ENJOYING CABLE CAR WITH BREATHTAKING VIEW
Posted in
Labels:
Keliling Dunia
|
at
12:10
![]() |
| Bersiap menaiki Great Wall Cable Car di Mutianyu |
Naik kereta gantung merupakan salah satu cara
menikmati panorama suatu tempat dari ketinggian. Di Indonesia kita menyebutnya
kereta gantung. Di luar negeri namanya macam-macam : cable car (Bahasa Inggris), gondola
(Bahasa Italia), teleferico (Bahasa
Spanyol), telepherique (Bahasa
Perancis), dan lain-lain. Naik kereta gantung memberikan pengalaman yang campur
aduk, antara deg-degan, senang hingga takjub. Anda akan dibuat deg-degan saat
berada di ketinggian ratusan meter, tapi sekaligus takjub dan gembira bisa melihat
panorama menawan dari ketinggian. Karena suka berada di ketinggian, saya tak
mau melewatkan kesempatan naik kereta gantung ketika jalan-jalan keluar negeri.
Bagi yang fobia ketinggian, tentunya tidak saya sarankan untuk menaiki kereta
gantung. Berikut lima pengalaman saya
naik kereta gantung ketika berlibur keluar negeri.
![]() |
| Panorama Pulau Sentosa dan laut dilihat dari Singapore Cable Car |
Singapore Cable Car, Singapura
Inilah pengalaman pertama saya naik kereta gantung yang akhirnya membuat ketagihan. Tak tanggung-tanggung, saya melakukannya di negara tetangga, Singapura. Sebenarnya saya tahu kalau di Indonesia juga ada kereta gantung, yaitu di Taman Mini Indonesia Indah dan di Taman Impian Jaya Ancol. Namun, karena berbagai alasan, saya belum punya kesempatan untuk menaikinya. Makanya, ketika jalan-jalan ke Singapura pada Bulan Juli 2008, saya mencoba naik Singapore Cable Car dari Stasiun Harbour Front Tower 2 ke Stasiun Sentosa Island, dengan membayar tiket sejumlah SGD 19 (dulu sekitar Rp 123.500,00). Sebenarnya
ada cara yang lebih murah untuk mencapai Pulau Sentosa dari daratan utama
Singapura, yaitu dengan naik bus atau kereta api (monorel). Namun, saya memilih
naik kereta gantung karena seumur-sumur saya belum pernah merasakannya.
Pengalaman pertama naik kereta gantung, sangat menyenangkan karena pada
dasarnya saya senang berada di ketinggian (berada di tempat yang tinggi). Dari
kereta gantung ini, saya bisa melihat panorama indah Singapura, Selat Pulau
Sentosa, bahkan Pulau Batam (Indonesia) karena saat itu cuaca cerah. Singapore Cable Car melewati rute sepanjang 1.750 meter, dengantiga stasiun. Stasiun awal berada di atas bukit Mount Faber, stasiun kedua di Harbour
Front, dan stasiun ketiga di Pulau Sentosa. Dari Stasiun Mount Faber
menuju Stasiun Harbour Front Tower 2
lintasan kereta gantung ini menurun cukup terjal karena turun dari Bukit Mount Faber yang memiliki ketinggian 120
meter di atas permukaan laut. Selanjutnya dari Harbour Front Tower 2 menuju Stasiun Sentosa Island lintasan mendatar tapi melewati selat sempit.
![]() |
| Genting Skyway melintasi kawasan hutan hijau di jurang perbukitan yang diselimuti kabut |
Genting Skyway, Malaysia
Pengalaman kedua
naik kereta gantung adalah saat mengunjungi Genting
Highland, Malaysia. Genting Highland merupakan dataran
tinggi yang berjarak sekitar 51 km dari Kuala Lumpur. Di tempat ini sudah dibangun kawasan wisata terpadu
yang bernama Genting Resort World (satu grup dengan Sentosa Resort World, Singapore) yang
terdiri dari taman bermain (amusement
park) semacam Dufan, kasino, pusat perbelanjaan, dan hotel. Kawasan
wisatanya menurut saya kurang menarik, baik dari segi bangunan maupun atraksi
wisata yang ditawarkan. Wahana permainan yang ada jauh lebih menarik dan
menantang di Dufan, Ancol. Yang menarik adalah kereta gantung menuju Genting Highland yang dinamakan Genting Skyway. Menaiki Genting Skyway benar-benar memacu
adrenalin. Kereta gantung ini memiliki jalur sepanjang 3,38 km dengan rute yang
menanjak sangat terjal. Dari stasiun awal di Gohtong Jaya, rute kereta gantung
langsung menanjak melewati kawasan hutan hijau di perbukitan dengan konyur
tanah yang miring. Semakin ke atas rutenya semakin menanjak terjal dengan
kemiringan lebih dari 30 derajat. Di bawah jalur kereta gantung menganga jurang-jurang
dalam penuh bebatuan. Pemandangan yang terlihat dari jendela kereta gantung
memang menakjubkan. Hamparan hutan hijau yang diselimuti kabut tipis menutupi
lereng perbukitan di antara jurang yang dalam. Mata saya yang tadinya
mengantuk, mendadak segar melihat panorama hijau di mana-mana sehingga
perjalanan selama 15 menit pun tak terasa.
Great Wall Cable Car, Cina
Tembok Besar Cina (Great Wall) memiliki beberapa tempat yang bisa diakses turis, di
antaranya adalah Badaling, Mutianyu (baca : Mu Tian Yu), dan Simatai. Ketiga tempat tersebut
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Badaling letaknya paling dekat
dari Beijing dan paling mudah dicapai sehingga paling ramai dikunjungi turis.
Mutianyu letaknya cukup jauh dari Beijing tapi lebih indah dari Badaling dan
tak seramai Badaling. Sedangkan Simatai letaknya paling jauh dari Beijing dan
pastinya lumayan sulit dicapai. Dengan mempertimbangkan segala kelebihan dan
kekurangannya, saya dan teman memilih untuk mengunjungi Mutianyu. Baik di
Badaling maupun Mutianyu tersedia kereta gantung yang akan membawa
turis/pengunjung dari tempat parkir menuju Tembok Besar. Namanya Great Wall Cable Car. Maklum, jarak dari
tempat parkir menuju Tembok Besar cukup jauh dan jalannya menanjak cukup terjal.
Sebenarnya, kita bisa saja jalan kaki menuju Tembok Besar asalkan badan fit dan
cuaca mendukung. Namun, karena saat itu sedang memasuki pergantian musim dari
musim dingin ke musim semi di mana suhu udara cukup dingin bagi saya yang
terbiasa tinggal di daerah tropis, kami dengan mantap memilih naik kereta
gantung. Apalagi jalan menuju Tembok Besar mendaki terjal dan saat itu kami
kurang tidur karena pesawat kami mendarat di Beijing tengah malam. Jalur Mutianyu Great Wall Cable Car tidak
begitu panjang tapi menanjak terjal karena mendaki. Panorama yang terlihat dari
dalam kereta gantung tergolong biasa saja, hanya pegunungan berbatu dengan
sedikit pepohonan. Saat pagi hari, kabut tipis menyelimuti pegunungna tersebut
sehingga memberi kesan mistis.
Ngong Ping 360, Hong Kong
Saat jalan-jalan ke Hongkong, saya juga mencoba
naik kereta gantung yang ada di sana. Namanya Ngong Ping 360 Cable Car.
Kereta gantung ini berada di Pulau Lantau dengan jalur sepanjang 5,7 km. Ngong Ping 360 membawa pengunjung dari
Stasiun Tung Cung berada di dataran rendah (dekat pantai) menuju Stasiun Ngong
Ping yang berada di atas bukit tinggi. Ngong Ping sendiri merupakan kawasan
wisata di mana terdapat tiga atraksi menarik, yaitu Desa Ngong Ping, Biara Po
Lin (Po
Lin Monastery), dan Patung Budha raksasa setinggi 34 meter. Jalur Ngong Ping 360 akan memacu adrenalin
Anda karena rutenya mendaki cukup terjal melewati laut/selat dan bukit berbatu
yang cukup tinggi. Pemandangan yang ditawarkan sangat menawan berupa laut, perbukitan,
gedung-gedung pencakar langit, dan Bandara Internasional Hongkong yang dibangun
di atas pulau buatan hasil reklamasi.
![]() |
| Hamparan salju dan deretan pohon pinus yang terlihat dari Gondola Gulmarg |
Gulmarg Gondola, Kashmir, India
Sejauh ini, Gondola Gulmarg di Kashmir, India
merupakan kereta gantung dengan panorama paling spektakuler yang pernah saya
naiki. Gondola Gulmarg merupakan salah satu gondola (kereta gantung) tertinggi
di dunia karena stasiun tertingginya berada di ketinggian lebih dari 4.000
meter di atas permukaan laut (dpl). Gondola Gulmarg membawa turis/pengunjung
dari Stasiun Gulmarg (stasiun awal) menuju Stasiun Kongdori (Gulmarg Fase I
yang berada di ketinggian 3.050 dpl), dan Stasiun Affarwat (Gulmarg Fase II
yang berada di ketinggian 4.084 dpl). Saat terbaik menaiki Gondola Gulmarg
adalah di musim dingin, ketika suhu udara di bawah 0 derajat. Saat itu,
panorama yang terlihat dari jendela gondola sangat menakjubkan. Sejauh mata
memandang yang terlihat hanyalah hamparan salju putih, pucuk-pucuk pohon pinus,
dan puncak-puncak gunung yang diselimuti salju. Sesekali gondola menembus gumpalan
awan putih di bawah naungan langit biru. Sensasinya benar-benar susah
dilukiskan dengan kata-kata. (edyra)***
GULMARG, INDIA WINTER WONDERLAND
Posted in
Labels:
India
|
at
16:56
| Bermain salju di puncak Gunung Affarwat (Gulmarg Fase II) |
Bagi Orang Indonesia yang tinggal di daerah tropis,
liburan ke tempat bersalju merupakan salah satu impian. Biasanya tempat yang
dituju tak jauh-jauh dari Cina, Korea, Jepang, Australia atau Eropa bagi yang
mempunyai dana lebih. Sangat jarang (bahkan tidak ada) yang memasukkan India
sebagai destinasi liburan musim dingin. Maklum, mereka menganggap iklim di
India tak jauh beda dengan di Indonesia sehingga tidak bisa melihat salju. Padahal
India juga mempunyai sebuah tempat bersalju yang tak kalah indahnya dengan
negara-negara tersebut. Namanya Gulmarg. Kota yang berada di bagian barat laut
India ini sering disebut-sebut sebagai “Swissnya India” karena keindahan
gunung-gunungnya yang berselimut salju lengkap dengan pohon-pohon pinus yang mirip
dengan Pegunungan Alpen di Swiss.
Gulmarg merupakan destinasi liburan musim dingin
favorit Warga India terutama bagi penggemar olahraga pemacu adrenalin seperti
ski. Gulmarg terletak di Negara Bagian Jammu dan Kashmir, salah satu wilayah di
India yang rawan konflik karena letaknya dekat dengan perbatasan Pakistan.
Negara bagian ini sudah lama menjadi rebutan tiga negara (Cina, India, dan
Pakistan) karena keindahan alamnya. Tak heran kalau turis asing tak begitu
banyak yang mengunjungi Kashmir karena khawatir akan kondisi keamanan di sana.
Padahal kenyataannya, Kashmir sangat aman untuk turis karena polisi dan tentara
berjaga di mana-mana, siap untuk melindungi warga dan turis.
| Menikmati hujan salju di Kongdori (Gulmarg Fase I) |
Negara Bagian Jammu dan Kashmir beribu kota di
Srinagar. Kota ini merupakan gerbang untuk menjelajah tempat-tempat menarik di
Kashmir, termasuk Gulmarg. Untuk mencapai Srinagar dari New Delhi ada dua cara. Cara pertama
dan termurah adalah dengan bus dan kereta tapi memakan waktu cukup lama, 20 jam
lebih. Opsi ini cocok bagi Anda yang punya waktu liburan cukup banyak. Cara
kedua yang paling praktis dan cepat, tentunya dengan naik pesawat terbang. Karena
waktu saya terbatas, saya memilih opsi ini. Saya dan teman terbang dengan
Indigo (salah satu maskapai murah di India) dari Bandara Internasional Indira
Gandhi, New Delhi menuju Bandara Internasional Srinagar. Penerbangan menuju
Srinagar memakan waktu sekitar dua jam dengan pemandangan menakjubkan puncak-puncak
Gunung Himalaya yang berselimut salju di perjalanan.
Tujuan utama saya berlibur ke Kashmir tak lain
adalah untuk bermain salju di Gulmarg. Untuk mencapai Gulmarg yang berjarak sekitar
60 km dari Srinagar, ada tiga cara, yaitu : naik bus umum dengan jadwal sekali
sehari, menyewa kendaraan yang pastinya lebih leluasa atau ikut paket tur yang
harganya lumayan mahal. Sebenarnya saya dan teman berencana naik bus umum. Bus
ini akan berangkat dari Srinagar pada pukul 09.00 pagi dan kembali ke Srinagar
dari Gulmarg pada pukul 17.00. Risiko naik bus umum adalah bila ketinggalan bus
balik dari Gulmarg, kita harus menyewa kendaraan dari Gulmarg yang tentunya
sangat mahal. Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan kebetulan hotel tempat
kami menginap menawarkan mobil dengan harga sewa yang cukup murah (nggak jauh
beda dengan naik bus umum), kami lebih memilih naik mobil hotel. Soalnya, kami
jadi lebih leluasa dan tidak perlu khawatir ketinggalan bus.
![]() |
| Lalu lintas di Kota Srinagar yang macet dan semrawut |
Tepat jam 09.00 pagi keesokan harinya, kami
berangkat meninggalkan Srinagar dengan mobil jeep hotel kami. Jalanan di
Srinagar cukup ramai dan semrawut. Apalagi saat itu sedang ada perbaikan jalan
di sana-sini sehingga perjalanan jadi tersendat. Selain saya, teman, dan
pemilik hotel yang merangkap sebagai pemandu (tour guide), ternyata ada penumpang lain yang ikut di mobil kami,
seorang turis dari Mauritius yang tak lain adalah tamu hotel juga. Rupanya
pemilik hotel mencari tambahan peserta tur agar lebih untung. Tapi tak mengapa. Yang penting harga sesuai kesepakatan semula dan dia tidak membatasi waktu
kunjungan ke Gulmarg.
Setelah keluar dari Kota Srinagar, jalanan mulai
lancar, tak ada lagi kemacetan. Pemandangan juga makin indah karena kami
melewati kawasan pedesaan, dengan ladang-ladang gandum dan bunga warna-warni. Mata
saya yang tadinya mengantuk, jadi segar kembali melihat hamparan bunga
bermekaran di ladang.
Sekitar satu jam berkendara, kami tiba di daerah
Tangmarg. Tempat ini merupakan tempat pemberhentian (rest area) bagi para turis yang akan menuju Gulmarg, di mana
banyak terdapat warung-warung yang menjual makanan dan minuman hangat. Kami
berhenti sejenak di salah satu warung untuk menikmati teh hangat dan kue-kue
khas Kashmir. Di tengah udara yang dingin, nikmat sekali menyeruput teh hangat
ditemani kue-kue lezat. Apalagi setelah ini, sudah tidak ada lagi penjual
makanan/minuman lagi. Selain itu, kami juga ke toilet. Udara dingin membuat
kami pengen sering buang air.
Kami melanjutkan perjalanan kembali, dan tak lama
kemudian kami memasuki wilayah Gulmarg. Hal ini ditandai dengan sebuah gerbang
dan mulai banyak pohon-pohon pinus di kanan kiri jalan. Di sebuah tempat penyewaaan
jaket dan sepatu boot, sopir menghentikan kendaraan dan memberi kesempatan
kepada kami kalau ingin menyewa kedua benda tersebut. Karena sudah memakai
jaket tebal dua lapis, kami tak menyewa jaket lagi. Kami hanya menyewa sepatu
boot khusus untuk tempat bersalju. Pasalnya kami hanya memakai sepatu sneaker yang pastinya tidak cocok untuk
medan bersalju.
Perjalanan kami lanjutkan kembali melewati medan
yang makin ekstrim. Jalan makin menanjak terjal dan berkelok-kelok menyusuri punggung gunung. Kendaraan kami pun
berjalan lebih pelan. Namun, panorama makin menawan karena di kanan kiri kami
adalah hutan pinus yang dasarnya tertutup hamparan salju putih. Saya pun makin
tak sabar tiba di Gulmarg.
![]() |
| Hotel Hilltop Gulmarg yang dikepung timbunan salju |
Tak berapa lama kemudian kami pun tiba di Gulmarg.
Jeep-jeep dan mobil pribadi tampak memenuhi tempat parkir. Meski cuaca sedang
mendung dan udara dingin menggigit, ternyata Gulmarg tetap ramai. Segera saya
memakai topi kupluk, syal, dan sarung tangan sebelum turun dari mobil. Tak lupa
juga sepatu boot karena saya lihat salju di mana-mana. Sejauh mata memandang
yang terlihat hanya hamparan salju putih dengan pohon-pohon pinus yang tak
kelihatan akarnya karena tertimbun salju. Bahkan, beberapa bangunan hotel hanya
nampak atap dan sebagian dinding atasnya. Dinding bagian bawah bangunan
tertutup timbunan salju tebal.
Pemandu hanya mengantarkan kami sampai di tempat
parkir Gulmarg. Selanjutnya kami diberi kebebasan untuk menikmati Gulmarg,
sementara dia menunggu di sekitar tempat parkir. Tanpa membuang waktu, kami
segera berjalan menuju stasiun gondola yang akan membawa kami ke Puncak Gunung
Affarwat, tempat kami akan bermain salju. Saat musim panas, sebenarnya kita
bisa berjalan kaki untuk mendaki puncak Gunung Affarwat. Namun, saat musim
dingin di mana salju tebal menghampar di mana-mana, satu-satunya cara untuk
mencapai puncak Gunung Affarwat adalah dengan gondola.
![]() |
| Para turis ngantri untuk naik Gondola Gulmarg di Stasiun Gulmarg |
Dari tempat parkir kami harus berjalan sekitar 500
meter untuk mencapai Stasiun Gondola Gulmarg. Sayangnya, tak ada rambu-rambu/petunjuk
arah yang jelas menuju stasiun gondola maupun loket penjualan tiket. Alhasil,
kami salah ngantri. Kami mengira loket penjualan tiket berada di gedung yang
sama dengan stasiun gondola. Nggak tahunya tempatnya terpisah cukup jauh. Loket
penjualan tiket gondola berada sekitar 200 meter sebelum stasiun gondola.
Jadinya, kami harus keluar dari antrian di stasiun gondola menuju tempat
penjualan tiket. Padahal kami sudah antri lumayan lama di stasiun gondola.
![]() |
| Gondola Gulmarg merupakan salah satu gondola tertinggi di dunia |
Gondola Gulmarg merupakan salah satu gondola
tertinggi di dunia dan mempunyai dua stasiun pemberhentian. Stasiun Fase I
bernama Kongdori, berada di ketinggian 3.050 meter di atas permukaan laut (dpl)
dan Stasiun Fase II bernama Affarwat, berada di ketinggian 4.084 meter dpl. Kami
membeli tiket pulang pergi dengan tujuan Affarwat seharga Rs 1.400,00 (sekitar
Rp 266.000,00).
![]() |
| Pemandangan yang terlihat dari dalam gondola |
Setelah mendapat tiket, kami segera menuju stasiun
gondola untuk mengantri lagi. Untungnya antrian sudah tidak begitu panjang. Tak
sampai sepuluh menit, kami sudah berada di dalam gondola. Panorama yang
terlihat dari dalam gondola sangat menakjubkan. Sejauh mata memandang yang
terlihat hanyalah hamparan salju putih dan pucuk-pucuk pohon-pohon pinus.
Semakin ke atas, panorama semakin menawan. Kami seperti berada di negeri di
atas awan karena di atas kami hanya ada langit biru, sedangkan awan-awan putih
berada di bawah kami. Saya yang biasa tinggal di tropis dan belum pernah
melihat hamparan salju seluas ini, sampai bengong tak bisa berkata-kata.
![]() |
| Pepohonan pinus dan hampatran salju di Kongdori (Gulmarg Fase I) |
Tak lama kemudian, kami tiba di Stasiun Fase I
Kongdori. Dari sini pemandangan sudah menawan, salju pun terhampar luas. Permainan
ski, seluncur salju dan lain-lain bisa dilakukan di sini. Namun, kami tidak
turun dulu di Kongdori. Kami pindah gondola untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun
Fase II Affarwat.
![]() |
| Suasana di Kongdori yang ramai turis |
Perjalanan dari Kongdori menuju Affarwat sangat
menantang. Rute gondola langsung menanjak terjal dengan kemiringan lebih dari
30 derajat. Sesekali gondola menembus gumpalan awan putih yang membuat jantung
kami berdebar-debar. Pemandangan yang tersaji di hadapan membuat kami berdecak
kagum. Salju putih terhampar di mana-mana dengan langit biru yang memayunginya.
Sayangnya kaca jendela gondola kotor dan banyak goresan sehingga menyulitkan
saya untuk memotret panorama indah tersebut.
![]() |
| Stasiun akhir Gondola Gulmarg di Affarwat |
Akhirnya kami tiba di pemberhentian terakhir Gondola
Gulmarg, yaitu Stasiun Fase II Affarwat. Kami segera turun dari gondola dan
keluar dari stasiun. Kami disambut pemandangan yang spektakuler begitu keluar
stasiun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan salju putih,
puncak-puncak gunung, dan pucuk-pucuk pohon-pohon pinus. Puncak Gunung Himalaya
serta perbatasan India dan Pakistan juga nampak dari sini. Asyiknya lagi, turis
tak begitu banyak di Affarwat. Kami seperti berada di negeri di atas awan
karena di atas kami hanya ada langit biru, sedangkan awan-awan putih berada di
bawah kami. Sesaat saya hanya bengong dan tak bisa berkata apa-apa. Saya
seperti tak percaya dengan pemandangan yang tersaji di hadapan saya, yang sulit
dilukiskan dengan kata-kata. Satu-satunya cara untuk melukiskan keindahan
Gulmarg adalah merekamnya dalam bentuk foto atau video. Makanya saya
mengabadikannya dengan kamera kesayangan. Tak salah kalau Gulmarg mendapat
julukan sebagai “Swissnya India.”
![]() |
| Panorama menakjubkan yang terlihat di Affarwat |
Puas bermain salju dan memotret di Affarwat, kami
turun dengan gondola menuju ke Stasiun Fase 1 Kongdori. Di sini suasana lebih
ramai, meski saat itu langit mendung. Ada tempat penyewaan alat-alat ski,
seluncur salju dan tobbogan. Ada juga pedagang asongan yang menjual makanan dan
minuman. Nampak orang-orang tengah asyik bermain ski, seluncur salju atau sekedar
bermain-main salju. Kami pun bergabung bersama mereka untuk bermain-main salju.
![]() |
| Panorama menawan di Kongdori |
Lagi asyik-asyiknya bermain salju, tiba-tiba turun
hujan salju. Awalnya hanya rintik-rintik kecil sehingga kami sangat
menikmatinya. Kami membiarkan serpihan-serpihan salju menerpa tubuh kami.
Tentunya kami menikmatinya sambil berfoto. Maklum, bagi kami yang tinggal di
daerah tropis, hujan salju merupakan fenomena langka. Namun, karena hari makin
sore dan hujan salju tak juga berhenti, kami terpaksa mengakhiri kunjungan di
Kongdori. Kami masuk ke dalam stasiun dan antri untuk naik gondola yang akan
membawa kami kembali ke Stasiun Gulmarg.
![]() |
| Para turis bermain ski di Kongdori |
![]() |
| Permainan seluncur salju di Kongdori |
Seiring gondola yang bergerak meninggalkan Stasiun
Kongdori, berakhir pula liburan kami di Gulmarg. Rasanya berat sekali
meninggalkan Gulmarg. Namun, kami sangat puas karena kami pulang membawa
segudang pengalaman baru yang tak mungkin terlupakan. Semoga suatu hari nanti
kami bisa kembali ke Gulmarg.
![]() |
| Para turis menikmati hujan salju di Kongdori |
How to Get There
Gulmarg berada di Negara Bagian Jammu dan Kashmir,
India. Untuk mencapai Gulmarg, Anda harus terbang dulu ke Srinagar, ibu kota
Jammu dan Kashmir. Dari Jakarta, Anda harus terbang dulu ke New Delhi, kemudian
terbang lagi ke Srinagar. Dari Srinagar, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke
Gulmarg dengan bus atau menyewa kendaraan. Kalau tak ingin repot, Anda bisa
ikut paket tur ke Gulmarg, yang banyak ditawarkan berbagai biro perjalanan dan
hotel di Srinagar.
Tips Enjoying Gulmarg
- Bila Anda ingin melihat dan bermain salju di Gulmarg, waktu terbaik untuk berkunjung ke sana adalah saat musim dingin (Desember - Februari) hingga musim semi (Maret - Mei).
- Pastikan kamera Anda bisa beroperasi di suhu rendah (minus) karena Anda akan memotret di daerah bersalju dengan suhu udara di bawah 0 derajat Celcius.
- Bila Anda berkunjung ke Gulmarg saat musim dingin, jangan lupa membawa jaket tebal, syal, topi kupluk, sarung tangan dan peralatan musim dingin lainnya!.
- Tak perlu khawatir bila Anda lupa membawa jaket tebal dan sepatu boot! Di Tangmarg (desa sebelum Gulmarg) terdapat tempat penyewaan jaket tebal dan sepatu boot. Selain itu, Anda juga bisa membelinya di Srinagar.
- Jangan lupa membawa kaca mata hitam karena hamparan salju putih sangat menyilaukan mata bila terkena sinar matahari.
- Jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman secukupnya karena udara dingin membuat Anda cepat lapar. (Edyra)***
LAPOPU, AIR TERJUN TERINDAH DI PULAU SUMBA
Posted in
Labels:
East Nusa Tenggara
|
at
17:47
![]() |
| Menikmati keindahan Air Terjun Lapopu |
Pulau
Sumba terkenal akan alamnya yang gersang dan udaranya yang panas. Namun, di
balik semua itu, pulau di Nusa Tenggara Timur ini menyimpan banyak keindahan alam yang belum diketahui khalayak
ramai. Mulai dari pantai, danau, gua hingga air terjun. Semuanya masih alami
dan belum tersentuh komersialisasi. Salah satu yang menarik perhatian saya
adalah Air Terjun Lapopu. Air terjun ini bak oase di tengah gersangnya Pulau
Sumba.
Air
Terjun Lapopu berada di dalam kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru,
tepatnya di Desa Lapopu, Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat. Jaraknya
sekitar 24 km dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Sayangnya, dari
Waikabubak tak ada satu pun rambu-rambu atau penunjuk arah ke Air Terjun
Lapopu. Petugas hotel yang saya tanya, hanya memberi petunjuk bahwa air terjun
ini berada di daerah Wanokaka, tanpa memberikan penjelasan yang detil bagaimana
rute jalan ke sana.
Dengan
modal nekad, sore hari saya berangkat sendirian menuju Air Terjun Lapopu dengan
mengendarai sepeda motor yang saya sewa dari tukang ojek. Saya mengarahkan sepeda
motor menuju Wanokaka. Ternyata jalan menuju Wanokaka juga minim rambu-rambu.
Padahal Wanokaka merupakan kota kecamatan. Setelah melewati Wanokaka, saya
menjumpai banyak pertigaan jalan tanpa rambu-rambu sama sekali. Mau tak mau
saya bertanya arah jalan ke penduduk setempat agar tidak tersesat. Untunglah
saya bisa tiba dengan selamat di tempat parkir Air Terjun Lapopu setelah
menempuh perjalanan selama hampir 45 menit.
Suasana
di sekitar tempat parkir Air Terjun Lapopu sangat sepi sore itu. Tak ada satu
pun pengunjung selain saya. Pohon-pohon tinggi berdaun rindang yang banyak
tumbuh di sana semakin menambah asri suasana sekaligus menambah kesan mistis. Ada
beberapa bangunan di sekitar tempat parkir tersebut, di antaranya adalah pos
untuk membayar retribusi masuk ke Air Terjun Lapopu, kantor/pos jaga Taman
Nasional Manupeu Tanah Daru, dan toilet. Semuanya kosong, tak ada penjaganya
satu pun. Tak jauh dari situ, terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro
(PLTMH) Lapopu yang airnya berasal dari Air Terjun Lapopu. PLTMH ini mempunyai
kapasitas energi 2 x 800 KWH dan akan menyuplai jaringan PLN.
Ketika
saya hendak meninggalkan tempat parkir, tiba-tiba muncul seorang bapak dari
Gedung PLTMH Lapopu. Dia menyapa saya dengan ramah dan menanyakan maksud
kedatangan saya. Saya pun menjawab ingin mengunjungi Air Terjun Lapopu. Rupanya
bapak tersebut adalah salah satu penjaga PLTMH Lapopu. Karena saya sendirian dan
sedikit ngeri juga berkelana sendirian di kawasan taman nasional yang banyak
ditumbuhi pohon-pohon besar, saya meminta bapak tersebut menemani saya menuju
Air Terjun Lapopu. Untunglah bapak tersebut tidak menolak ajakan saya.
Sebenarnya
memang tidak disarankan mengunjungi Air Terjun Lapopu seorang diri. Maklum,
lokasi air terjun ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
yang ditumbuhi hutan lebat. Selain itu, tempatnya juga jauh dari perkampungan
penduduk dan menurut penduduk setempat, kawasan Air Terjun Lapopu juga masih
angker. Jadi, sebaiknya memang tidak sendirian ke sana.
Tanpa
membuang waktu, saya segera berjalan menuju Air Terjun Lapopu ditemani bapak
penjaga PLTMH Lapopu (maaf, saya lupa namanya). Kami berjalan menyusuri jalan
setapak di pinggir sungai, di bawah naungan pepohonan rindang. Kami juga harus
meniti jembatan bambu darurat untuk menyeberangi sungai. Jembatan tersebut
merupakan hasil swadaya masyarakat setempat yang dibuat untuk memudahkan para
turis dan pengunjung Air Terjun Lapopu. Sebelum ada jembatan tersebut,
pengunjung cukup kerepotan mencapai air terjun. Mereka harus berjalan melintasi
aliran sungai di antara bebatuan yang licin. Saat musim penghujan lebih parah
lagi karena sungai menjadi lebih dalam dan arusnya cukup deras.
Dari
jembatan bambu tersebut, Air Terjun Lapopu yang menjulang tinggi sudah terlihat
dengan jelas. Sungai yang mengalir di bawah jembatan juga terlihat eksotis karena
airnya berwarna hijau toska dengan taburan batu-batuan beragam bentuk dan
ukuran. Baru kali ini saya melihat sungai dengan air berwarna hijau toska
seperti itu. Rupanya dasar sungai yang berupa batu kapur lah yang menyebabkan
sungai tersebut berwarna hijau toska.
Setelah
menyeberangi jembatan bambu, tiba juga kami di depan Air Terjun Lapopu. Sesaat
saya bengong, melihat air terjun yang sangat menakjubkan di depan mata saya. Saya
sangat bersyukur bisa menyaksikan keindahan Air Terjun Lapopu dengan mata
kepala sendiri. Air Terjun Lapopu bentuknya cukup unik. Tidak seperti air
terjun kebanyakan di mana air terjun jatuh dari tebing yang berdiri tegak, Air
Terjun Lapopu merupakan air terjun bertingkat (cascading). Air terjun ini jatuh dari tebing yang miring dan
bertingkat-tingkat (berundak-undak) dengan total ketinggian mencapai 92 meter
di atas permukaan sungai. Kemudian air menyebar di sela-sela pepohonan dan
akhirnya jatuh ke kolam yang airnya jernih berwarna hijau toska. Kolam ini
membentuk sungai dengan taburan bebatuan aneka bentuk dan ukuran. Bila Anda
ingin mandi atau sekedar bermain air, kolam tersebut merupakan lokasi yang
tepat.
Sebenarnya
saya ingin mandi di kolam hijau toska yang berada di bawah Air Terjun Lapopu.
Namun, karena hari sudah sore saya mengurungkan niat tersebut. Saya lebih
memilih untuk mengabadikan keindahan Air Terjun Lapopu dengan kamera kesayangan
saya. Saya memotretnya dari berbagai sudut tanpa gangguan siapa pun karena saat
itu memang tak ada pengunjung lain. Dengan penampilan Air Terjun Lapopu yang
sudah cantik seperti itu, tentunya tak sulit mendapatkan foto-foto indah.
Ibaratnya, asal jepret saja, Anda pasti bisa mendapatkan foto yang menarik.
Apalagi bila Anda memang sudah ahli/jago untk urusan fotografi. Saya yakin,
foto-foto menakjubkan seperti di kartu pos atau kalender bisa Anda dapatkan
dengan mudah. Tak heran kalau Air Terjun Lapopu mendapat predikat sebagai air
terjun terindah di Sumba.
How to Get There
Untuk
mencapai Air Terjun Lapopu, Anda harus terbang dulu ke Tambolaka, Sumba Barat
Daya. Untuk mencapai Tambolaka, Anda bisa terbang dari Denpasar (dengan Garuda
Indonesia atau Wings Air) atau Kupang (dengan Garuda Indonesia dan Trans Nusa).
Dari Tambolaka/Waitabula, lanjutkan perjalanan ke Waikabubak, ibu kota
Kabupaten Sumba Barat. Anda bisa naik kendaraan umum (travel/bus/ojek) untuk
mencapai Waikabubak. Selanjutnya, Anda bisa menyewa kendaraan atau naik ojek
untuk mencapai Air Terjun Lapopu karena tidak ada kendaraan umum menuju air
terjun ini. Dari Waikabubak arahkan kendaraan Anda menuju Wanokaka. Setelah sampai
di Wanokaka, Anda harus banyak bertanya arah ke penduduk setempat karena tidak
ada satu pun rambu-rambu atau penunjuk arah ke Air Terjun Lapopu. Setelah tiba di tempat parkir, lanjutkan
perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter, menyusuri tepian sungai dan
menyeberangi jembatan bamboo hingga tiba di Air Terjun Lapopu. (edyra)***
Subscribe to:
Posts (Atom)































