PANTAI INAOE, PANTAI MUNGIL NAN CANTIK DI ROTE SELATAN

Menikmati keindahan Pantai Inaoe yang sedang hits di media sosial





Pulau Rote terkenal akan keindahan pantainya. Salah satu pantai yang sedang menjadi trending topic dan menarik perhatian banyak orang akhir-akhir ini adalah Pantai Inaoe atau Tolanamon. Pantai mungil nan cantik ini mendadak jadi viral di internet setelah ada seorang warga mengunggah foto Pantai Inaoe di media sosial.

Pantai Inaoe berada di pesisir selatan Pulau Rote, tepatnya di Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari Kota Ba’a (ibu kota Kabupaten Rote Ndao), pantai ini berjarak 29 km atau sekitar 45 menit berkendara. Sayangnya, belum ada kendaraan umum menuju Pantai Inaoe sehingga kita harus naik ojek atau menyewa kendaraan dari Kota Ba’a untuk mengunjunginya.

Saya beruntung dapat pinjaman sepeda motor sehingga tak perlu susah-susah mencari kendaraan untuk mencapai Pantai Inaoe. Dari Kota Ba’a, saya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai pantai ini. Sebenarnya jalan menuju pantai ini cukup bagus dan mulus, tapi tak ada rambu-rambunya sama sekali sehingga saya harus bertanya ke warga setempat setiap bertemu persimpangan jalan. Dari Ba’a sampai Desa Inaoe yang berjarak sekitar 25 km jalannya beraspal dan cukup bagus. Hanya di beberapa titik jalan rusak dan berlubang. Namun, dari Desa Inaoe sampai Pantai Inaoe yang jaraknya 4 km kondisi jalan belum beraspal dengan kontur jalan menurun yang sangat curam. Rem harus benar-benar pakem untuk melewati jalan ini.

Tiba di tempat parkir Pantai Inaoe, suasana sangat sepi, tak ada satu pun pengunjung lain. Meski hari masih pagi, cuaca sangat panas karena tak ada satu pun pohon peneduh. Topi dan kaca mata hitam adalah aksesoris yang wajib dibawa, ketika mengunjungi Pantai Inaoe.

Tanpa membuang waktu, saya segera berjalan kaki menuju pantai yang jaraknya sangat dekat dari tempat parkir. Namun, saya kecewa ketika melihat penampakan Pantai Inaoe dari dekat. Pantainya berada di teluk kecil yang menjorok ke daratan dengan air laut yang warnanya tidak menarik. Di beberapa tempat banyak sampah berserakan. Apalagi saat itu laut sedang surut, sehingga pantai terlihat sangat tidak menarik. Sangat berbeda dari foto-foto Pantai Inaoe yang saya lihat di berbagai media sosial, dengan air lautnya yang berwarna hijau toska.

Saya sangat kecewa melihat Pantai Inaoe yang tidak seindah foto-fotonya di internet. Namun, karena masih penasaran dengan Pantai Inaoe yang terlihat sangat menawan di media sosial, saya berjalan menuju bukit karang yang berada di sebelah barat pantai. Saya harus melewati beberapa lorong kecil dan mendaki bukit kecil, hingga tibalah saya di atas bukit yang membuat saya terpana. Dari bukit tersebut, terlihatlah pantai mungil yang sangat cantik seperti yang terlihat di berbagai media sosial belakangan ini. Rupanya inilah Pantai Inaoe yang sebenarnya, yang membuat saya penasaran selama ini.

Pantai Inaoe dilihat dari bukit sebelah timur laut
 

Pantai Inaoe dilihat dari bukit sebelah tenggara


Secara visual, Pantai Inaoe yang oleh warga lokal disebut Pantai Tolanamon terlihat sangat cantik dan unik. Pantainya tersembunyi di sebuah teluk mungil yang menjorok jauh ke daratan dengan bibir pantai yang berpasir putih sangat pendek, hanya sekitar 15 meter panjangnya. Air lautnya sangat bening dengan warna bergradasi dari hijau toska di pinggir pantai hingga biru tua di lautan lepas. Di sekeliling pantai terdapat bukit-bukit kecil yang seperti mengepung Pantai Inaoe dan menyembunyikannya dari dunia luar. Namun, keberadaan bukit-bukit tersebut justru semakin mempercantik Pantai Inaoe. Dari bukit-bukit inilah, kita bisa melihat kecantikan Pantai Inaoe.

Pantai Inaoe dilihat dari bukit sebelah utara
Pantai Inaoe dilihat dari utara pinggir pantai sebelah utara
  
Meski matahari terik menyengat, saya tetap semangat menjelajah setiap lekuk Pantai Inaoe. Mulai dari bukit di sebelah timur, utara hingga barat pantai, semua saya jelajahi. Tak lupa saya bermain-main di area pasir putih Pantai Inaoe yang tak seberapa panjangnya. Kesimpulan saya, dari sudut mana pun, Pantai Inaoe terlihat sangat menawan. Apalagi saat itu tak ada satu pun pengunjung lain selain saya, sehingga saya seperti berada di pantai pribadi yang menuat saya betah berlama-lama.

Tak heran kalau Pantai Inaoe ngetop banget di media sosia belakangan ini. Soalnya Pantai Inaoe sangat cantik dan unik, membuat siapa pun yang melihatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.(Edyra)***


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MENIKMATI KESEGARAN AIR TERJUN PANDAI


Serunya bermain floaties di Air Terjun Pandai





Pulau Pantar di Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal akan keindahan alam bawah lautnya. Selain itu, pulau yang terletak di antara Pulau Lembata dan Pulau Alor ini juga memiliki pesona alam lainnya yang belum diketahui banyak orang, yaitu air terjun. Namanya Air Terjun Pandai, terletak di Desa Pandai Kecamatan Pantar, Pulau Pantar.

Perkenalan saya dengan Air Terjun Pandai berawal dari Instagram. Saat iseng-iseng menulis #alor, muncul foto air terjun cantik yang tak lain adalah Air Terjun Pandai. Penasaran dengan air terjun yang tersebut, saya pun mengagendakan waktu khusus saat berkunjung ke Alor, tetangganya Pantar awal Maret kemarin.

Untuk mencapai Air Terjun Pandai butuh sedikit perjuangan. Karena lokasinya berada di Pulau Pantar, pertama saya harus menyeberang dengan perahu motor dari Pelabuhan Pantai Reklamansi Kalabahi, Alor menuju Kabir, “kota kecil“ di Pulau Pantar yang letaknya paling dekat dengan Air Terjun Pandai. Perjalanan berperahu menuju Kabir sangat menyenangkan karena saat itu cuaca cerah dan laut tenang tanpa gelombang. Sepanjang jalan, mata saya disuguhi pemandangan yang menakjubkan berupa birunya laut dan empat pulau kecil (Pulau Kepa, Pulau Pura, Pulau Ternate dan Pulau Buaya) yang tersebar di Selat Pantar. Yang paling menyenangkan adalah atraksi lumba-lumba meloncat-loncat di dekat perahu, saat memasuki perairan Selat Pantar, di dekat Pulau Ternate. Alhasil perjalanan selama tiga jam pun tak terasa dan tengah hari perahu pun berlabuh di Dermaga Kabir, Pulau Pantar.

Setelah menaruh tas di penginapan (sampai awal tahun 2017), di Kabir belum ada hotel), saya diantar Bang Rahim (Warga Kabir yang menjadi pemandu saya) menggunakan sepeda motor, menuju Desa Pandai. Perjalanan menuju Desa Pandai melewati pesisir Desa ini jaraknya hanya sekitar 8 km dari Kabir tapi jalan yang harus kami lewati banyak yang rusak parah sehingga butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapainya. Untungnya pemandangan yang kami lewati sepanjang jalan sangat menarik. Kami melewati jalan di pesisir barat Pulau Pantar dengan pantai-pantai cantik di kiri jalan dan perbukitan hijau yang tinggi menjulang di kanan jalan.

Jalan semen di Desa Pandai menuju Air Terjun Pandai

Tiba di pertigaan jalan di depan Masjid Al Munawarah Desa Pandai, Bang Rahim membelokkan sepeda motornya ke kanan, melewati jalan kampung yang disemen hingga tiba di ujung jalan, di dekat sungai kecil. Setelah Bang Rahim memarkir kendaraan di bawah sebuah pohon, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Pandai dengan berjalan kaki melewati jalan setapak di antara kebun kelapa, kebun pisang, dan semak-semak. Kami juga harus menyeberangi sungai kecil yang airnya ternyata berasal dari Air Terjun Pandai. Tanpa kami minta, seorang Warga Pandai juga ikut menemani kami menuju Air Terjun Pandai sehingga perjalanan jadi lebih seru.

Jalan setapak di antara rerumputan menuju Air Terjun Pandai
 
Setelah berjalan kaki sekitar 30 menit, akhirnya kami tiba di Air Terjun Pandai. Segala rasa penat dan lelah mendadak sirna, begitu kami melihat keindahan Air Terjun Pandai. Bayangkan saja! Di depan kami mengalir sebuah air terjun dari ketinggian sekitar dua belas meter dengan kolam hijau yang sangat bening di bawahnya. Saking beningnya air kolam, bebatuan di dasar kolam bisa terlihat dengan jelas, membuat siapa saja yang melihatnya tidak tahan untuk tidak menyeburkan diri ke dalamnya, termasuk saya. 

Air Terjun Pandai dengan kolam air jernih di bawahnya
 
Tanpa membuang waktu, saya langsung menyeburkan diri ke dalam kolam hijau tersebut. Saya berenang-renang dan bermain-main floaties (ban tiup) di bawah air terjun ditemani Warga Pandai, yang saya lupa namanya. Selain mandi dan berenang, kalau punya nyali besar, kita juga bisa meloncat dari ketinggian air terjun ke dalam kolam seperti yang biasa dilakukan Warga Pandai. Sayangnya, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya saat kami tengah asyik bermain-main di  Air Terjun Pandai. Mau tak mau, kami harus segera mengakhiri permainan dan segera mengamankan kamera dan barang-barang saya.

Ada yang menarik dengan nama Air Terjun Pandai. Awalnya saya mengira Pandai artinya pintar seperti dalam Bahasa Indonesia. Namun, ternyata dugaan saya salah. Menurut keterangan Bang Rahim, Pandai berasal dari kata ‘Pana’ dan ‘Dai’, kata-kata dalam Bahasa Pantar yang artinya serang saja. Konon, pada zaman kerajaan dulu, sering terjadi perang antar suku/kerajaan di Pulau Pantar. Panglima perang memerintahkan kepada warganya untuk segera menyerang musuh dengan seruan, “Pana Dai, Pana Dai!” Lambat laun kata Pana Dai berubah menjadi Pandai  yang akhirnya dipakai menjadi nama desa dan air terjun. (Edyra)***


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MASJID DI PULAU PANTAR

Pantar merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di antara Pulau Lembata dan Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau dengan pantai dan alam bawah laut yang indah ini mempunyai penduduk muslim yang cukup banyak jumlahnya, terutama yang tinggal di daerah pantai. Berikut beberapa masjid di Pulau Pantar yang bisa Anda singgahi untuk menunaikan sholat ketika Anda berkunjung ke Pulau Pantar.

1. Masjid Al Munawarah
    Desa Pandai, Kecamatan Pantar, Pulau Pantar



2. Masjid At Taqwa
    Dusun Lamahule RT 09/RW 04, Desa Batu, Kecamatan Pantar Barat, Pulau Pantar


3. Masjid Babul Falah
    Kelurahan Kabir, Kecamatan Pantar Barat, Pulau Pantar


4. Masjid Baburrahman
    Dusun Air Panas, Desa Bandar, Kecamatan Pantar, Pulau Pantar


5. Masjid Haqqul Yakin
    Dusun Tuabang, Desa Batu, Kecamatan Pantar Barat, Pulau Pantar


6. Masjid Nurul Bahri
    Dusun Labuan Bajo, Kelurahan Kabir, Kecamatan Pantar Barat, Pulau Pantar


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MAUHALEK WATERFALL, THE MOST BEAUTIFUL WATERFALL IN TIMOR ISLAND


Menikmati hari yang indah di Air Terjun Mauhalek








Atambua adalah ibu kota Kabupaten Belu yang berada di ujung timur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kota yang berada di Pulau Timor ini berbatasan darat langsung dengan Negara Timor Leste yang dulu pernah menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga tak heran kalau Atambua menyebut dirinya sebagai Kota di Perbatasan. Bila Anda datang ke Atambua via darat dari arah Kupang/Kefamenanu, Anda akan melihat gapura di pintu masuk kota  dengan tulisan “Selamat Datang di Atambua, Kota di Perbatasan.”

Sebagai kota perbatasan, Atambua mempunyai  banyak tempat menarik, mulai dari pantai, padang rumput (savana) hingga air terjun. Salah satu air terjun yang menarik untuk dikunjungi adalah Air Terjun Mauhalek yang masih alami dan belum diketahui banyak orang. Saya mengenal air terjun cantik juga baru belakangan ini, lewat instagram.

Air Terjun Mauhalek terletak di Dusun Fatumuti, Desa Raiulun, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu. Jaraknya sekitar 31 km dari pusat Kota Atambua atau sekitar 45 menit berkendara. Sejauh ini, tidak ada kendaraan umum menuju air terjun ini. Jadi, untuk mencapainya Anda harus naik ojek atau menyewa kendaraan dari Atambua. Saya membawa kendaraan sendiri ketika mengunjungi Air Terjun Mauhalek.

Perjalanan menuju Air Terjun Mauhalek cukup menantang karena saya harus melewati jalan yang mendaki dan berkelok-kelok mirip ular. Perjalanan saya ke sana juga cukup banyak tantangan karena saya berkunjung saat musim hujan, di mana banyak tebing yang longsor di beberapa tempat. Selain itu, di ruas jalan ini juga sedang ada perbaikan jalan di mana-mana sehingga mengharuskan saya  berkendara dengan lebih sabar dan hati-hati.   

Gerbang menuju Air Terjun Mauhalek
  
Setelah berkendara sekitar 40 menit, akhirnya tibalah saya di pertigaan Desa Raiulun dengan gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Air Terjun Mauhalek.” Dari gerbang ini, tempat parkir Air Terjun Mauhalek berjarak 700 meter dengan kondisi jalan sebagian disemen di kanan kiri, sabagian lagi jalan tanah. Di kanan kiri jalan, saya melihat banyak ladang jagung dan di kejauhan tampak Gunung Lakaan yang berdiri misterius diselimuti kabut di puncaknya.

Anak tangga menuju Air Terjun Mauhalek
  
Di dekat tempat parkir terdapat sebuah rumah sederhana yang konon adalah penjaga Air Terjun Mauhalek. Ada juga sebuah lopo-lopo (gazebo) yang cukup besar. Dari tempat parkir, kita tinggal berjalan kaki lima menit menuruni ratusan anak tangga. Dari tangga tersebut, Air Terjun Mauhalek yang menawan sudah terlihat. Suara gemericik airnya begitu menenangkan, membuat saya lupa akan perjuangan untuk mencapai air terjun ini.

Air Terjun Mauhalek yang menakjubkan
  
Air Terjun Mauhalek berbeda dari air terjun kebanyakan. Air terjun ini berada di samping sungai dengan bentuk air terjun yang berundak-undak (cascading) terdiri dari beberapa tingkatan yang cukup tinggi. Ketinggian air terjun sekitar 50 meter menjadikannya air terjun tertinggi di Pulau Timor. Air terjun ini dinaungi pepohonan yang rindang di sekitarnya membuat suasana menjadi lebih asri dan indah. Tak heran kalau Air Terjun Mauhalek disebut-sebut sebagai air terjun tertinggi dan terindah di Pulau Timor.
 
Menariknya lagi, sumber Air Terjun Mauhalek ini bukan berasal dari sungai melainkan dari mata air yang airnya mengalir sepanjang tahun. Saat musim kemarau, air terjun ini tetap mengalir meski dengan debit air yang lebih kecil. Warga setempat pun memanfaatkan Air Terjun Mauhalek untuk kebutuhan air sehari-hari di musim kemarau.

Air terjun mini di dekat Air Terjun Mauhalek
  
Di dekat Air Terjun Mauhalek terdapat sebuah air terjun kecil yang airnya berasal dari aliran sungai. Terbukti saat kedatangan saya yang tepat setelah hujan reda, air terjun kecil tersebut berwarna coklat keruh sedangkan Air Terjun Mauhalek tetap bening karena sumber mata airnya berbeda.


Selain mandi dan bermain air, ada satu hal lagi yang bisa Anda lakukan di Air Terjun Mauhalek, yaitu mendaki air terjun ini hingga ke puncaknya. Awalnya, saya tidak menyangka Air Terjun Mauhalek bisa didaki/dipanjat karena saya pikir pasti licin dengan banyaknya lumut di sana. Ternyata dugaan saya keliru. Beberapa saat setelah kedatangan saya, datanglah beberapa warga setempat bersama seorang turis. Mereka langsung mendaki Air Terjun Mauhalek sampai ke puncak. Saya pun terkagum-kagum dibuatnya. Sebenarnya, saya pengen juga mendaki Air Terjun Mauhalek tapi saya mengurungkan niat karena saya tidak membawa baju ganti dan hari juga sudah sore. Saya sudah cukup puas memandangi keindahan air terjun ini dan mendengarkan gemericik airnya yang menenangkan jiwa. (Edyra)***



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments