, Kupang



9. Masjid Baiturrahman
     Jl. Badak No. 27, Bakunase, Kecamatan Kota Raja, Kupang


10. Masjid Darul Hijrah
     Jl. Fetor Foenay, BTN Kolhua, Kec. Maulafa, Kupang



11. Masjid Darussalam
     Jl. H.R. Koroh No. 100, Sikumana, Kupang



12. Masjid Fathul Mubin
     Jl. Ikan Kombong, Namosain, Kecamatan Alak, Kupang


13. Masjid Nurul Hidayah
       Jl. Timor Raya No. 95, Kelapa Lima, Kupang


14. Masjid Nurul Hikmah
       Jl. Yos Sudarso, Tenau, Kupang



15. Masjid Nurul Iman 
    Jl. Hati Mulia VI, Kupang


16. Masjid Nurul Mubien
      Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak, Kota Kupang


17. Masjid Nurul Quwwah
      Jl. Cak Doko, Kupang



18. Masjid Nurul Wathan
      Kompleks Asrama TNI Kuanino, Kupang



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

PESONA KUPANG, SI KOTA KASIH



Dibandingkan tetangganya (Bali dan Lombok), Kupang memang kalah populer sebagai destinasi wisata. Belum banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang mengunjungi kota ini. Maklum, letaknya yang cukup jauh serta sarana wisata yang masih minim, membuat para wisatawan kurang tertarik mengunjungi Kupang. Padahal, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur ini tak kalah menarik dibanding Bali dan Lombok. Kota yg mempunyai julukan “Kota Kasih” ini memiliki beragam tempat menarik, mulai dari pantai, air terjun, gua, hingga pulau-pulau kecil. Menariknya lagi, hampir semua tempat wisata tersebut masih sepi dan alami. Tak ada bangunan hotel, resort, kafe maupun restoran di sekitar tempat tersebut. Kalaupun ada, hanya satu dua bangunan, tidak menjamur seperti di Bali dan Lombok. Bagi penggemar tempat-tempat sepi dan alami, Kupang layak menjadi alternatif destinasi wisata dalam negeri. Berikut tempat-tempat menarik di Kupang, yang patut Anda kunjungi ketika berlibur di Kupang. 

1. Museum Daerah Nusa Tenggara Timur

  

2. Taman Nostalgia

 

3. Pantai Pasir Panjang


4. Pantai Lasiana

 

5. Pantai Tablolong

 

6. Air Terjun Oenesu

 

7. Gua Kristal


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

DELAYED OR CANCELED

Bagi yang sering melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, pasti sudah akrab dengan yg namanya penundaan penerbangan (delayed) atau bahkan pembatalan penerbangan (cancelled). Apalagi yg sering melakukan penerbangan ke pulau-pulau terpencil dan wilayah Indonesia Timur. Cancelled atau delayed (walaupun sangat menyebalkan) pasti menjadi hal yang biasa. Maklum, kondisi alam di pulau-pulau terpencil dan Indonesia Timur memang serba tak menentu dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas. 
 
Penundaan atau pembatalan penerbangan terjadi karena berbagai faktor. Di antaranya adalah alasan operasional, cuaca buruk (hujan, badai, kabut asap), kecelakaan pesawat, dan ada pejabat yg mau terbang atu mendarat (biasanya presiden dan wakil presiden). Kalau alasan cuaca buruk, masih bisa ditolerir karena hal ini terjadi di luar kendali manusia. Jadi kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Lagian, siapa juga yang mau ambil risiko terbang dalam cuaca buruk? Adanya kecelakaan pesawat (misalnya pesawat tergelincir di landas pacu) juga masih bisa ditolerir. Yang paling menyebalkan alasan kunjungan pejabat dan alasan operasional. Saat kedatangan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush di Bali, Bandara Internasional Ngurah Rai ditutup hampir sehari penuh. Bayangkan kalau kita akan terbang pada hari/tanggal tersebut, dan ada keperluan mendesak? Pastinya sangat jengkel kan, gagal terbang. Alasan operasional juga sangat menyebalkan. Dan ini alasan yang paling jamak dan sering terjadi di dunia penerbangan Indonesia. Terutama bila kita naik pesawat dalam kategori budget airline (maskapai berbiaya rendah). Siap-siap deh mengalami delayed. Alasan operasional mencakup beberapa hal, misalnya kerusakan pesawat, bagasi penumpang belum beres, pesawat dari rute sebelumnya belum datang, dan lain-lain. 

Setelah beberapa tahun menggunakan jasa pesawat terbang, baik di dalam maupun di luar negeri, pastinya saya pernah mengalami penundaan dan pembatalan penerbangan. Dari sekian kali delayed yang pernah saya alami, yang paling parah terjadi saat saya akan terbang dari Denpasar ke Kuala Lumpur dengan menggunakan pesawat Air Asia. Saya mengalami penundaan penerbangan sampai hampir tujuh jam karena cuaca buruk di Kuala Lumpur (katanya terjadi hujan badai). Alhasil, saya pun terpaksa menginap di mushola Bandara Ngurah Rai karena tidak mendapat kompensasi penginapan. Selain itu, saya juga males pulang ke Denpasar karena penerbangan berikutnya pagi-pagi banget (jam 05.00 pagi), dan saya nggak mau ambil risiko ketinggalan pesawat. Beberapa kali naik Air Asia, saya tidak pernah mengalami penundaan yang demikian parah. Air Asia termasuk budget airline yang cukup bagus. Pesawat ini jarang delayed, kalaupun delayed hanya beberapa menit atau paling banter 1 jam. Kalaupun ada perubahan jadwal yang cukup signifikan (maju atau mundur beberapa jam), biasanya Air Asia mengabarkan via ponsel atau email beberapa hari sebelumnya. Jadi, saya cukup puas dengan pelayanan Air Asia yang profesional. Saya tidak perlu buru-buru ngejar pesawat atau kelamaan nunggu di bandara karena pesawat delay cukup lama. Namun, ternyata saya mengalami juga delayed lebih dari 5 jam. 

Untuk pembatalan penerbangan (cancelled), seumur-umur saya baru mengalami sekali saja dan semoga tidak akan pernah terulang lagi. Pembatalan penerbangan ini terjadi baru-baru ini (tanggal 27 Juni 2013), ketika saya akan melakukan perjalanan dari Lombok ke Bali dengan pesawat Trans Nusa. Sebelumnya, saya belum pernah naik maskapai ini. Saya terpaksa membeli tiket pesawat Trans Nusa karena pesawat lainnya penuh semua. Jadwal keberangkatan pesawat semula adalah pukul 15.40 WITA dan saya pun datang ke Bandara Internasional Lombok tepat waktu. Begitu tiba di bandara, saya segera mengantri di kounter check in Trans Nusa yang saat itu sangat sepi, hanya ada satu orang di depan saya yang sedang ngantri. Tiba giliran saya, dan saya pun menyerahkan tiket saya ke petugas check in.Alangkah terkejutnya saya, ketika petugas tersebut dengan santainya bilang, “Kayanya penerbangan Bapak di-cancel, deh. Coba Bapak langsung ke counter tiket Trans Nusa.” Siapa yang nggak dongkol diperlakukan seperti itu. Mending kalau ada pemberitahuan sebelumnya, baik via telepon, SMS atau email. Ini tidak ada pemberitahuan sama sekali. Benar-benar tidak profesional. 

Saya segera menuju kounter tiket Trans Nusa untuk menanyakan nasib tiket saya dan penyebab pembatalan penerbangan. Apa pun yang terjadi, saya harus pulang ke Bali hari itu juga karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. 

Sudah bisa ditebak, suasana di kounter tiket Trans Nusa ramainya minta ampun. Puluhan calon penumpang yang bernasib seperti saya, menanyakan kelanjutan tiketnya. Parahnya, ternyata bukan hanya penerbangan ke Bali yang dibatalkan. Penerbangan ke Sumbawa juga bernasib sama. Padahal calon penumpangnya sudah check in dan membayar airport tax. Benar-benar maskapai yang tidak profesional. Nggak lagi-lagi deh, naik maskapai ini. 

Manajemen Trans Nusa meminta maaf kepada calon penumpang dan memberi penjelasan bahwa penerbangan ke Bali dibatalkan karena pesawat yang akan datang dari Bali (dan terbang kembali ke Bali) mengalami kerusakan mesin. Trans Nusa mengembalikan secara utuh uang tiket penumpang ditambah uang kompensasi sebesar Rp 150.000,00. Banyak calon penumpang (termasuk saya) yang tidak mau menerima kebijakan tersebut, karena pasti susah dan mahal mencari tiket pesawat dari maskapai lain untuk penerbangan hari itu juga. Apalagi saya juga tahu, rute Lombok - Denpasar maskapai lainnya untuk hari itu sudah penuh semua. Saya pun menolak pengembalian uang dan kompensasi tersebut. Saya tetap meminta Trans Nusa mencarikan tiket Lombok - Denpasar untuk hari itu, jam berapa pun. Mereka berusaha mencarikan tiket untuk saya tetapi tidak berani menjanjikan pasti bakal dapat tiket karena maskapai lainnya sudah penuh semua. Saya pun pasrah, sambil berdoa dalam hati semoga mendapat tiket ke Bali untuk hari itu. 

Sekitar jam 16.30, saya kembali ke Kantor Trans Nusa untuk menanyakan ”kabar” penerbangan ke Bali. Mereka memberikan kabar gembira, bahwa pesawat yang dari Bali akan berangkat sehingga penerbangan ke Bali akan berangkat jam 17.30. Saya pun diminta untuk segera check in di kounter check in.

Selesai check in, saya segera membayar airport tax dan masuk ke ruang tunggu. Baru saja masuk ke ruang tunggu, saya mendengar pengumuman lewat pengeras suara yang memberitahukan bahwa pesawat Trans Nusa jurusan Denpasar dibatalkan karena alasan operasional. Saya benar-benar jengkel dan kecewa dengan pelayanan Trans Nusa. Saya kembali ke Kantor Trans Nusa dan meminta pertanggungjawaban mereka. Saya tetap minta dicarikan tiket ke Bali untuk hari itu, jam berapa pun berangkatnya. 

Petugas Trans Nusa segera mencarikan tiket jurusan Denpasar untuk saya ke Wings Air. Untunglah ternyata, masih ada tiket ke Denpasar untuk hari itu, tapi waktu keberangkatannya jam 21.10 dengan Wings Air. Keberangkatan di jam lainnya penuh semua. Apa boleh buat. Mau nggak mau saya harus menerima tiket tersebut, agar bisa sampai di Bali malam ini juga. Petugas Trans Nusa pun segera mengurus administrasi tiket tersebut. 

Karena waktu keberangkatan masih lama (3 jam lebih), saya pun mencari tempat duduk sambil baca majalah. Sekitar jam 18.00, saya check in kemudian naik ke lantai 2. Sebelum masuk ke ruang tunggu, saya jalan-jalan dulu sambil motret-motret terminal Bandara Internasional Lombok. Pasalnya, saya baru sekali menginjakkan kaki di bandara yang tergolong baru ini. Kalau di Bandara Lombok yang lama (Seleparang) sih, sudah puluhan kali karena saya pernah tinggal di Mataram selama tiga tahun. 

Sayangnya, tidak banyak yang bisa dilihat (dan dilakukan) di Bandara Internasional Lombok. Bandaranya tidak terlalau besar (hanya terdapat empat pintu keberangkatan) dan tidak ada tempat menarik. Alhasil, setelah menunaikan sholat maghrib, saya pun mencari tempat duduk yang ada colokan listrik di dekatnya untuk menge-charge ponsel. Sekiitar 15 menit sebelum jam keberangkatan, saya masuk ke ruang tunggu dan tak lama kemudian terdengar panggilan untuk naik pesawat (boarding). Alhamdulillah, pesawat Wings Air berangkat tepat waktu malam itu, dan saya pun bisa kembali ke Bali. 

Itulah cerita delayed dan cancelled paling "dramatis" yang pernah saya alami. Semoga ke depannya, dua hal menyebalkan ini tidak akan terulang lagi. Kalau delayed beberapa menit saja sih, nggak masalah. Yang penting tidak sampai satu jam. (edyra)*** 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

KETIKA (TERPAKSA) HARUS MENGINAP DI BANDARA


Terkadang saat melakukan traveling/backpacking, kita terpaksa harus tidur di bandara dengan berbagai sebab. Salah satu alasannya adalah mungkin karena faktor biaya. Seperti kita ketahui, saat traveling, komponen biaya untuk penginapan bisa jadi adalah komponen yang paling merusak anggaran. Alasan lainnya bisa berupa menunggu penerbangan lanjutan, tiba terlalu malam di bandara tujuan, penerbangan delayed, atau malah penerbangan dibatalkan dan baru diberangkatkan keesokan harinya. 

 
Mushola di Suvarnabhumi Airport, Bangkok

Suvarnabhumi Airport, Bangkok, Thailand 
Inilah pengalaman pertama saya menginap di bandara. Saya “terpaksa” menginap di Suvarnabhumi Airport karena penerbangan berikutnya (Bangkok - Denpasar) pagi banget, jam 06.15. Daripada harus bangun pagi-pagi buta dan menanggung risiko ketinggalan pesawat, saya memilih untuk menginap gratis di Suvarnabhumi Airport saja. Tempat paling nyaman untuk tidur di bandara, pastinya adalah mushola. Dan untungnya di Suvarnabhumi Airport terdapat mushola. Meski mayoritas penduduk Thailand beragama Budha, Pemerintah Thailand menyediakan mushola yang cukup nyaman di Suvarnabhumi Airport. Asyiknya lagi, mushola ini buka 24 jam dan tidak ada inspeksi petugas keamanan. Jadi saya bisa tidur dengan nyenyak semalaman tanpa khawatir bakal diusir petugas keamanan. Jadi, pengalaman pertama menginap di bandara, asyik-asyik aja. 

Birmingham Airport, Birmingham

Birmingham Airport, Birmingham, Inggris
Saya terpaksa menginap di Birmingham Airport karena Pesawat Flybe yang membawa saya dari Edinburgh, Skotlandia mendarat di Birmingham Airport sekitar pukul 22.30. Untuk menghemat biaya taksi dan biaya hotel yang tarifnya lumayan menguras kantong (maklum nilai tukar Pound terhadap Rupiah sangat tinggi), saya memutuskan untuk menginap di Birmingham Airport. Seperti biasa, tempat favorit untuk tidur di bandara adalah di mushola. Sebelum terbang ke Birmingham, saya memang sudah browsing di internet untuk mencari informasi keberadaan mushola di Birmingham Airport. Kabar gembiranya, ternyata memang ada mushola di bandara tersebut. Namanya Multi-Faith Prayer Room. Letaknya di lantai dasar Terminal Keberangkatan, tepatnya di belakang Check in Counter Nomor 28. Sesuai dengan namanya, Multi-Faith Prayer Room bukan tempat beribadah khusus umat muslim tetapi untuk beberapa agama yaitu : Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Yahudi. Di dalam tempat ini tersedia sebuah rak sepatu dan lemari tempat menyimpan peralatan ibadah agama-agama tersebut. Sebenarnya saya sedih melihat kenyataan bahwa tempat ibadah umat muslim digabung dengan umat lainnya. Namun, bagaimana pun juga saya masih bersyukur ada “mushola” di bandara ini. Selesai mengambil air wudlu dan menunaikan Sholat Isya (jamak qashar dengan Sholat Maghrib), saya pun mempersiapkan “peraduan” agar bisa tidur dengan nyenyak. Namun saya tidak langsung tidur, khawatir masih ada orang yang akan sholat. Untunglah sampai menjelang subuh tidak ada satu pun orang yang masuk ke dalam mushola. Ketika masuk waktu Sholat Subuh, baru ada seorang muslim yang masuk ke dalam mushola untuk sholat subuh. Ternyata dia adalah salah seorang pegawai di bandara tersebut yang berasal dari Turki. 

 
 Mushola (Chapel Room) di London Stansted Airport

London Stansted Airport, Inggris 
Gara-gara pesawat Ryan Air yang membawa saya dari Fez, Maroko mendarat jelang tengah malam, saya terpaksa menginap di London Stansted Airport. Alasan utama saya menginap di bandara bukan untuk menghemat biaya hotel tapi karena saya malas harus menempuh jarak puluhan kilometer tengah malam sendirian. Selain itu, saya juga nggak enak tengah malam harus mengetok pintu rumah teman saya yang berada di daerah Hackney, London. Jadilah saya menginap di London Stansted Airport. Lagi-lagi pilihan tempat untuk tidur di London Stansted Airport adalah mushola yang namanya Chapel. Chapel ini merupakan tempat ibadah untuk beberapa agama yaitu, Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Yahudi. Sayangnya Chapel ini tidak dialasi karpet seperti tempat ibadah lainnya. Jadi saya harus menggelar beberapa sajadah sebagai alas tidur. Untuk selimut, saya sudah membawa kain pantai kesayangan saya. Asyiknya, di Chapel ini juga tidak ada pemeriksaan petuga keamanan. Selain itu, juga tidak ada pengunjung lain yang datang selama saya berada di sana. Jadi, saya bisa tidur cukup nyenyak di Chapel tersebut. 

 
Ruang tunggu di LCCT, Kuala Lumpur

Low Cost Carrier Terminal (LCCT), Kuala Lumpur, Malaysia
Karena hub maskapai andalan saya (Air Asia) berada di Low Cost Carrier Terminal (LCCT), Kuala Lumpur ini, mau nggak mau saya harus sering menyambangi bandara ini. Sialnya, penerbangan menuju kota-kota yang saya inginkan seringkali harus pagi-pagi buta. Jadi, dengan terpaksa saya harus menginap di bandara yang kurang bagus ini. Dulu, mushola di LCCT buka 24 jam dan pengunjung “boleh” tidur/menginap di sana. Saya pun pernah merasakan menginap di mushola tersebut. Namun, dengan semakin ramainya penumpang yang datang ke LCCT, sejak tahun 2012 mushola ditutup setelah jam 23.00. Bagian dalam terminal bandara juga ditutup. Alhasil, bagi penumpang yang ingin menginap di LCCT, harus mencari “tempat tidur” di luar mushola. Sialnya, LCCT ini hampir nggak pernah sepi sepanjang tahun. Jadinya, cukup susah juga mencari “tempat tidur” yang nyaman di sana. Apalagi kalau kita mendarat kemalaman. Dijamin nggak bakal dapat tempat duduk. Terakhir saya menginap di LCCT, saya harus tidur di restoran KFC karena sudah tidak kebagian tempat duduk di terminal bandara. Parahnya lagi, saya harus tidur dengan posisi duduk di kursi semalaman. Yang ada, saya nggak bisa tidur dan paginya kepala pusing karena ngantuk berat. Saya pun bertekad, nggak akan menginap lagi di LCCT. 

 
Mushola di Charles de Gaulle Airport, Paris

Charles de Gaulle Airport, Paris, Perancis 
Inilah pengalaman terburuk saya menginap di bandara. Sebenarnya Charles de Gaulle Airport merupakan bandara yang bagus. Bandara ini juga punya mushola dengan nama Mediatation Area atau Espace Recueillement (nama Perancisnya). Awalnya, saya nyaman-nyaman saja tiduran di mushola bandara ini. Selain saya, ada juga beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari Malaysia yang malam itu berniat menginap di Mushola Charles de Gaulle Airport. Anehnya, jelang tengah malam, mahasiswa dan mahasiswi asal Malaysia tersebut meninggalkan mushola. Jadilah saya sendirian di dalam mushola. Saya pun bersyukur karena bakalan tidur dengan nyaman tanpa gangguan pengunjung lain. Sayangnya harapan saya tidak terkabul. Tak sampai satu jam saya tidur, tiba-tiba datang dua petugas keamanan dengan postur badan tinggi besar dan berkulit hitam lengkap dengan anjing herder yang cukup besar. Saya pun kaget setengah mati. Mereka langsung memarahi saya dalam Bahasa Perancis yang tidak begitu saya mengerti. Karena saya bilang, saya tak bisa berbahasa Perancis, mereka lantas memarahi saya dalam Bahasa Inggris dan mengusir saya dengan kasar. Saya pun segera keluar dari mushola dan mencari tempat lain yang cukup nyaman. Untunglah masih banyak kursi kosong di terminal bandara. Namun, saya nggak bisa tidur karena masih trauma. 

Ngurah Rai International Airport, Denpasar, Bali, Indonesia
Tak pernah sedikit pun terlintas di benak saya, jika (akhirnya) saya akan menginap di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Secara, saya tinggal di Bali dan mempunyai banyak teman di Bali. Referensi hotel murah di Bali pun saya tahu. Dari yang paling murah (puluhan ribu rupiah) sampai yang paling mahal (jutaan rupiah) saya tahu. Namun, yang namanya takdir memang tak dapat dihindari (lebay.com). Ceritanya begini. Saat itu, saya dan teman akan terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia dengan penerbangan terakhir Air Asia yang menurut jadwal akan berangkat jam 22.05 WITA. Saya tiba di bandara tepat waktu, dan seperti biasa melakukan ritual sebelum penerbangan mulai dari verifikasi dokumen (saya sudah chek in di rumah via web check in) di counter check in, bayar airport tax yang sangat mahal, clearance paspor dan menunggu keberangkatan pesawat di ruang tunggu. Bahkan, kami juga menunaikan Sholat Isya karena belum sempat sholat di rumah. Sekitar pukul 21.15, terdengar perintah untuk memasuki ruang tunggu. Saya dan teman pun segera memasuki ruang tunggu. Sayangnya, sampai jam 22.00 lebih belum ada kejelasan kapan pesawat akan terbang. Alamat bakal delay nih. Menjelang jam 11.00, baru ada pengumuman bahwa pesawat delay sampai waktu yang belum ditentukan karena cuaca buruk (hujan angin) di Kuala Lumpur. Saya dan teman tetap menunggu di ruang tunggu sambil menanti pengumuman selanjutnya. Lepas tengah malam petugas mengumumkan bahwa pesawat delay sampai jam 04.00 pagi. Daripada pulang ke Denpasar dan harus kembali lagi ke bandara pagi-pagi buta, saya dan teman memutuskan menginap di bandara. Seperti biasa, pilihan tempat menginap adalah di mushola. Setelah mengambil refreshment makanan dan minuman berupa Paket Nasi McDonald, saya dan teman bergegas menuju mushola yang berada satu area dengan ruang tunggu tersebut. Kami segera merebahkan diri di dalam mushola karena sudah ngantuk. Untungnya, tidak ada pengunjung lain yang datang ke mushola selain kami berdua. Alhasil, kami pun tidur dengan nyenyak. (edyra)*** 

 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments