ENJOYING CABLE CAR WITH BREATHTAKING VIEW

Bersiap menaiki Great Wall Cable Car di Mutianyu




Naik kereta gantung merupakan salah satu cara menikmati panorama suatu tempat dari ketinggian. Di Indonesia kita menyebutnya kereta gantung. Di luar negeri namanya macam-macam : cable car (Bahasa Inggris), gondola (Bahasa Italia), teleferico (Bahasa Spanyol), telepherique (Bahasa Perancis), dan lain-lain. Naik kereta gantung memberikan pengalaman yang campur aduk, antara deg-degan, senang hingga takjub. Anda akan dibuat deg-degan saat berada di ketinggian ratusan meter, tapi sekaligus takjub dan gembira bisa melihat panorama menawan dari ketinggian. Karena suka berada di ketinggian, saya tak mau melewatkan kesempatan naik kereta gantung ketika jalan-jalan keluar negeri. Bagi yang fobia ketinggian, tentunya tidak saya sarankan untuk menaiki kereta gantung. Berikut lima pengalaman saya naik kereta gantung ketika berlibur keluar negeri.
 
Panorama Pulau Sentosa dan laut dilihat dari Singapore Cable Car
 
Singapore Cable Car, Singapura
Inilah pengalaman pertama saya naik kereta gantung yang akhirnya membuat ketagihan. Tak tanggung-tanggung, saya melakukannya di negara tetangga, Singapura. Sebenarnya saya tahu kalau di Indonesia juga ada kereta gantung, yaitu di Taman Mini Indonesia Indah dan di Taman Impian Jaya Ancol. Namun, karena berbagai alasan, saya belum punya kesempatan untuk menaikinya. Makanya, ketika jalan-jalan ke Singapura pada Bulan Juli 2008, saya mencoba naik Singapore Cable Car dari Stasiun Harbour Front Tower 2 ke Stasiun Sentosa Island, dengan membayar tiket sejumlah SGD 19 (dulu sekitar Rp 123.500,00). Sebenarnya ada cara yang lebih murah untuk mencapai Pulau Sentosa dari daratan utama Singapura, yaitu dengan naik bus atau kereta api (monorel). Namun, saya memilih naik kereta gantung karena seumur-sumur saya belum pernah merasakannya. Pengalaman pertama naik kereta gantung, sangat menyenangkan karena pada dasarnya saya senang berada di ketinggian (berada di tempat yang tinggi). Dari kereta gantung ini, saya bisa melihat panorama indah Singapura, Selat Pulau Sentosa, bahkan Pulau Batam (Indonesia) karena saat itu cuaca cerah. Singapore Cable Car melewati rute sepanjang 1.750 meter, dengantiga stasiun. Stasiun awal berada di atas bukit Mount Faber, stasiun kedua di Harbour Front, dan stasiun ketiga di Pulau Sentosa. Dari Stasiun Mount Faber menuju Stasiun Harbour Front Tower 2 lintasan kereta gantung ini menurun cukup terjal karena turun dari Bukit Mount Faber yang memiliki ketinggian 120 meter di atas permukaan laut. Selanjutnya dari Harbour Front Tower 2 menuju Stasiun Sentosa Island lintasan mendatar tapi melewati selat sempit. 



Genting Skyway melintasi kawasan hutan hijau di jurang perbukitan yang diselimuti kabut
 
Genting Skyway, Malaysia
Pengalaman kedua naik kereta gantung adalah saat mengunjungi Genting Highland, Malaysia. Genting Highland merupakan dataran tinggi yang berjarak sekitar 51 km dari Kuala Lumpur. Di tempat ini sudah dibangun kawasan wisata terpadu yang bernama Genting Resort World (satu grup dengan Sentosa Resort World, Singapore) yang terdiri dari taman bermain (amusement park) semacam Dufan, kasino, pusat perbelanjaan, dan hotel. Kawasan wisatanya menurut saya kurang menarik, baik dari segi bangunan maupun atraksi wisata yang ditawarkan. Wahana permainan yang ada jauh lebih menarik dan menantang di Dufan, Ancol. Yang menarik adalah kereta gantung menuju Genting Highland yang dinamakan Genting Skyway. Menaiki Genting Skyway benar-benar memacu adrenalin. Kereta gantung ini memiliki jalur sepanjang 3,38 km dengan rute yang menanjak sangat terjal. Dari stasiun awal di Gohtong Jaya, rute kereta gantung langsung menanjak melewati kawasan hutan hijau di perbukitan dengan konyur tanah yang miring. Semakin ke atas rutenya semakin menanjak terjal dengan kemiringan lebih dari 30 derajat. Di bawah jalur kereta gantung menganga jurang-jurang dalam penuh bebatuan. Pemandangan yang terlihat dari jendela kereta gantung memang menakjubkan. Hamparan hutan hijau yang diselimuti kabut tipis menutupi lereng perbukitan di antara jurang yang dalam. Mata saya yang tadinya mengantuk, mendadak segar melihat panorama hijau di mana-mana sehingga perjalanan selama 15 menit pun tak terasa.


Great Wall Cable Car, Cina
Tembok Besar Cina (Great Wall) memiliki beberapa tempat yang bisa diakses turis, di antaranya adalah Badaling, Mutianyu (baca : Mu Tian Yu), dan Simatai. Ketiga tempat tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Badaling letaknya paling dekat dari Beijing dan paling mudah dicapai sehingga paling ramai dikunjungi turis. Mutianyu letaknya cukup jauh dari Beijing tapi lebih indah dari Badaling dan tak seramai Badaling. Sedangkan Simatai letaknya paling jauh dari Beijing dan pastinya lumayan sulit dicapai. Dengan mempertimbangkan segala kelebihan dan kekurangannya, saya dan teman memilih untuk mengunjungi Mutianyu. Baik di Badaling maupun Mutianyu tersedia kereta gantung yang akan membawa turis/pengunjung dari tempat parkir menuju Tembok Besar. Namanya Great Wall Cable Car. Maklum, jarak dari tempat parkir menuju Tembok Besar cukup jauh dan jalannya menanjak cukup terjal. Sebenarnya, kita bisa saja jalan kaki menuju Tembok Besar asalkan badan fit dan cuaca mendukung. Namun, karena saat itu sedang memasuki pergantian musim dari musim dingin ke musim semi di mana suhu udara cukup dingin bagi saya yang terbiasa tinggal di daerah tropis, kami dengan mantap memilih naik kereta gantung. Apalagi jalan menuju Tembok Besar mendaki terjal dan saat itu kami kurang tidur karena pesawat kami mendarat di Beijing tengah malam. Jalur Mutianyu Great Wall Cable Car tidak begitu panjang tapi menanjak terjal karena mendaki. Panorama yang terlihat dari dalam kereta gantung tergolong biasa saja, hanya pegunungan berbatu dengan sedikit pepohonan. Saat pagi hari, kabut tipis menyelimuti pegunungna tersebut sehingga memberi kesan mistis.
 
Bandara Internaasional Hongkong, daerah Tung Cung, dan laut dilihat dari Ngong Ping 360 Cable Car

Ngong Ping 360, Hong Kong
Saat jalan-jalan ke Hongkong, saya juga mencoba naik kereta gantung yang ada di sana. Namanya Ngong Ping 360 Cable Car. Kereta gantung ini berada di Pulau Lantau dengan jalur sepanjang 5,7 km. Ngong Ping 360 membawa pengunjung dari Stasiun Tung Cung berada di dataran rendah (dekat pantai) menuju Stasiun Ngong Ping yang berada di atas bukit tinggi. Ngong Ping sendiri merupakan kawasan wisata di mana terdapat tiga atraksi menarik, yaitu Desa Ngong Ping, Biara Po Lin (Po Lin Monastery), dan Patung Budha raksasa setinggi 34 meter. Jalur Ngong Ping 360 akan memacu adrenalin Anda karena rutenya mendaki cukup terjal melewati laut/selat dan bukit berbatu yang cukup tinggi. Pemandangan yang ditawarkan sangat menawan berupa laut, perbukitan, gedung-gedung pencakar langit, dan Bandara Internasional Hongkong yang dibangun di atas pulau buatan hasil reklamasi.

Hamparan salju dan deretan pohon pinus yang terlihat dari Gondola Gulmarg
 
Gulmarg Gondola, Kashmir, India
Sejauh ini, Gondola Gulmarg di Kashmir, India merupakan kereta gantung dengan panorama paling spektakuler yang pernah saya naiki. Gondola Gulmarg merupakan salah satu gondola (kereta gantung) tertinggi di dunia karena stasiun tertingginya berada di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Gondola Gulmarg membawa turis/pengunjung dari Stasiun Gulmarg (stasiun awal) menuju Stasiun Kongdori (Gulmarg Fase I yang berada di ketinggian 3.050 dpl), dan Stasiun Affarwat (Gulmarg Fase II yang berada di ketinggian 4.084 dpl). Saat terbaik menaiki Gondola Gulmarg adalah di musim dingin, ketika suhu udara di bawah 0 derajat. Saat itu, panorama yang terlihat dari jendela gondola sangat menakjubkan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan salju putih, pucuk-pucuk pohon pinus, dan puncak-puncak gunung yang diselimuti salju. Sesekali gondola menembus gumpalan awan putih di bawah naungan langit biru. Sensasinya benar-benar susah dilukiskan dengan kata-kata. (edyra)***
  
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

GULMARG, INDIA WINTER WONDERLAND

Bermain salju di puncak Gunung Affarwat (Gulmarg Fase II)



Bagi Orang Indonesia yang tinggal di daerah tropis, liburan ke tempat bersalju merupakan salah satu impian. Biasanya tempat yang dituju tak jauh-jauh dari Cina, Korea, Jepang, Australia atau Eropa bagi yang mempunyai dana lebih. Sangat jarang (bahkan tidak ada) yang memasukkan India sebagai destinasi liburan musim dingin. Maklum, mereka menganggap iklim di India tak jauh beda dengan di Indonesia sehingga tidak bisa melihat salju. Padahal India juga mempunyai sebuah tempat bersalju yang tak kalah indahnya dengan negara-negara tersebut. Namanya Gulmarg. Kota yang berada di bagian barat laut India ini sering disebut-sebut sebagai “Swissnya India” karena keindahan gunung-gunungnya yang berselimut salju lengkap dengan pohon-pohon pinus yang mirip dengan Pegunungan Alpen di Swiss.

Gulmarg merupakan destinasi liburan musim dingin favorit Warga India terutama bagi penggemar olahraga pemacu adrenalin seperti ski. Gulmarg terletak di Negara Bagian Jammu dan Kashmir, salah satu wilayah di India yang rawan konflik karena letaknya dekat dengan perbatasan Pakistan. Negara bagian ini sudah lama menjadi rebutan tiga negara (Cina, India, dan Pakistan) karena keindahan alamnya. Tak heran kalau turis asing tak begitu banyak yang mengunjungi Kashmir karena khawatir akan kondisi keamanan di sana. Padahal kenyataannya, Kashmir sangat aman untuk turis karena polisi dan tentara berjaga di mana-mana, siap untuk melindungi warga dan turis.
 
Menikmati hujan salju di Kongdori (Gulmarg Fase I)

Negara Bagian Jammu dan Kashmir beribu kota di Srinagar. Kota ini merupakan gerbang untuk menjelajah tempat-tempat menarik di Kashmir, termasuk Gulmarg. Untuk mencapai Srinagar dari New Delhi ada dua cara. Cara pertama dan termurah adalah dengan bus dan kereta tapi memakan waktu cukup lama, 20 jam lebih. Opsi ini cocok bagi Anda yang punya waktu liburan cukup banyak. Cara kedua yang paling praktis dan cepat, tentunya dengan naik pesawat terbang. Karena waktu saya terbatas, saya memilih opsi ini. Saya dan teman terbang dengan Indigo (salah satu maskapai murah di India) dari Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi menuju Bandara Internasional Srinagar. Penerbangan menuju Srinagar memakan waktu sekitar dua jam dengan pemandangan menakjubkan puncak-puncak Gunung Himalaya yang berselimut salju di perjalanan.

Tujuan utama saya berlibur ke Kashmir tak lain adalah untuk bermain salju di Gulmarg. Untuk mencapai Gulmarg yang berjarak sekitar 60 km dari Srinagar, ada tiga cara, yaitu : naik bus umum dengan jadwal sekali sehari, menyewa kendaraan yang pastinya lebih leluasa atau ikut paket tur yang harganya lumayan mahal. Sebenarnya saya dan teman berencana naik bus umum. Bus ini akan berangkat dari Srinagar pada pukul 09.00 pagi dan kembali ke Srinagar dari Gulmarg pada pukul 17.00. Risiko naik bus umum adalah bila ketinggalan bus balik dari Gulmarg, kita harus menyewa kendaraan dari Gulmarg yang tentunya sangat mahal. Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan kebetulan hotel tempat kami menginap menawarkan mobil dengan harga sewa yang cukup murah (nggak jauh beda dengan naik bus umum), kami lebih memilih naik mobil hotel. Soalnya, kami jadi lebih leluasa dan tidak perlu khawatir ketinggalan bus. 

Lalu lintas di Kota Srinagar yang macet dan semrawut

Tepat jam 09.00 pagi keesokan harinya, kami berangkat meninggalkan Srinagar dengan mobil jeep hotel kami. Jalanan di Srinagar cukup ramai dan semrawut. Apalagi saat itu sedang ada perbaikan jalan di sana-sini sehingga perjalanan jadi tersendat. Selain saya, teman, dan pemilik hotel yang merangkap sebagai pemandu (tour guide), ternyata ada penumpang lain yang ikut di mobil kami, seorang turis dari Mauritius yang tak lain adalah tamu hotel juga. Rupanya pemilik hotel mencari tambahan peserta tur agar lebih untung. Tapi tak mengapa. Yang penting harga sesuai kesepakatan semula dan dia tidak membatasi waktu kunjungan ke Gulmarg.

Setelah keluar dari Kota Srinagar, jalanan mulai lancar, tak ada lagi kemacetan. Pemandangan juga makin indah karena kami melewati kawasan pedesaan, dengan ladang-ladang gandum dan bunga warna-warni. Mata saya yang tadinya mengantuk, jadi segar kembali melihat hamparan bunga bermekaran di ladang.

Sekitar satu jam berkendara, kami tiba di daerah Tangmarg. Tempat ini merupakan tempat pemberhentian (rest area) bagi para turis yang akan menuju Gulmarg, di mana banyak terdapat warung-warung yang menjual makanan dan minuman hangat. Kami berhenti sejenak di salah satu warung untuk menikmati teh hangat dan kue-kue khas Kashmir. Di tengah udara yang dingin, nikmat sekali menyeruput teh hangat ditemani kue-kue lezat. Apalagi setelah ini, sudah tidak ada lagi penjual makanan/minuman lagi. Selain itu, kami juga ke toilet. Udara dingin membuat kami pengen sering buang air.

Kami melanjutkan perjalanan kembali, dan tak lama kemudian kami memasuki wilayah Gulmarg. Hal ini ditandai dengan sebuah gerbang dan mulai banyak pohon-pohon pinus di kanan kiri jalan. Di sebuah tempat penyewaaan jaket dan sepatu boot, sopir menghentikan kendaraan dan memberi kesempatan kepada kami kalau ingin menyewa kedua benda tersebut. Karena sudah memakai jaket tebal dua lapis, kami tak menyewa jaket lagi. Kami hanya menyewa sepatu boot khusus untuk tempat bersalju. Pasalnya kami hanya memakai sepatu sneaker yang pastinya tidak cocok untuk medan bersalju.

Perjalanan kami lanjutkan kembali melewati medan yang makin ekstrim. Jalan makin menanjak terjal dan berkelok-kelok menyusuri punggung gunung. Kendaraan kami pun berjalan lebih pelan. Namun, panorama makin menawan karena di kanan kiri kami adalah hutan pinus yang dasarnya tertutup hamparan salju putih. Saya pun makin tak sabar tiba di Gulmarg.

Hotel Hilltop Gulmarg yang dikepung timbunan salju
 
Tak berapa lama kemudian kami pun tiba di Gulmarg. Jeep-jeep dan mobil pribadi tampak memenuhi tempat parkir. Meski cuaca sedang mendung dan udara dingin menggigit, ternyata Gulmarg tetap ramai. Segera saya memakai topi kupluk, syal, dan sarung tangan sebelum turun dari mobil. Tak lupa juga sepatu boot karena saya lihat salju di mana-mana. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan salju putih dengan pohon-pohon pinus yang tak kelihatan akarnya karena tertimbun salju. Bahkan, beberapa bangunan hotel hanya nampak atap dan sebagian dinding atasnya. Dinding bagian bawah bangunan tertutup timbunan salju tebal.

Pemandu hanya mengantarkan kami sampai di tempat parkir Gulmarg. Selanjutnya kami diberi kebebasan untuk menikmati Gulmarg, sementara dia menunggu di sekitar tempat parkir. Tanpa membuang waktu, kami segera berjalan menuju stasiun gondola yang akan membawa kami ke Puncak Gunung Affarwat, tempat kami akan bermain salju. Saat musim panas, sebenarnya kita bisa berjalan kaki untuk mendaki puncak Gunung Affarwat. Namun, saat musim dingin di mana salju tebal menghampar di mana-mana, satu-satunya cara untuk mencapai puncak Gunung Affarwat adalah dengan gondola.

Para turis ngantri untuk naik Gondola Gulmarg di Stasiun Gulmarg
 
Dari tempat parkir kami harus berjalan sekitar 500 meter untuk mencapai Stasiun Gondola Gulmarg. Sayangnya, tak ada rambu-rambu/petunjuk arah yang jelas menuju stasiun gondola maupun loket penjualan tiket. Alhasil, kami salah ngantri. Kami mengira loket penjualan tiket berada di gedung yang sama dengan stasiun gondola. Nggak tahunya tempatnya terpisah cukup jauh. Loket penjualan tiket gondola berada sekitar 200 meter sebelum stasiun gondola. Jadinya, kami harus keluar dari antrian di stasiun gondola menuju tempat penjualan tiket. Padahal kami sudah antri lumayan lama di stasiun gondola. 

Gondola Gulmarg merupakan salah satu gondola tertinggi di dunia

Gondola Gulmarg merupakan salah satu gondola tertinggi di dunia dan mempunyai dua stasiun pemberhentian. Stasiun Fase I bernama Kongdori, berada di ketinggian 3.050 meter di atas permukaan laut (dpl) dan Stasiun Fase II bernama Affarwat, berada di ketinggian 4.084 meter dpl. Kami membeli tiket pulang pergi dengan tujuan Affarwat seharga Rs 1.400,00 (sekitar Rp 266.000,00).

Pemandangan yang terlihat dari dalam gondola
 
Setelah mendapat tiket, kami segera menuju stasiun gondola untuk mengantri lagi. Untungnya antrian sudah tidak begitu panjang. Tak sampai sepuluh menit, kami sudah berada di dalam gondola. Panorama yang terlihat dari dalam gondola sangat menakjubkan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan salju putih dan pucuk-pucuk pohon-pohon pinus. Semakin ke atas, panorama semakin menawan. Kami seperti berada di negeri di atas awan karena di atas kami hanya ada langit biru, sedangkan awan-awan putih berada di bawah kami. Saya yang biasa tinggal di tropis dan belum pernah melihat hamparan salju seluas ini, sampai bengong tak bisa berkata-kata. 

Pepohonan pinus dan hampatran salju di Kongdori (Gulmarg Fase I)

Tak lama kemudian, kami tiba di Stasiun Fase I Kongdori. Dari sini pemandangan sudah menawan, salju pun terhampar luas. Permainan ski, seluncur salju dan lain-lain bisa dilakukan di sini. Namun, kami tidak turun dulu di Kongdori. Kami pindah gondola untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Fase II Affarwat.

Suasana di Kongdori yang ramai turis
 
Perjalanan dari Kongdori menuju Affarwat sangat menantang. Rute gondola langsung menanjak terjal dengan kemiringan lebih dari 30 derajat. Sesekali gondola menembus gumpalan awan putih yang membuat jantung kami berdebar-debar. Pemandangan yang tersaji di hadapan membuat kami berdecak kagum. Salju putih terhampar di mana-mana dengan langit biru yang memayunginya. Sayangnya kaca jendela gondola kotor dan banyak goresan sehingga menyulitkan saya untuk memotret panorama indah tersebut.

Stasiun akhir Gondola Gulmarg di Affarwat
 
Akhirnya kami tiba di pemberhentian terakhir Gondola Gulmarg, yaitu Stasiun Fase II Affarwat. Kami segera turun dari gondola dan keluar dari stasiun. Kami disambut pemandangan yang spektakuler begitu keluar stasiun. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan salju putih, puncak-puncak gunung, dan pucuk-pucuk pohon-pohon pinus. Puncak Gunung Himalaya serta perbatasan India dan Pakistan juga nampak dari sini. Asyiknya lagi, turis tak begitu banyak di Affarwat. Kami seperti berada di negeri di atas awan karena di atas kami hanya ada langit biru, sedangkan awan-awan putih berada di bawah kami. Sesaat saya hanya bengong dan tak bisa berkata apa-apa. Saya seperti tak percaya dengan pemandangan yang tersaji di hadapan saya, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Satu-satunya cara untuk melukiskan keindahan Gulmarg adalah merekamnya dalam bentuk foto atau video. Makanya saya mengabadikannya dengan kamera kesayangan. Tak salah kalau Gulmarg mendapat julukan sebagai “Swissnya India.”

Panorama menakjubkan yang terlihat di Affarwat
 
Puas bermain salju dan memotret di Affarwat, kami turun dengan gondola menuju ke Stasiun Fase 1 Kongdori. Di sini suasana lebih ramai, meski saat itu langit mendung. Ada tempat penyewaan alat-alat ski, seluncur salju dan tobbogan. Ada juga pedagang asongan yang menjual makanan dan minuman. Nampak orang-orang tengah asyik bermain ski, seluncur salju atau sekedar bermain-main salju. Kami pun bergabung bersama mereka untuk bermain-main salju.

Panorama menawan di Kongdori
 
Lagi asyik-asyiknya bermain salju, tiba-tiba turun hujan salju. Awalnya hanya rintik-rintik kecil sehingga kami sangat menikmatinya. Kami membiarkan serpihan-serpihan salju menerpa tubuh kami. Tentunya kami menikmatinya sambil berfoto. Maklum, bagi kami yang tinggal di daerah tropis, hujan salju merupakan fenomena langka. Namun, karena hari makin sore dan hujan salju tak juga berhenti, kami terpaksa mengakhiri kunjungan di Kongdori. Kami masuk ke dalam stasiun dan antri untuk naik gondola yang akan membawa kami kembali ke Stasiun Gulmarg.
 
Para turis bermain ski di Kongdori

Permainan seluncur salju di Kongdori
 
Seiring gondola yang bergerak meninggalkan Stasiun Kongdori, berakhir pula liburan kami di Gulmarg. Rasanya berat sekali meninggalkan Gulmarg. Namun, kami sangat puas karena kami pulang membawa segudang pengalaman baru yang tak mungkin terlupakan. Semoga suatu hari nanti kami bisa kembali ke Gulmarg.
 
Para turis menikmati hujan salju di Kongdori

How to Get There
Gulmarg berada di Negara Bagian Jammu dan Kashmir, India. Untuk mencapai Gulmarg, Anda harus terbang dulu ke Srinagar, ibu kota Jammu dan Kashmir. Dari Jakarta, Anda harus terbang dulu ke New Delhi, kemudian terbang lagi ke Srinagar. Dari Srinagar, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Gulmarg dengan bus atau menyewa kendaraan. Kalau tak ingin repot, Anda bisa ikut paket tur ke Gulmarg, yang banyak ditawarkan berbagai biro perjalanan dan hotel di Srinagar.

Tips Enjoying Gulmarg

  • Bila Anda ingin melihat dan bermain salju di Gulmarg, waktu terbaik untuk berkunjung ke sana adalah saat musim dingin (Desember - Februari) hingga musim semi (Maret - Mei).

  • Pastikan kamera Anda bisa beroperasi di suhu rendah (minus) karena Anda akan memotret di daerah bersalju dengan suhu udara di bawah 0 derajat Celcius.

  • Bila Anda berkunjung ke Gulmarg saat musim dingin, jangan lupa membawa jaket tebal, syal, topi kupluk, sarung tangan dan peralatan musim dingin lainnya!.

  • Tak perlu khawatir bila Anda lupa membawa jaket tebal dan sepatu boot! Di Tangmarg (desa sebelum Gulmarg) terdapat tempat penyewaan jaket tebal dan sepatu boot. Selain itu, Anda juga bisa membelinya di Srinagar.

  • Jangan lupa membawa kaca mata hitam karena hamparan salju putih sangat menyilaukan mata bila terkena sinar matahari.

  • Jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman secukupnya karena udara dingin membuat Anda cepat lapar. (Edyra)***
*Dimuat di Majalah Grazia Edisi Juli 2016.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

LAPOPU, AIR TERJUN TERINDAH DI PULAU SUMBA


Menikmati keindahan Air Terjun Lapopu



Pulau Sumba terkenal akan alamnya yang gersang dan udaranya yang panas. Namun, di balik semua itu, pulau di Nusa Tenggara Timur ini menyimpan banyak keindahan alam yang belum diketahui khalayak ramai. Mulai dari pantai, danau, gua hingga air terjun. Semuanya masih alami dan belum tersentuh komersialisasi. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Air Terjun Lapopu. Air terjun ini bak oase di tengah gersangnya Pulau Sumba.

Air Terjun Lapopu berada di dalam kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, tepatnya di Desa Lapopu, Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat. Jaraknya sekitar 24 km dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Sayangnya, dari Waikabubak tak ada satu pun rambu-rambu atau penunjuk arah ke Air Terjun Lapopu. Petugas hotel yang saya tanya, hanya memberi petunjuk bahwa air terjun ini berada di daerah Wanokaka, tanpa memberikan penjelasan yang detil bagaimana rute jalan ke sana.

Dengan modal nekad, sore hari saya berangkat sendirian menuju Air Terjun Lapopu dengan mengendarai sepeda motor yang saya sewa dari tukang ojek. Saya mengarahkan sepeda motor menuju Wanokaka. Ternyata jalan menuju Wanokaka juga minim rambu-rambu. Padahal Wanokaka merupakan kota kecamatan. Setelah melewati Wanokaka, saya menjumpai banyak pertigaan jalan tanpa rambu-rambu sama sekali. Mau tak mau saya bertanya arah jalan ke penduduk setempat agar tidak tersesat. Untunglah saya bisa tiba dengan selamat di tempat parkir Air Terjun Lapopu setelah menempuh perjalanan selama hampir 45 menit. 

PLTMH Lapopu

Suasana di sekitar tempat parkir Air Terjun Lapopu sangat sepi sore itu. Tak ada satu pun pengunjung selain saya. Pohon-pohon tinggi berdaun rindang yang banyak tumbuh di sana semakin menambah asri suasana sekaligus menambah kesan mistis. Ada beberapa bangunan di sekitar tempat parkir tersebut, di antaranya adalah pos untuk membayar retribusi masuk ke Air Terjun Lapopu, kantor/pos jaga Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, dan toilet. Semuanya kosong, tak ada penjaganya satu pun. Tak jauh dari situ, terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) Lapopu yang airnya berasal dari Air Terjun Lapopu. PLTMH ini mempunyai kapasitas energi 2 x 800 KWH dan akan menyuplai jaringan PLN.

Ketika saya hendak meninggalkan tempat parkir, tiba-tiba muncul seorang bapak dari Gedung PLTMH Lapopu. Dia menyapa saya dengan ramah dan menanyakan maksud kedatangan saya. Saya pun menjawab ingin mengunjungi Air Terjun Lapopu. Rupanya bapak tersebut adalah salah satu penjaga PLTMH Lapopu. Karena saya sendirian dan sedikit ngeri juga berkelana sendirian di kawasan taman nasional yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, saya meminta bapak tersebut menemani saya menuju Air Terjun Lapopu. Untunglah bapak tersebut tidak menolak ajakan saya.
Jalan setapak di pinggir sungai yang bening kehijauan

Sebenarnya memang tidak disarankan mengunjungi Air Terjun Lapopu seorang diri. Maklum, lokasi air terjun ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru yang ditumbuhi hutan lebat. Selain itu, tempatnya juga jauh dari perkampungan penduduk dan menurut penduduk setempat, kawasan Air Terjun Lapopu juga masih angker. Jadi, sebaiknya memang tidak sendirian ke sana.

Jembatan bambu darurat
Tanpa membuang waktu, saya segera berjalan menuju Air Terjun Lapopu ditemani bapak penjaga PLTMH Lapopu (maaf, saya lupa namanya). Kami berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir sungai, di bawah naungan pepohonan rindang. Kami juga harus meniti jembatan bambu darurat untuk menyeberangi sungai. Jembatan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat setempat yang dibuat untuk memudahkan para turis dan pengunjung Air Terjun Lapopu. Sebelum ada jembatan tersebut, pengunjung cukup kerepotan mencapai air terjun. Mereka harus berjalan melintasi aliran sungai di antara bebatuan yang licin. Saat musim penghujan lebih parah lagi karena sungai menjadi lebih dalam dan arusnya cukup deras.  
 
Sungai berwarna hijau toska di bawah Air Terjun Lapopu

Dari jembatan bambu tersebut, Air Terjun Lapopu yang menjulang tinggi sudah terlihat dengan jelas. Sungai yang mengalir di bawah jembatan juga terlihat eksotis karena airnya berwarna hijau toska dengan taburan batu-batuan beragam bentuk dan ukuran. Baru kali ini saya melihat sungai dengan air berwarna hijau toska seperti itu. Rupanya dasar sungai yang berupa batu kapur lah yang menyebabkan sungai tersebut berwarna hijau toska.

Air Terjun Lapopu yang menakjubkan

Setelah menyeberangi jembatan bambu, tiba juga kami di depan Air Terjun Lapopu. Sesaat saya bengong, melihat air terjun yang sangat menakjubkan di depan mata saya. Saya sangat bersyukur bisa menyaksikan keindahan Air Terjun Lapopu dengan mata kepala sendiri. Air Terjun Lapopu bentuknya cukup unik. Tidak seperti air terjun kebanyakan di mana air terjun jatuh dari tebing yang berdiri tegak, Air Terjun Lapopu merupakan air terjun bertingkat (cascading). Air terjun ini jatuh dari tebing yang miring dan bertingkat-tingkat (berundak-undak) dengan total ketinggian mencapai 92 meter di atas permukaan sungai. Kemudian air menyebar di sela-sela pepohonan dan akhirnya jatuh ke kolam yang airnya jernih berwarna hijau toska. Kolam ini membentuk sungai dengan taburan bebatuan aneka bentuk dan ukuran. Bila Anda ingin mandi atau sekedar bermain air, kolam tersebut merupakan lokasi yang tepat.

Air Terjun Lapopu dengan kolam hijau toska di bawahnya

Sebenarnya saya ingin mandi di kolam hijau toska yang berada di bawah Air Terjun Lapopu. Namun, karena hari sudah sore saya mengurungkan niat tersebut. Saya lebih memilih untuk mengabadikan keindahan Air Terjun Lapopu dengan kamera kesayangan saya. Saya memotretnya dari berbagai sudut tanpa gangguan siapa pun karena saat itu memang tak ada pengunjung lain. Dengan penampilan Air Terjun Lapopu yang sudah cantik seperti itu, tentunya tak sulit mendapatkan foto-foto indah. Ibaratnya, asal jepret saja, Anda pasti bisa mendapatkan foto yang menarik. Apalagi bila Anda memang sudah ahli/jago untk urusan fotografi. Saya yakin, foto-foto menakjubkan seperti di kartu pos atau kalender bisa Anda dapatkan dengan mudah. Tak heran kalau Air Terjun Lapopu mendapat predikat sebagai air terjun terindah di Sumba. 

How to Get There
Untuk mencapai Air Terjun Lapopu, Anda harus terbang dulu ke Tambolaka, Sumba Barat Daya. Untuk mencapai Tambolaka, Anda bisa terbang dari Denpasar (dengan Garuda Indonesia atau Wings Air) atau Kupang (dengan Garuda Indonesia dan Trans Nusa). Dari Tambolaka/Waitabula, lanjutkan perjalanan ke Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Anda bisa naik kendaraan umum (travel/bus/ojek) untuk mencapai Waikabubak. Selanjutnya, Anda bisa menyewa kendaraan atau naik ojek untuk mencapai Air Terjun Lapopu karena tidak ada kendaraan umum menuju air terjun ini. Dari Waikabubak arahkan kendaraan Anda menuju Wanokaka. Setelah sampai di Wanokaka, Anda harus banyak bertanya arah ke penduduk setempat karena tidak ada satu pun rambu-rambu atau penunjuk arah ke Air Terjun Lapopu.  Setelah tiba di tempat parkir, lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 300 meter, menyusuri tepian sungai dan menyeberangi jembatan bamboo hingga tiba di Air Terjun Lapopu. (edyra)***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments