BERCENGKERAMA DENGAN SI IMUT TYTO ALBA DI DESA TLOGOWERU

Desa Tlogoweru berada di Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Desa ini berjarak sekitar 19 km dari Alun-alun Kota Demak atau sekitar 30 menit berkendara.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

7 PANTAI TERINDAH DI PULAU ROTE



Pantai Leli
Inilah pantai cantik yang letaknya paling dekat dari Ba’a, ibu kota Kabupaten Rote Ndao. Jaraknya hanya sekitar 5 km dari Ba’a atau sekitar 10 menit berkendara. Lokasinya juga di pinggir jalan raya Trans Rote sehingga mudah dicari. Pantai Leli berpasir putih (cream) dengan air laut hijau kebiruan. Di ujung barat pantai ini terdapat sebuah bukit yang sering menjadi lokasi merumput sapi-sapi warga setempat. Keunikan Pantai Leli adalah taburan batu karang beragam bentuk dan ukuran di tengah lautnya, yang membuatnya semakin eksotis.  

Pantai Tiang Bendera
Pantai Tiang Bendera juga berada tak jauh dari Kota Ba’a, hanya sekitar 5 km. Sayangnya, jalan menuju pantai ini cukup buruk (2 km berupa jalan tanah berbatu) dan lokasinya cukup tersembunyi tanpa disertai rambu-rambu atau penunjuk arah sama sekali. Pantai Tiang Bendera merupakan salah satu lokasi wisata di Pulau Rote yang sudah mendapat sedikit perhatian dari pemerintah daerah berupa pembangunan beberapa lopo-lopo (gazebo) di pinggir pantai. Pantai ini juga dihiasi beberapa batu karang yang cukup besar, membuatnya mirip Tanah Lot di Bali. Dinamakan Tiang Bendera karena di kawasan pantai tersebut terdapat sebuah tugu beton setinggi 2,5 meter yang berdiri di atas pulau karang, di tengah laut. Konon katanya, tiang tersebut merupakan tiang peninggalan Belanda, tempat mereka mengibarkan benderanya sebagai tanda bahwa Pulau Rote merupakan wilayah jajahannya.

Pantai Nemberala
Inilah pantai andalan Pulau Rote yang tersohor sampai ke mancanegara berkat kedahsyatan ombaknya. Tak heran kalau Pantai Nemberala menjadi destinasi favorit para penggemar olahraga selancar (surfing) dari berbagai penjuru dunia. Selain kedahsyatan ombaknya, Pantai Nemberala juga cantik secara visual. Seperti pantai-pantai lainnya di Pulau Rote, Pantai Nemberala juga berpasir putih dengan air laut hijau toska. Pantai ini dihiasi jejeran pohon kelapa di pinggir pantainya membuatnya makin mempesona.

Pantai Tunggaoen
Pantai Tunggaoen berada tak jauh dari Pantai Nemberala, sekitar 10 km jaraknya dari Pantai Nemberala . Keunikan pantai ini tak lain berkat adanya sebuah batu karang berbentuk seperti kodok, di sebelah kanan pantai, sedikit di tengah laut. Tak pelak lagi, batu karang tersebut membuat pantai Tunggaoen semakin fotogenik.

Pantai Oeseli

Pantai Inaoe

Pantai Inaoe berada di pesisir selatan Pulau Rote, tepatnya di Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari Kota Ba’a (ibu kota Kabupaten Rote Ndao), pantai ini berjarak 29 km atau sekitar 45 menit berkendara. Sayangnya, belum ada kendaraan umum menuju Pantai Inaoe sehingga kita harus naik ojek atau menyewa kendaraan dari Kota Ba’a untuk mengunjunginya. Pantai mungil nan cantik ini mendadak jadi viral di internet setelah ada seorang warga mengunggah fotonya di media sosial. Secara visual, Pantai Inaoe yang oleh warga lokal disebut Pantai Tolanamon terlihat sangat cantik dan unik. Pantainya tersembunyi di sebuah teluk mungil yang menjorok jauh ke daratan dengan bibir pantai yang berpasir putih sangat pendek, hanya sekitar 15 meter panjangnya. Air lautnya sangat bening dengan warna bergradasi dari hijau toska di pinggir pantai hingga biru tua di lautan lepas. Di sekeliling pantai terdapat bukit-bukit kecil yang seperti mengepung Pantai Inaoe dan menyembunyikannya dari dunia luar. Namun, keberadaan bukit-bukit tersebut justru semakin mempercantik Pantai Inaoe. Dari bukit-bukit inilah, kita bisa melihat kecantikan Pantai Inaoe.



Pantai Oesosole

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

PANTAI INAOE, PANTAI MUNGIL NAN CANTIK DI ROTE SELATAN

Menikmati keindahan Pantai Inaoe yang sedang hits di media sosial





Pulau Rote terkenal akan keindahan pantainya. Salah satu pantai yang sedang menjadi trending topic dan menarik perhatian banyak orang akhir-akhir ini adalah Pantai Inaoe atau Tolanamon. Pantai mungil nan cantik ini mendadak jadi viral di internet setelah ada seorang warga mengunggah foto Pantai Inaoe di media sosial.

Pantai Inaoe berada di pesisir selatan Pulau Rote, tepatnya di Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari Kota Ba’a (ibu kota Kabupaten Rote Ndao), pantai ini berjarak 29 km atau sekitar 45 menit berkendara. Sayangnya, belum ada kendaraan umum menuju Pantai Inaoe sehingga kita harus naik ojek atau menyewa kendaraan dari Kota Ba’a untuk mengunjunginya.

Saya beruntung dapat pinjaman sepeda motor sehingga tak perlu susah-susah mencari kendaraan untuk mencapai Pantai Inaoe. Dari Kota Ba’a, saya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai pantai ini. Sebenarnya jalan menuju pantai ini cukup bagus dan mulus, tapi tak ada rambu-rambunya sama sekali sehingga saya harus bertanya ke warga setempat setiap bertemu persimpangan jalan. Dari Ba’a sampai Desa Inaoe yang berjarak sekitar 25 km jalannya beraspal dan cukup bagus. Hanya di beberapa titik jalan rusak dan berlubang. Namun, dari Desa Inaoe sampai Pantai Inaoe yang jaraknya 4 km kondisi jalan belum beraspal dengan kontur jalan menurun yang sangat curam. Rem harus benar-benar pakem untuk melewati jalan ini.

Tiba di tempat parkir Pantai Inaoe, suasana sangat sepi, tak ada satu pun pengunjung lain. Meski hari masih pagi, cuaca sangat panas karena tak ada satu pun pohon peneduh. Topi dan kaca mata hitam adalah aksesoris yang wajib dibawa, ketika mengunjungi Pantai Inaoe.

Tanpa membuang waktu, saya segera berjalan kaki menuju pantai yang jaraknya sangat dekat dari tempat parkir. Namun, saya kecewa ketika melihat penampakan Pantai Inaoe dari dekat. Pantainya berada di teluk kecil yang menjorok ke daratan dengan air laut yang warnanya tidak menarik. Di beberapa tempat banyak sampah berserakan. Apalagi saat itu laut sedang surut, sehingga pantai terlihat sangat tidak menarik. Sangat berbeda dari foto-foto Pantai Inaoe yang saya lihat di berbagai media sosial, dengan air lautnya yang berwarna hijau toska.

Saya sangat kecewa melihat Pantai Inaoe yang tidak seindah foto-fotonya di internet. Namun, karena masih penasaran dengan Pantai Inaoe yang terlihat sangat menawan di media sosial, saya berjalan menuju bukit karang yang berada di sebelah barat pantai. Saya harus melewati beberapa lorong kecil dan mendaki bukit kecil, hingga tibalah saya di atas bukit yang membuat saya terpana. Dari bukit tersebut, terlihatlah pantai mungil yang sangat cantik seperti yang terlihat di berbagai media sosial belakangan ini. Rupanya inilah Pantai Inaoe yang sebenarnya, yang membuat saya penasaran selama ini.

Pantai Inaoe dilihat dari bukit sebelah timur laut
 

Pantai Inaoe dilihat dari bukit sebelah tenggara


Secara visual, Pantai Inaoe yang oleh warga lokal disebut Pantai Tolanamon terlihat sangat cantik dan unik. Pantainya tersembunyi di sebuah teluk mungil yang menjorok jauh ke daratan dengan bibir pantai yang berpasir putih sangat pendek, hanya sekitar 15 meter panjangnya. Air lautnya sangat bening dengan warna bergradasi dari hijau toska di pinggir pantai hingga biru tua di lautan lepas. Di sekeliling pantai terdapat bukit-bukit kecil yang seperti mengepung Pantai Inaoe dan menyembunyikannya dari dunia luar. Namun, keberadaan bukit-bukit tersebut justru semakin mempercantik Pantai Inaoe. Dari bukit-bukit inilah, kita bisa melihat kecantikan Pantai Inaoe.

Pantai Inaoe dilihat dari bukit sebelah utara
Pantai Inaoe dilihat dari utara pinggir pantai sebelah utara
  
Meski matahari terik menyengat, saya tetap semangat menjelajah setiap lekuk Pantai Inaoe. Mulai dari bukit di sebelah timur, utara hingga barat pantai, semua saya jelajahi. Tak lupa saya bermain-main di area pasir putih Pantai Inaoe yang tak seberapa panjangnya. Kesimpulan saya, dari sudut mana pun, Pantai Inaoe terlihat sangat menawan. Apalagi saat itu tak ada satu pun pengunjung lain selain saya, sehingga saya seperti berada di pantai pribadi yang menuat saya betah berlama-lama.

Tak heran kalau Pantai Inaoe ngetop banget di media sosia belakangan ini. Soalnya Pantai Inaoe sangat cantik dan unik, membuat siapa pun yang melihatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.(Edyra)***


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MENIKMATI KESEGARAN AIR TERJUN PANDAI


Serunya bermain floaties di Air Terjun Pandai





Pulau Pantar di Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal akan keindahan alam bawah lautnya. Selain itu, pulau yang terletak di antara Pulau Lembata dan Pulau Alor ini juga memiliki pesona alam lainnya yang belum diketahui banyak orang, yaitu air terjun. Namanya Air Terjun Pandai, terletak di Desa Pandai Kecamatan Pantar, Pulau Pantar.

Perkenalan saya dengan Air Terjun Pandai berawal dari Instagram. Saat iseng-iseng menulis #alor, muncul foto air terjun cantik yang tak lain adalah Air Terjun Pandai. Penasaran dengan air terjun yang tersebut, saya pun mengagendakan waktu khusus saat berkunjung ke Alor, tetangganya Pantar awal Maret kemarin.

Untuk mencapai Air Terjun Pandai butuh sedikit perjuangan. Karena lokasinya berada di Pulau Pantar, pertama saya harus menyeberang dengan perahu motor dari Pelabuhan Pantai Reklamansi Kalabahi, Alor menuju Kabir, “kota kecil“ di Pulau Pantar yang letaknya paling dekat dengan Air Terjun Pandai. Perjalanan berperahu menuju Kabir sangat menyenangkan karena saat itu cuaca cerah dan laut tenang tanpa gelombang. Sepanjang jalan, mata saya disuguhi pemandangan yang menakjubkan berupa birunya laut dan empat pulau kecil (Pulau Kepa, Pulau Pura, Pulau Ternate dan Pulau Buaya) yang tersebar di Selat Pantar. Yang paling menyenangkan adalah atraksi lumba-lumba meloncat-loncat di dekat perahu, saat memasuki perairan Selat Pantar, di dekat Pulau Ternate. Alhasil perjalanan selama tiga jam pun tak terasa dan tengah hari perahu pun berlabuh di Dermaga Kabir, Pulau Pantar.

Setelah menaruh tas di penginapan (sampai awal tahun 2017), di Kabir belum ada hotel), saya diantar Bang Rahim (Warga Kabir yang menjadi pemandu saya) menggunakan sepeda motor, menuju Desa Pandai. Perjalanan menuju Desa Pandai melewati pesisir Desa ini jaraknya hanya sekitar 8 km dari Kabir tapi jalan yang harus kami lewati banyak yang rusak parah sehingga butuh waktu sekitar 20 menit untuk mencapainya. Untungnya pemandangan yang kami lewati sepanjang jalan sangat menarik. Kami melewati jalan di pesisir barat Pulau Pantar dengan pantai-pantai cantik di kiri jalan dan perbukitan hijau yang tinggi menjulang di kanan jalan.

Jalan semen di Desa Pandai menuju Air Terjun Pandai

Tiba di pertigaan jalan di depan Masjid Al Munawarah Desa Pandai, Bang Rahim membelokkan sepeda motornya ke kanan, melewati jalan kampung yang disemen hingga tiba di ujung jalan, di dekat sungai kecil. Setelah Bang Rahim memarkir kendaraan di bawah sebuah pohon, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Pandai dengan berjalan kaki melewati jalan setapak di antara kebun kelapa, kebun pisang, dan semak-semak. Kami juga harus menyeberangi sungai kecil yang airnya ternyata berasal dari Air Terjun Pandai. Tanpa kami minta, seorang Warga Pandai juga ikut menemani kami menuju Air Terjun Pandai sehingga perjalanan jadi lebih seru.

Jalan setapak di antara rerumputan menuju Air Terjun Pandai
 
Setelah berjalan kaki sekitar 30 menit, akhirnya kami tiba di Air Terjun Pandai. Segala rasa penat dan lelah mendadak sirna, begitu kami melihat keindahan Air Terjun Pandai. Bayangkan saja! Di depan kami mengalir sebuah air terjun dari ketinggian sekitar dua belas meter dengan kolam hijau yang sangat bening di bawahnya. Saking beningnya air kolam, bebatuan di dasar kolam bisa terlihat dengan jelas, membuat siapa saja yang melihatnya tidak tahan untuk tidak menyeburkan diri ke dalamnya, termasuk saya. 

Air Terjun Pandai dengan kolam air jernih di bawahnya
 
Tanpa membuang waktu, saya langsung menyeburkan diri ke dalam kolam hijau tersebut. Saya berenang-renang dan bermain-main floaties (ban tiup) di bawah air terjun ditemani Warga Pandai, yang saya lupa namanya. Selain mandi dan berenang, kalau punya nyali besar, kita juga bisa meloncat dari ketinggian air terjun ke dalam kolam seperti yang biasa dilakukan Warga Pandai. Sayangnya, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya saat kami tengah asyik bermain-main di  Air Terjun Pandai. Mau tak mau, kami harus segera mengakhiri permainan dan segera mengamankan kamera dan barang-barang saya.

Ada yang menarik dengan nama Air Terjun Pandai. Awalnya saya mengira Pandai artinya pintar seperti dalam Bahasa Indonesia. Namun, ternyata dugaan saya salah. Menurut keterangan Bang Rahim, Pandai berasal dari kata ‘Pana’ dan ‘Dai’, kata-kata dalam Bahasa Pantar yang artinya serang saja. Konon, pada zaman kerajaan dulu, sering terjadi perang antar suku/kerajaan di Pulau Pantar. Panglima perang memerintahkan kepada warganya untuk segera menyerang musuh dengan seruan, “Pana Dai, Pana Dai!” Lambat laun kata Pana Dai berubah menjadi Pandai  yang akhirnya dipakai menjadi nama desa dan air terjun. (Edyra)***


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments