MENCARI KEHANGATAN DI BALI

Asyiknya menikmati kehangatan Air Panas Banjar!

Jangan berpikiran ngeres dulu, membaca judul tulisan di atas! Yang saya maksud dengan kehangatan di atas adalah kehangatan dalam arti yang sebenarnya, yaitu sumber air hangat/panas. Selama ini, mungkin belum banyak yang tahu kalau di Bali terdapat objek wisata sumber air panas (hot spring). Maklum, wisata sumber air panas di Bali belum banyak di-expose media massa. Keberadaannya masih kalah pamor dengan wisata pantai, danau atau sawah terasering. Lokasi sumber air panas yang berada di pedalaman Bali dan jauh dari objek wisata populer seperti Pantai Kuta, Sanur atau Tanah Lot membuatnya semakin tidak dikenal turis. Padahal di Bali terdapat banyak sumber air panas yang menarik, dan beberapa di antaranya terletak dekat dengan objek wisata populer. Misalnya : Sumber Air Panas Toya Bungkah letaknya dekat dengan Kintamani, dan Sumber Air Panas Banjar letaknya dekat dengan Pantai Lovina. Saat cuaca dingin atau musim hujan seperti sekarang ini, rasanya sangat nikmat berendam di air panas alami. Bila Anda tertarik untuk merasakan kehangatannya, berikut beberapa sumber air panas di Bali yang layak untuk Anda kunjungi.

Air Panas Angseri
Air Panas Angseri terletak di Desa Angseri, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Jaraknya sekitar 40 km dari Denpasar atau 20 km dari Kota Tabanan. Untuk mencapainya, butuh waktu sekitar satu jam berkendara dari Denpasar. Lokasi Air Panas Angseri dikelilingi pepohonan yang hijau dan sawah terasering yang indah. Di Air Panas Angseri terdapat sebuah kolam renang dewasa dan sebuah kolam renang anak lengkap dengan fasilitas bermain. Semuanya berair hangat dengan suhu sekitar 46 derajat celcius. Selain itu juga telah dibangun enam bilik tertutup untuk berendam dengan kapasitas maksimal lima orang per bilik, toilet, sebuah kantin, dan sebuah restoran yang dilengkapi dengan satu bilik berendam. Di samping kolam renang dewasa, terdapat sebuah air terjun kecil yang cukup indah. Air terjun ini berair hangat dan berwarna jingga karena mengandung belerang.

Air Panas Angseri

Air Panas Angseri ini sumbernya bukan di sekitar kolam renang dan bilik berendam tetapi di tempat parkir yang letaknya agak jauh dari lokasi kolam renang. Air panas dialirkan melalui pipa dari sumbernya menuju kolam renang dan bilik berendam. Air panas alam ini menurut kepercayaan masyarakat setempat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit, karena mengandung belerang. Hal ini bisa dilihat di air terjun yang berwarna jingga (orange), yang menunjukkan adanya kandungan belerang di air tersebut.

Untuk bisa menikmati kehangatan Di Air Panas Angseri setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 4.000,00 per orang. Bila ingin berendam di dalam bilik berendam, pengunjung harus merogoh kocek lagi sebesar Rp 10.000,00 per orang. Harga yang cukup murah bila dibandingkan dengan manfaat yang akan Anda dapatkan.

Air Panas Angseri dibuka untuk umum pada bulan Oktober 2007, atas prakarsa enam orang warga Desa Angseri yang selanjutnya menjadi pengurus sekaligus pengelola Wisata Alam Air Panas Angseri. Selanjutnya terbentuk kelompok dengan anggota 80 orang warga Desa Angseri dengan mengusung nama Kelompok Pengelola Wisata Alam Angseri dengan bentuk badan hukum CV. Sampai saat ini, turis yang berkunjung ke Air Panas Angseri cukup banyak, terutama di akhir pekan dan di hari libur nasional.

Pengelola Wisata Alam Air Panas Angseri juga telah melakukan beberapa langkah promosi melalui berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik. Bahkan beberapa stasiun televisi juga sudah pernah meliput Wisata Alam Air Panas Angseri ini, antara lain : Bali TV, Dewata TV, TVRI Bali, dan Trans TV. Pengelola juga telah memasang spanduk di beberapa tempat strategis agar menarik perhatian turis. Namun, akses jalan masuk menuju Air Panas Angseri kurang bagus, jalan aspal sudah mulai rusak dan berlubang di sana-sini. Selain itu penunjuk arah ke lokasi air panas juga masih sangat kurang sehingga cukup membingungkan para turis yang akan berkunjung ke sana. Semoga ada perhatian dari pemerintah daerah setempat (Pemda Tabanan) kepada Wisata Alam Air Panas Angseri ini, sehingga objek wisata tersebut menjadi lebih indah dan semakin banyak dikunjungi para turis.

Air Panas Penatahan

Air Panas Penatahan (Yeh Panes)
Orang Bali menyebut Air Panas Penatahan dengan nama Yeh Panes. Yeh dalam Bahasa Bali artinya air, dan panes artinya panas. Air Panas Penatahan terletak di Desa Penatahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Jaraknya sekitar 34 km dari Denpasar atau 13 km dari Kota Tabanan. Sumber air panas ini berada di tepi Sungai Yeh Ho dan di antara pepohonan yang rindang. Suasana di sekitar air panas cukup sejuk dan asri. Air panas di Sumber Air Panas Penatahan ini sudah dialirkan ke dalam beberapa kolam dan bak mandi kecil. Ada dua buah kolam berendam dan empat buah bak mandi kecil di Air Panas Penatahan. Dua kolam berendam tersebut dipagari bilik bambu dan ada pintunya. Di dalam kolam tersebut ada pancuran air hangat dan pancuran air dingin untuk bilas. Untuk berendam di kolam tersebut pengunjung dikenakan biaya Rp 5.000,00 per jam. Empat kolam kecil lainnya berada di bawah kolam berendam. Keempat kolam kecil ini dibatasi dengan sekat tembok tetapi tidak dilengkapi dengan pintu. Untuk berendam di kolam/bak kecil ini pengunjung tidak perlu membayar lagi. Air panas di Air Panas Penatahan ini sangat baik untuk mandi atau berendam karena mengandung belerang sehingga bisa menghilangkan pegal-pegal dan menyembuhkan berbagai penyakit kulit.

Air Panas Banjar
Tidak jauh dari Pantai Lovina, terdapat sebuah pemandian air panas yang cukup menarik, yaitu Air Panas Banjar (Banjar Hotspring). Air panas ini cukup terkenal di kalangan turis asing karena letaknya tidak jauh dari Pantai Lovina, hanya sekitar 10 km di sebelah barat Pantai Lovina. Secara administratif, Air Panas Banjar masuk ke dalam wilayah Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.

Suasana sejuk dan asri langsung menyambut Anda begitu menginjakkan kaki di kawasan Air Panas Banjar. Maklum, kompleks air panas ini dikelilingi pepohonan yang rindang dan taman yang cukup indah. Apalagi di dekat Air Panas Banjar juga terdapat sebuah sungai kecil yang airnya jernih. Pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang juga semakin menambaha asri suasana di Air Panas Banjar.

Air Panas Banjar

Sumber air panas di Air Panas Banjar yang muncul dari perbukitan dan dialirkan ke dalam tiga kolam yang dibuat bertingkat. Kolam pertama (paling atas) merupakan kolam berendam yang dilengkapi dengan delapan buah pancuran. Kedalaman air di kolam ini hanya sekitar 40 cm sehingga pengunjung bisa menikmati air panas ini dengan duduk berendam sambil menikmati pijatan air dari pancuran. Berendam di kolam ini bagaikan berada di SPA. Air pancuran yang jatuh ke tubuh Anda seolah-olah memijat tubuh Anda sehingga menghilangkan rasa capek dan pegal Anda.

Kolam kedua yang berukuran lebih besar merupakan kolam renang. Kolam ini letaknya di bawah kolam pertama. Di kolam ini terdapat lima buah pancuran dengan aliran air yang lebih besar. Pengunjung bisa memilih untuk duduk berendam atau berenang di kolam ini. Kalau saya lebih memilih untuk berenang-renang di kolam ini. Kapan lagi bisa berenang di kolam renang berair hangat. Dengan berenang di kolam ini, Anda bisa melakukan dua aktivitas sekaligus, yaitu berolah raga dan ber-SPA ria. Dengan begitu tubuh Anda akan lebih sehat dan pegal-pegal pun hilang.

Untuk menikmati kehangatan Air Panas Banjar, Anda tidak perlu merogoh kocek yang dalam. Cukup mengeluarkan uang Rp 3.000,00, Anda sudah bisa berendam, berenang atau mandi sepuasnya.

Air Panas Toya Bungkah
Mandi air hangat sambil menikmati panorama Danau Batur yang menawan? Itulah yang bisa Anda lakukan di Air Panas Toya Bungkah. Di Desa Toya Bungkah, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli terdapat pemandian air hangat bernama Batur Natural Hot Spring. Letak air hangat ini persis di pinggir Danau Batur yang indah. Air hangat ini dikelola secara komersial oleh warga sejak tahun 2009. Sebelumnya, warga biasa menggunakan air hangat di tempat ini untuk mandi dari pancuran. Sekarang, di kompleks pemandian air hangat tersebut sudah dilengkapi empat jenis kolam : kolam renang, kolam berendam, kolam obat, dan kolam anak-anak. Selain kolam renang, semuanya menggunakan air hangat alami dari perut bumi.

Air Panas Toya Bungkah

Kolam renangnya berukuran 18 m x 7 m, berada paling dekat dengan Danau Batur. Jadi sambil berenang, Anda bisa menikmati indahnya Danau Batur. Kolam kedua adalah kolam obat, di mana pengunjung bisa berendam sambil berobat. Kolam lainnya adalah kolam berjemur, di mana Anda bisa rebahan sambil berjemur. Dengan kedalam kolam yang hanya 25 cm, memungkinkan Anda untuk merebahkan badan sambil menikmati hangatnya air dan cantiknya panorama Danau Batur. Adapun kolam keempat, yaitu kolam anak-anak disediakan khusus untuk anak-anak agar lebih aman ketika berendam atau berenang.

Jika Anda lapar atau haus setelah berendam atau berenang, tidak usah khawatir. Anda bisa memesan makanan dan minuman di restoran yang ada di kompleks air hangat tersebut. Anda bisa menikmatinya di restoran, di bale bengong, atau di tepi danau. Harga tiket masuk Rp 40.000,00 (termasuk welcome drink berupa jus terong belanda, handuk dan sandal jepit untuk dipakai di area pemandian). Cukup mahal memang. Namun, Anda akan mendapat manfaat yang sepadan. (edyra)***
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MENELUSURI JEJAK INGGRIS DI PULAU PENANG

Berfoto di depan Benteng Cornwallis

Selama ini, para turis kebanyakan menganggap bahwa destinasi wisata di Malaysia hanya Kuala Lumpur. Maklum, selain menyandang predikat sebagai ibu kota negara, Kuala Lumpur juga memiliki banyak tempat wisata ataupun landmark yang menarik. Yang paling terkenal adalah Menara Kembar Petronas (Petronas Twin Tower) dan Menara Kuala Lumpur (Kuala Lumpur Tower), yang termasuk bangunan tertinggi di dunia. Namun, Kuala Lumpur bukan satu-satunya destinasi wisata menarik di Malaysia. Masih ada beberapa tempat menarik lainnya yang layak untuk dikunjungi selain Kuala Lumpur. Di antaranya adalah Pulau Penang.

Pulau Penang (Orang Malaysia menyebutnya Pulau Pinang), merupakan sebuah pulau kecil yang terletak di Selat Malaka, terpisah dari daratan/semenanjung Malaysia. Dari Kuala Lumpur, jarak tempuhnya sekitar empat jam berkendara. Pulau seluas 293 km² ini termasuk dalam wilayah Negara Bagian Pulau Penang. Untuk mencapai Pulau Penang dari daratan Malaysia (Butterworth), ada dua pilihan. Anda bisa naik ferry ataupun berkendara melintasi Jembatan Pulau Penang (Penang Bridge) karena sejak tanggal 14 September 1985 pemerintah Malaysia sudah membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Penang dengan daratan Malaysia. Jembatan sepanjang 13,5 km tersebut merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Sebelum tahun 1985, transportasi antara Pulau Penang (Georgetown) dan daratan Malaysia (Butterworth) hanya dilayani oleh ferry.

Kaya Bangunan Bersejarah
Petualangan di Pulau Penang bisa Anda mulai dari Georgetown, kota terbesar di Pulau Penang yang juga ibu kota Negara Bagian Pulau Penang. Nama kota ini diambil dari nama King George III, Raja Inggris yang berkuasa pada masa itu. Menyusuri jalan utama Georgetown, seperti menyusuri kepingan masa lalu. Jejak-jejak sejarah kota yang didirikan pada tahun 1786 oleh Kapten Francis Light (pedagang dari British East India Company) itu, masih terlihat jelas. Dengan mudah, kita bisa menyaksikan gedung-gedung tua dengan arsitektur yang memukau bersanding harmonis dengan jajaran gedung-gedung tinggi nan modern. Yang mengagumkan, sebagian besar bangunan tua tersebut dalam kondisi yang terawat dan masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya.

Bangunan-bangunan bersejarah di Georgetown merupakan penggabungan antara unsur lokal (Melayu), Cina, India, dan Eropa yang menghasilkan arsitektur khas. Karena lama dijajah Inggris, jejak peninggalan kolonial Inggris masih terasa kental di Georgetown. Bangunan atau gedung dengan arsitektur khas Eropa banyak bertebaran di Georgetown.

Berbeda dengan Singapura, di mana banyak bangunan bersejarah yang harus mengalah pada modernisasi dengan hadirnya gedung pencakar langit dan bangunan apartemen, nasib bangunan kuno di Georgetown masih lebih baik. Pemerintah Malaysia masih mempertahankan berbagai bangunan bersejarah tersebut dan memberikan perhatian yang serius terhadapnya. Tak heran kalau akhirnya Georgetown masuk ke dalam Situs Wariasan Dunia (World Heritage Sites) UNESCO.

Benteng Cornwallis

Beberapa bangunan tua yang menarik untuk di kunjungi antara lain : Benteng Cornwallis (Fort Cornwallis), Clock Tower, City Hall, dan Town Hall. Benteng Cornwallis terletak di sudut Kota Georgetown, dekat Pelabuhan Utama Penang. Benteng peninggalan Inggris ini dibangun oleh Kapten Francis Light pada tahun 1786. Semula benteng ini didirikan sebagai markas pertahanan Inggris untuk menghadapi serangan tentara Perancis dan kawanan bajak laut yang mengganggu kekuasaan Inggris di Pulau Penang. Hingga sekarang, benteng yang terbuat dari batu bata ini masih bisa dinikmati oleh pengunjung. Di dalam benteng yang sekarang dimanfaatkan sebagai museum ini tersimpan sejumlah peralatan perang yang banyak dipakai tentara Inggris pada abad ke 18 -19. Selain bubuk mesiu, peninggalan yang tersisa di benteng ini adalah beberapa meriam perang.

City Hall

Tidak jauh dari Benteng Cornwallis terdapat Town Hall dan City Hall yang letaknya berdekatan. Keduanya terletak di Jalan Padang Kota Lama (Esplanade Road) di depan lapangan (alun-alun) Georgetown. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur menawan itu masih berdiri gagah, dengan wajah tak jauh berbeda dari zaman penjajahan dulu. Town Hall mulai dibangun pada tahun 1879 dan selesai tahun 1883. Bangunan dengan arsitektur bergaya Victoria ini terdiri dari : assembly hall, grand ballroom, dan perpustakaan (library). Sedangkan City Hall dibangun pada tahun 1903 sebagai Kantor Wali Kota Penang (Dewan Bandarraya Penang). Bangunan berlantai dua dengan arsitektur gaya neo klasik ini termasuk salah satu Monumen Nasional Malaysia sejak tahun 1992.

Town Hall

Perpaduan Berbagai Budaya
Karena letaknya yang strategis di Selat Malaka, Pulau Penang didatangi berbagai bangsa dengan agama yang berbeda-beda. Sebagai buktinya, saat ini di Penang terdapat berbagai etnis dengan etnis utama yang mendominasi adalah Melayu, Cina, dan India. Berbagai etnis tersebut hidup rukun berdampingan. Mereka mendirikan berbagai rumah ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Masjid, gereja, vihara, kuil atau klenteng tua dengan arsitektur yang indah, dengan mudah kita jumpai di Georgetown. Beberapa tempat ibadah tersebut, letaknya ada yang berdekatan atau berhadap-hadapan, yang menunjukkan bahwa toleransi antar umat beragama di Penang sangat baik.

Masjid Kapitan Keling

Karena penduduk asli Pulau Penang adalah Etnis Melayu yang beragama Islam, bangunan masjid dengan mudah kita jumpai di Penang. Di antara berbagai masjid yang ada di Georgetown, yang paling terkenal adalah Masjid Kapitan Keling. Masjid ini terletak di Jalan Masjid Kapitan Keling (Pitt Streeet), Georgetown. Nama masjid ini diambil dari nama seorang pedagang Islam dari India yang bernama “Kapitan Keling” Penghulu Caudeer Mohudeen, yang membangun masjid ini pada awal abad ke-19. Masjid ini dicat warna putih dan memiliki kubah warna hitam. Masjid ini juga memiliki sebuah menara berbentuk kubah berwarna hitam yang mencerminkan pengaruh Islam dari Gaya Moor.

Gereja Anglican St. George

Penjajah Inggris yang beragama kristiani juga tak lupa membangun gereja di Georgetown. Gereja peninggalan Inggris yang masih berdiri megah hingga saat ini adalah Gereja Anglican St. George. Gereja Anglican tertua di Asia Tenggara ini terletak di Jalan Farquhar (Lebuh Farquhar) No. 1, Georgetown. Gereja ini dibangun pada tahun 1816, pada saat Kolonel John Alexander Bannerman (Gubernur Penang) berkuasa. Arsitek gereja ini adalah Kapten Robert N. Smith, seorang insinyur dari Madras, India.

Kuil Sri Mahamariamman

Selain masjid dan gereja, di Georgetown juga terdapat berbagai kuil tua yang indah, baik Kuil Hindu maupun Budha. Kuil-kuil tersebut masih digunakan untuk beribadah sampai saat ini. Satu-satunya Kuil Hindu di Georgetown adalah Kuil Sri Mahamariamman. Kuil yang terletak di kawasan Little India (tepatnya di Queen Street) ini dibangun pada tahun 1883. Corak Kuil Hindu ini sangat mempesona dengan pahatan dewa-dewi di pintu masuk dan di bagian utama muka kuil. Di bagian dalam banyak hiasan Patung Lord Subramaniam yang dilapisi dan dihiasi emas, perak, intan, dan zamrud. Patung ini dimuliakan pada Festival Tahunan Thaipusam. Sayangnya, turis tidak diizinkan masuk ke dalam kuil. Selain yang beribadah, dilarang masuk ke dalam kuil. Jadinya, para turis hanya bisa mengintip bagian dalam kuil dari pintu masuk kuil.



Wat Chaiyamangalaram (Thai Buddhist Temple)
 Reclining Buddha di dalam Wat Chaiyamangalaram

Selain Kuil Hindu, di Georgetown juga terdapat Kuil Budha. Di Jalan Burma (Burma Street) terdapat dua Kuil Budha dari komunitas yang berbeda, yaitu Thailand dan Burma. Yang menarik, kedua kuil tersebut letaknya berhadap-hadapaan. Di Kuil Budha Thailand (Thai Buddhist Temple) yang bernama Wat Chaiyamangalaram terdapat Patung Budha berlapis emas yang berbaring miring (Reclining Buddha) sepanjang 33 meter. Kuil ini didirikan di atas lahan pemberian Ratu Victoria dari Inggris karena melihat banyaknya komunitas Thailand yang ada di Pulau Penang.

Gerbang Kuil Dharmikarama (Burmese Buddhirt Temple)

Di seberang Wat Chaiyamangalaram terdapat sebuah Kuil Budha Burma (Burmese Buddhist Temple) bernama Kuil Dharmikarama. Bangunan utama Kuil Dharmikarama atapnya berhiaskan ukiran cantik berwarna keemasan khas Burma. Di dalamnya terdapat sebuah Patung Budha berlapis emas yang berdiri tegak. Di belakangnya berjajar rapi patung-patung Budha dengan ukuran lebih kecil.

Patung Budha di Kuil Dharmikarama

Karena banyaknya komunitas Cina di Georgetown, di sana pun banyak terdapat Klenteng Cina. Di antaranya adalah Klenteng Kek Lok Si (Kek Lok Si Temple), Klenteng Kuan Ying Teng, dan Klenteng Khoo Kongsi. Klenteng yang paling terkenal adalah Klenteng Kek Lok Si. Klenteng ini merupakan klenteng terluas di Asia Tenggara. Keturunan Cina Hokkian di Penang membangun Klenteng Kek Lok Si sebagai tempat pemujaan mereka. Letaknya berada sedikit di luar kota, yaitu di Penang Hill (Bukit Bendera), di kawasan Air Itam. Waktu terbaik mengunjungi klenteng ini adalah pada saat Tahun Baru Cina. Selama 30 hari, klenteng ini dibuka sampai malam hari dengan ratusan lampu warna-warni yang dinyalakan untuk memeriahkan datangnya Tahun Baru Cina.

Pantai Batu Ferringhi

Pesona Keindahan Alam
Selain kaya bangunan bersejarah, Pulau Penang juga menawarkan panorama alam yang indah. Di antarnya adalah pantai. Kawasan pantai paling terkenal di Pulau Penang adalah Batu Ferringhi (Foreigner's Rock). Pantai ini terletak di daerah Tanjung Bungah, tidak jauh dari Georgetown (sekitar 30 menit berkendara). Pantai Batu Ferringhi cukup indah, bersih dan terawat. Sesuai dengan namanya Ferringhi (berasal dari Bahasa Portugis) yang berarti batu yang terasing, Anda dapat melihat berbagai batu granit besar di pantai ini. Pantai Batu Ferringhi berpasir putih dan ditumbuhi banyak pohon cemara di tepi pantainya. Pantai kebanggaan Warga Penang ini merupakan pusat olah raga air (water sport) di Pulau Penang. Anda bisa berenang, main kano, banana boat ataupun parasailing di Pantai Batu Ferringhi. Fasilitas untuk turis di Pantai Batu Ferringhi juga sangat lengkap. Di sepanjang pantai banyak terdapat hotel, restoran dan toko cindera mata. Tak heran kalau pantai ini selalu ramai dikunjungi turis dari berbagai negara.

Surga Wisata Kuliner
Kehadiran berbagai etnis dengan berbagai makanan khasnya, membuat Penang dikenal sebagai salah satu surga wisata kuliner di Malaysia. Berbagai makanan khas Melayu, India, atau Cina tersebar di berbagai sudut Kota Georgetown. Mulai dari restoran mewah hingga hawker center yang menyajikan makanan lezat nan menggoda mudah kita jumpai di Georgetown. Pilihan terserah Anda, mau makan di restoran mahal atau yang murah meriah di hawker center.

Hawker center adalah kawasan jajanan (food court) yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman, yang berada di tempat terbuka (biasanya di lapangan atau alun-alun). Kalau di Indonesia sering disebut Pujasera (Pusat Jajan Serba Ada). Di hawker center terdapat berbagai pilihan menu makanan dengan harga yang relatif murah, antara lain : Nasi Lemak, Nasi Kandar dan Nasi Briyani. Nasi Lemak adalah sejenis nasi uduk dengan lauk ikan bilis goreng, kacang tanah goreng, dan sambal belacan. Sedangkan Nasi Kandar adalah makanan khas India Selatan berupa nasi putih yang disajikan di atas selembar daun pisang, dengan pilihan lauk seperti gulai telur ikan, sayur kari, dan rendang. Lauk pauknya mirip Masakan Padang, tetapi bumbu rempah-rempahnya terasa lebih tajam. Yang tak kalah lezatnya adalah Nasi Briyani, makanan khas India juga. Nasi Briyani dibuat dari beras basmathi dengan bumbu rempah-rempah, seperti bunga cengkih, kulit kayu manis, dan daun pandan. Nasi Briyani biasanya disantap bersama Chicken Makhani, ditambah papadam (kerupuk khas India). Chicken Makhani terbuat dari daging ayam yang direndam dalam yoghurt ditambah rempah-rempah, lalu dimasak dengan mentega dan tomat. Lidah benar-benar diajak menari lewat sesuap Nasi Briyani ditambah satu gigitan Chicken Makhani. Paduan rasa pedas rempah-rempah dan gurihnya ayam sungguh lezat dan menggoda. Nggak salah kalau Penang dianggap sebagai surga wisata kuliner di Malaysia. (edyra)***

*Dimuat di Majalah VENUE Edisi Mei 2011.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MACAU MEMANG MEMUKAU

Berfoto di Barrier Gate (Pos perbatasan Macau dan Cina)

Waktu enam jam yang saya miliki untuk mengelilingi Macau benar-benar terasa sempit. Macau memang kecil, tapi kota ini memiliki banyak tempat menarik yang layak untuk dikunjungi. Dibandingkan dengan tetangganya, Hongkong, yang sangat ramai dan super sibuk, Macau terasa lebih nyaman. Denyut kehidupan di Macau terasa lebih santai. Apalagi saya datang ke Macau pada Bulan April, di mana Macau sedang memasuki musim semi, dengan suhu udara berkisar 20 - 23 derajat Celcius. Berkeliling Macau terasa sangat menyenangkan tanpa hujan, tanpa terbakar terik matahari.

Macau adalah Daerah Administrasi Khusus (Special Administrative Region) dari Republik Rakyat Cina yang terletak di Cina bagian selatan, tepatnya di sebelah barat delta Sungai Pearl (Pearl River). Macau termasuk dalam wilayah Provinsi Guangdong, dan mencakup area seluas 27,3 km2 yang meliputi : Peninsula Macau yang terhubung dengan Daratan Cina (9,3 km2), Pulau Taipa (6,7 km2), dan Pulau Coloane (7,6 km2). Ketiga wilayah (pulau) tersebut sudah dihubungkan dengan jembatan, yaitu : Nobre de Carvalho Bridge (panjangnya 2,4 km), Friendship Bridge (panjangnya 4,5 km), dan Sai Van Bridge (panjangnya 2,2 km). Jembatan terpanjang (Friendship Bridge) berujung langsung ke Bandara Internasional Macau yang berada di Pulau Taipa. Walau masih bagian dari Republik Rakyat Cina, Macau memiliki bendera dan mata uang sendiri (Pataca). Kalau untuk berkunjung ke Cina, Warga Negara Indonesia harus memiliki visa, untuk mengunjungi Macau WNI tidak perlu visa.

Karena keterbatasan waktu, saya memutuskan untuk menjelajahi kawasan pusat sejarah Macau (The Historic Centre of Macau), yang termasuk dalam World Heritage Site UNESCO. Di kawasan ini terdapat delapan alun-alun (square) dan 22 bangunan bersejarah, yang semuanya bergaya Portugis. Maklum, dulunya Macau adalah jajahan Portugis. Jadi jejak peninggalan Portugis baik berupa bangunan, makanan maupun bahasa, sangat mudah kita temukan di Macau. Sebagai bekas jajahan Portugis, Macau menggunakan Bahasa Portugis dan Bahasa Cina (Dialek Kanton) sebagai bahasa resminya. Semua nama jalan di Macau pun menggunakan Bahasa Portugis, yaitu Rua (Road), Avenida (Avenue), dan Estrada (Street). Bahasa Inggris hanya digunakan di tempat-tempat wisata dan fasilitas umum seperti pelabuhan dan bandara.

Senado Square (Largo do Senado)
Penjelajahan di Macau akan saya mulai dari Senado Square, alun-alun atau pusat kota Macau. Senado Square terletak di Avenida Almeida Ribeiro, yang sebenarnya tidak jauh dari hotel tempat saya menginap. Kalau berjalan kaki, mungkin hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Namun, berhubung saya ingin merasakan naik kendaraan umum di Macau, saya memilih naik bus untuk menuju ke sana. Berbekal uang koin Macau dan Peta Macau, saya naik Bus Transmac (maaf, saya lupa nomornya) dari halte di seberang hotel. Rute bus ini akan melewati jalan utama Macau (di antaranya Avenida Almeida Ribeiro) dan berakhir di terminal bus, dekat perbatasan Cina. Karena saya terpukau dengan berbagai gedung tua di sepanjang jalan dan bertanya kepada Warga Macau tidak ada yang bisa berbahasa Inggris, saya kebablasan sampai ke tempat pemberhentian terakhir (terminal). Terminal bus ini letaknya di bawah Barrier Gate (Pos Perbatasan Macau dan Cina). Bukannya langsung balik, saya mampir dulu ke Barrier Gate. Saya menyempatkan waktu untuk foto-foto di pos perbatasan Macau dan Zhuhai (Cina) tersebut.

Senado Square

Selesai foto-foto di Barrier Gate, saya kembali ke terminal untuk mencari bus ke Senado Square. Tak sampai 15 menit, saya pun sampai di Senado Square. Pagi itu suasana di Senado Square, yang merupakan salah satu tujuan wisata utama di Macau, sangat ramai. Meski mendung menggelayut di langit, para turis tetap memadati Senado Square yang penuh dengan bangunan bersejarah bergaya neo klasik khas Portugis. Mulai dari warna, corak dan arsitektur, semuanya bergaya Portugis.

Pada tahun 1993, bagian depan Senado Square di-paving dengan cobble stone yang bercorak hitam putih bergelombang, khas Mediterania. Di sekitar Senado Square terdapat jalan-jalan kecil bak labirin dengan bangunan kuno di kanan kiri jalan. Berbagai toko dan butik merek internasional juga ada di Senado Square. Mulai dari Mango, Nike, Casio, Quick Silver, Starbucks hingga Mc Donald.

Berbagai bangunan cantik di Senado Square dibangun pada abad ke-19 dan 20. Ada beberapa bangunan menarik di Senado Square, yang paling menonjo adalah Leal Senado Building, Holy House of Mercy, dan Macau Business Tourism Center.

Leal Senado Building

Leal Senado Building (Instituto para os Assuntos Civicos e Municipais)
Leal Senado Building letaknya di seberang Senado Square, di pinggir Avenida Almeida Ribeiro. Gedung tua nan indah ini ini dibangun pada tahun 1784. Dulunya, Leal Senado Building merupakan Kantor Walikota Macau. Sekarang, bangunan ini dimanfaatkan sebagai perpustakaan. Bangunan yang ada sekarang merupakan hasil perbaikan (rekonstruksi) pada tahun 1874. Ruang perpustakaan yang ada di lantai 1, dilengkapi dengan furnitur kuno (vintage) dan meniru perpustakaan di Portugis (Biblioteca do Convento de Mafra). Perpustakaan ini memiliki koleksi buku dan dokumen dari abad ke-17 sampai tahun 1950-an, terutama buku-buku tentang Penjelajahan Portugis di Asia dan Afrika.


Holy House of Mercy

Holy House of Mercy (Santa Casa da Misericordia)
Holy House of Mercy nama Portugisnya Santa Casa da Misericordia dibangun pada tahun 1569. Awalnya bangunan ini difungsikan sebagai rumah sakit, namun sekarang difungsikan sebagai museum. Bangunan utama gedung ini dibangun pada abad ke-18, tetapi bangunan dengan gaya neo klasik yang nampak sekarang merupakan hasil renovasi pada tahun 1905.

Gereja St. Dominic

St. Dominic’s Square (Largo de São Domingos)
Dari Senado Square, saya melanjutkan perjalanan ke St. Dominic’s Square. Di sekitar alun-alun ini terdapat berbagai toko yang menjual pakaian, kosmetik hingga makanan. Bangunan paling menonjol di St. Dominic’s Square adalah Gereja St. Dominic. Gereja yang sekarang dicat kuning ini dibangun pada tahun 1587 dan merupakan gereja pertama di Cina. Arsitektur gereja ini menggabungkan berbagai gaya, namun altarnya bergaya Barok.

Ruins of St. Paul's

Ruins of St. Paul’s (Ruinas de São Paulo)
Inilah ikonnya Macau, yang bisa Anda lihat di berbagai souvenir khas Macau seperti kaos, gantungan kunci, magnet kulkas, kartu pos hingga hiasan dinding. Rasanya belum afdol jika berkunjung ke Macau tanpa mampir ke reruntuhan Gereja St. Paul (Ruins of St. Paul’s), yang letaknya tidak jauh dari Senado Square dan St. Dominic’s Square. Ruins of St. Paul’s sebenarnya adalah fasad bagian depan dari Gereja St. Paul yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1580. Gereja ini sempat terbakar dua kali, yaitu pada tahun 1595 dan 1601. Pada tahun 1835, kebakaran hebat melanda Gereja St. Paul lagi dan hanya menyisakan fasad bagian depan beserta anak tangga di depannya. Sisa reruntuhannya saja masih indah dan mampu memukau pengunjungnya. Apalagi kalau Gereja St. Paul masih utuh ya? Saya yakin, pasti Gereja St. Paul jauh lebih indah.

Meriam di Mount Fortress

Mount Fortress dan Museum Macau
Puas berfoto di Ruins of St. Paul’s saya melanjutkan perjalanan menuju Mount Fortress yang letaknya di atas Ruins of St. Paul’s. Untuk mencapai benteng ini, saya harus melewati jalan yang menanjak dan meniti puluhan anak tangga. Mount Fortress dibangun oleh Portugis pada tahun 1617. Benteng berbentuk trapesium ini menempati area seluas 10.000 meter persegi. Awalnya bangunan ini digunakan sebagai altar selama 300 tahun, tapi kemudian diubah menjadi benteng oleh Portugis. Sebagai buktinya, masih tersisa beberapa meriam di benteng ini. Mount Fortress beberapa kali mengalami perubahan fungsi, mulai dari tempat kediaman Gubernur Macau, barak tentara, penjara sampai tempat pengamatan. Sekarang, benteng ini difungsikan sebagai museum dengan nama Museu de Macau (Museum Macau). Museum ini dibuka untuk umum dari pukul 10.00 – 18.00 (Senin tutup). Saya tidak terlalu berminat memasuki museum ini karena harus bayar. Saya lebih memilih naik ke atap museum untuk bisa menyaksikan pemandangan Kota Macau yang indah. Dari atap museum, saya bisa melihat pemandangan seluruh penjuru Macau, termasuk laut, jembatan, dan Hotel Grand Lisboa yang tampak menonjol.

Museum Macau

Seiring mendung yang semakin gelap, saya beranjak turun dari Museum Macau. Saya berjalan meniti anak tangga dan menyusuri jalan-jalan kecil melewati Ruins of St. Paul’s lagi. Di depan Ruins of St. Paul’s saya bertemu dengan beberapa turis dari Jakarta. Saya sempat ngobrol-ngobrol sejenak dengan mereka. Saya juga mampir ke sebuah toko kue dan snack (pasteleria) untuk mencicipi kelezatan Portugues Egg Tart yang sangat terkenal itu. Tak lupa saya membeli beberapa souvenir khas Macau berupa gantungan kunci dan kartu pos. Selanjutnya saya kembali ke hotel untuk mengambil barang dan check out.

Sebelum bertolak ke Terminal Ferry Macau (Terminal Marítimo) untuk selanjutnya menyeberang dengan ferry ke Hongkong, saya mampir dulu ke Hotel & Casino Grand Lisboa. Mumpung masih di Macau, saya ingin melihat aktivitas perjudian di kasino. Selain itu, saya juga mau naik shuttle bus gratis (lumayan menghemat ongkos transport) ke Terminal Ferry Macau. Ternyata penjagaan di pintu masuk hotel sekaligus kasino ini tidak ketat. Orang bisa keluar masuk dengan mudah seperti masuk ke mal. Namun, jangan harap Anda bisa berfoto atau mengambil gambar di dalam area kasino. Waktu saya nekat memotret aktivitas judi di kasino, seorang security perempuan menghampiri saya dan melihat foto-foto di kamera saya. Dia meminta saya menghapus foto-foto di kasino tersebut. Dengan berat hati, saya pun menghapus foto-foto tersebut.

Casino Lisboa di waktu malam

Setelah mendapat tiket shuttle bus, saya langsung menuju tempat parkir bus yang letaknya di basement hotel/kasino. Saya segera naik bus yang sudah tersedia dan tak sampai lima menit menunggu, bus pun jalan menuju Terminal Ferry Macau. Begitu tiba Terminal Ferry Macau, saya langsung membeli tiket ferry ke Hongkong dan antri di imigrasi. Sebentar lagi saya akan meninggalkan Macau dan menuju Hongkong.

Rasanya belum puas enam jam menjelajahi Macau. Masih ada beberapa tempat menarik yang belum sempat saya kunjungi di Macau, di antaranya Macau Tower dan Venetian Macau Hotel & Resort. Macau memang memukau. Nggak heran kalau kota kecil ini mampu menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia untuk mengunjunginya. Seiring ferry bergerak meninggalkan pelabuhan, dalam hati saya berjanji, suatu hari nanti saya akan kembali ke Macau. (edyra)***

*Dimuat di Majalah SEKAR No. 50, 9 Februari 2011.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

PESONA NGADA MEMANG TIDAK MENGADA-ADA


Mungkin Anda jarang atau bahkan belum pernah mendengar nama Kabupaten Ngada. Letaknya yang berada di tengah Pulau Flores dan akses yang cukup sulit, memang membuatnya seperti terasing dan tidak banyak dikenal orang. Padahal kabupaten yang beribukota di Bajawa ini, menyimpan beragam pesona wisata yang tak kalah menariknya dengan daerah lain di Indonesia. Gunung, pantai, taman laut, air terjun, sumber air panas, hingga desa tradisional dengan adat dan budayanya yang unik, semua ada di Kabupaten Ngada. Menariknya lagi, semua objek wisata di Kabupaten Ngada masih benar-benar alami dan belum tersentuh komersialisasi. Berikut pesona Kabupaten Ngada yang harus Anda kunjungi ketika berlibur ke Flores.

Kota Bajawa yang tenang dan indah

Bajawa
Petualangan di Kabupaten Ngada bisa Anda mulai dari Kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada. Bajawa terletak tepat di jantung Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Kota ini berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan air laut, sehingga udaranya pun sangat sejuk. Menurut penduduk setempat, nama Bajawa berasal dari kata “Ba” dan “Jawa.” Ba artinya mangkok, dan Jawa artinya Pulau Jawa. Maksudnya, Bajawa merupakan kota yang berada di dalam cekungan/mangkok dan penduduknya banyak yang berasal dari Pulau Jawa. Faktanya, kota cantik ini memang seperti berada di sebuah mangkok karena dikelilingi gunung dan perbukitan yang indah, dan konon katanya memang banyak pendatang dari Pulau Jawa yang datang ke kota ini. Karena keindahan kotanya, Bajawa sering dikunjungi banyak turis, baik turis domestik maupun turis asing. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 15 ribu orang, Bajawa menawarkan keramahtamahan dan fasilitas yang cukup memadai untuk tamu yang singgah. Kota yang memiliki julukan “Kota Bunga” ini sudah dilengkapi dengan fasilitas hotel, restoran, kafe, pasar tradisional dan art shop. Dari Bajawa, Anda bisa melanjutkan petualangan ke berbagai destinasi menarik lainnya di Kabupaten Ngada.

Kawah Wawo Muda
Kawah Wawo Muda terletak di Dusun Ngoranale, Kelurahan Susu, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Untuk mencapai kawah ini Anda harus berkendara sekitar 15 menit dan berjalan kaki mendaki gunung sekitar 30 menit. Pagi hari, adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Kawah Wawo Muda karena di pagi hari yang cerah, biasanya Puncak Gunung Wawo tak berkabut, sehingga Anda bisa menyaksikan keindahan Kawah Wawo Muda dengan air yang berwarna-warni. Karena memiliki tiga buah kawah kecil dengan warna yang berbeda-beda, Kawah Wawo Muda sering disebut sebagai “Mini Kelimutu.” Saat saya berkunjung ke sana, tiga kawah Wawo Muda memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat.

Kawah Wawo Muda yang airnya berwarna-warni

Kawah Wawo Muda memiliki cerita menarik. Kawah ini berada di Gunung Wawo Muda yang letaknya tidak begitu jauh dari Kota Bajawa. Sebelum meletus, Gunung Wawo Muda hanyalah gunung berapi biasa, dan tidak memiliki kawah. Gunung ini juga tidak begitu tinggi (tingginya hanya 1.559 meter di atas permukaan laut), sehingga tampak seperti bukit. Gunung Wawo Muda mulai menyita perhatian masyarakat dan terkenal sampai ke mancanegara sejak meletus pada tahun 2001. Saat itu, malam hari tanggal 11 Januari 2001, salah satu lereng Gunung Wawo Muda meletus, dan mengagetkan Warga Kota Bajawa dan sekitarnya. Letusan tadi disertai dengan gempa yang melenyapkan sebagian lereng gunung, yang dulunya merupakan area perkebunan kopi. Akibat letusan tersebut, terbentuklah beberapa kawah dengan air kawah yang berwarna-warni. Dari keterangan petugas hotel tempat saya menginap, setelah meletus terbentuk lima kawah dengan berbagai ukuran di lereng Gunung Wawo Muda. Kawah-kawah tersebut berisi air yang awalnya berwarna merah marun. Namun, ada yang unik dengan air kawah tersebut. Warna air kawah di Gunung Wawo Muda kerap berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Saat ini, kawah di Gunung Wawo Muda tinggal tersisa tiga buah. Tiga kawah tersebut memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat. Menurut para ahli, perubahan warna air kawah tersebut adalah akibat perubahan kandungan mineral dalam air kawah dan bebatuan di sekitarnya.

Air Terjun Ogi
Mungkin inilah satu-satunya air terjun di Indonesia, yang letaknya sangat dekat dengan kota. Air Terjun Ogi terletak di Desa Faobata, Kecamatan Bajawa. Jaraknya hanya sekitar 7 Km dari pusat Kota Bajawa. Karena berada di dekat kota, akses jalan menuju Air Terjun Ogi sangat mudah dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Sayangnya, tidak ada rambu-rambu atau penunjuk arah ke air terjun ini. Jadi Anda harus bertanya kepada penduduk setempat untuk mencapai air terjun ini. Dari pusat Kota Bajawa, arahkan kendaraan Anda menuju Desa Faobata. Dalam perjalanan Anda akan melewati sebuah SPBU, yang merupakan satu-satunya SPBU di Kota Bajawa. Dari SPBU tersebut Anda lurus saja, sampai tiba di depan rumah penduduk dengan sawah di seberang jalannya. Beloklah ke kanan, mengikuti jalan setapak di samping sawah tersebut (kira-kira sejauh 500 meter) dan sampailah Anda di Air Terjun Ogi.

Air Terjun Ogi

Air Terjun Ogi memiliki ketinggian sekitar 30 meter dengan debit air yang cukup besar. Anda tidak perlu membayar tiket masuk untuk mengunjungi air terjun ini. Air Terjun Ogi dikelilingi pepohonan yang hijau dan asri. Udaranya juga sejuk dan bebas polusi, sehingga membuat betah pengunjung untuk berlama-lama di sana. Di dekat air terjun terdapat sebuah bangunan yang digunakan oleh PLN untuk menjadi pembangkit listrik. Namun, saya kurang tahu, apakah saat ini masih digunakan atau tidak. Di samping kiri Air Terjun Ogi terdapat sebuah anak tangga dari besi yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk menuju puncak air terjun. Ikuti saja jalan tersebut tanpa belok kanan atau kiri sejauh 6,5 km,

Kampung Bena
Pernah membaca Komik Asterix dan Obelix, di mana terdapat Desa Galia yang rumah-rumahnya berbentuk seragam? Kabupaten Ngada memiliki sebuah desa megalitikum yang mirip Desa Galia di Komik Asterix dan Obelix. Namanya Kampung Bena. Kampung tradisional yang unik ini terletak di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Kampung yang berada di kaki Gunung Inerie ini, jaraknya sekitar 19 km dari pusat Kota Bajawa atau setengah jam berkendara. Letak Kampung Bena yang di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat penganut aliran dinamisme yang percaya bahwa gunung adalah tempat bersemayamnya para dewa. Penduduk Kampung Bena meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di Gunung Inerie yang melindungi kampung mereka. Keistimewaan Kampung Bena adalah kehidupan dan budaya masyarakatnya yang masih tradisional. Walau zaman sudah modern, penduduk Bena masih memegang teguh adat dan budaya para leluhurnya.

Kampung Bena bentuknya memanjang, dari utara ke selatan dengan kontur tanah yang miring. Pintu masuk kampung hanya dari sebelah utara, di pinggir jalan. Sementara ujung lainnya di bagian selatan merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal. Rumah-rumah di Kampung Bena membentuk dua baris dan letaknya berhadap-hadapan. Saat ini, jumlah rumah di Kampung Bena sekitar 45 unit rumah, yang dihuni oleh sembilan suku, yaitu : Suku Bena, Suku Dizi, Suku Dizi Azi, Suku Wahto, Suku Deru Lalulewa, Suku Deru Solamae, Suku Ngada, Suku Khopa, dan Suku Ago. Untuk membedakan antara satu suku dengan suku lainnya, dipisahkan berdasarkan sembilan tingkat ketinggian tanah dan kubur batu yang menjadi batas tiap-tiap suku.Suku Bena merupakan suku tertua dan pendiri Kampung Bena, sehingga namanya digunakan sebagai nama kampung.

Kampung Megalitikum Bena
Rumah-rumah di Kampung Bena bentuknya seragam dengan dinding yang terbuat dari kayu dan bambu, serta atap yang tinggi terbuat dari ijuk. Rumah keluarga inti pria disebut Sakalobo. Ini ditandai dengan patung pria memegang parang dan busur panah di atas rumah. Sementara rumah keluarga inti wanita disebut Sakapu’u. Di beberapa rumah terdapat tanduk kerbau dan rahang babi yang diapajang di depan rumah. Tanduk kerbau yang dipajang menandakan bahwa keluarga di rumah tersebut pernah berbuat suatu kebaikan untuk orang miskin, sedangkan rahang babi menunjukkan jumlah babi yang pernah dipotong untuk Upacara Kasao (upacara membuat rumah adat).

Di tengah-tengah Kampung Bena ada lapangan terbuka di mana terdapat batu-batu megalitikum yang merupakan makam para leluhur dan beberapa bangunan yang disebut Ngadhu dan Bhaga. Ngadhu merupakan simbol dari laki-laki, berbentuk seperti payung setinggi tiga meter yang ditopang oleh tiang kayu berukir. Tiang Ngadhu terbuat dari jenis kayu khusus yang sangat keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat. Arti dari simbol tersebut adalah meskipun laki-laki masuk dalam keluarga perempuan, dia tetap menjadi penguasa tunggal di dalam keluarganya dan menjadi seseorang yang mengayomi dan melindungi keluarga. Sedangkan Bhaga merupakan simbol dari perempuan, berupa miniatur rumah adat yang artinya perempuan dipersiapkan untuk menerima laki-laki ke dalam rumah yang akan mereka tempati bersama. Di atap rumah terdapat senjata yang berguna untuk melindungi penghuni rumah dari gangguan roh-roh jahat.

Penduduk Kampung Bena yang berprofesi sebagai petani, selalu menggelar pesta adat yang disebut Reba setiap tahun. Reba diselenggarakan pada bulan Desember atau Januari setiap tahunnya. Reba merupakan suatu pesta adat untuk melakukan syukuran atas apa yang telah diperoleh selama setahun dan memohon keberhasilan di tahun yang akan datang. Prosesi ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan dan sekaligus sebagai ritual untuk menghormati nenek moyang. Pada saat Prosesi Reba, semua anggota keluarga berkumpul dalam sebuah rumah adat dan harus memakai pakaian adat Bena.

Untuk berkunjung ke Kampung Bena, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Pengunjung hanya diminta mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pemeliharaan kampung agar senantiasa terjaga keaslian tradisinya.

Gunung Inerie

Gunung Inerie
Kabupaten Ngada merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang memiliki banyak gunung. Di antara gunung-gunung tersebut yang tertinggi adalah Gunung Inerie. Gunung yang bentuknya seperti kerucut ini memiliki ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut. Bagi yang suka mendaki gunung, Anda pasti tertantang untuk mendaki gunung ini. Titik awal pendakian Gunung Inerie berada di Desa Watumeze (sekitar 30 menit berkendara dari Bajawa). Pendakian dari Desa Watumeze ke puncak Gunung Inerie memakan waktu sekitar tiga jam. Dari puncak Gunung Inerie Anda bisa menyaksikan panorama spektakuler Kota Bajawa, Laut Sawu, dan hutan yang ada di wilayah Kabupaten Ngada.

Air Panas Mengeruda
Setelah seharian berkeliling Kabupaten Ngada, akhirilah hari Anda dengan berendam air hangat di Pemandian Air Panas Mengeruda. Pemandian air panas ini terletak di Desa Mengeruda, Kecamatan Soa. Jaraknya sekitar 25 km dari Kota Bajawa atau sekitar empat puluh menit berkendara. Untuk mengunjungi Air Panas Mengeruda, sebaiknya Anda menyewa kendaraan atau naik ojek dari Bajawa karena tidak ada kendaraan umum yang menuju atau melewati air panas ini.

Air Panas Mengeruda
Pada awalnya, Pemandian Air Panas Mengeruda adalah pemandian alam bagi para petani di sekitarnya yang lelah bekerja seharian di ladang. Sebelum pulang ke rumah, mereka berendam dulu di Air Panas Mengeruda agar badan segar kembali. Saat ini, Air Panas Mengeruda sudah dikelola dengan baik dan dibuka untuk wisatawan. Pemerintah Kabupaten Ngada telah membangun tembok yang memagari Kompleks Air Panas Mengeruda. Sumber air panas yang berada di sebuah kolam juga dipagari tembok. Di Kompleks Air Panas Mengeruda telah dibangun berbagai fasilitas untuk turis, antara lain : kolam renang, restoran, toilet, dan ruang ganti. Sayangnya, pada saat saya ke sana, toilet dan ruang gantinya dalam kondisi yang kurang terawat. Restorannya juga sudah lama tutup.

Untuk masuk ke Pemandian Air Panas Mengeruda, turis lokal dikenakan biaya sebesar Rp 2.500,00 per orang, sedangkan turis asing dikenakan biaya Rp 5.000,00 per orang. Anda bisa memilih mandi di air panas yang ada di pinggir sungai atau berendam dan berenang di kolam renang. Keduanya berair hangat karena airnya berasal dari mata air yang sama. Berendam di air hangat dengan suhu sekitar 40 derajat Celcius tentunya sangat menyenangkan. Selain menghilangkan pegal-pegal, Air Panas Mengeruda dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena mengandung belerang.

Getting There
Untuk mengunjungi Kabupaten Ngada yang ada di Pulau Flores, Anda harus terbang dulu menuju Denpasar atau Kupang. Dari Kupang, lanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Bajawa atau Ende (kota terdekat dengan Bajawa). Kalau dari Denpasar, Anda hanya bisa terbang ke Ende. Dari Ende, Anda harus melanjutkan perjalanan darat sekitar tiga jam menuju Bajawa. Dari Bajawa, Anda bisa menuju berbagai tempat wisata di Kabupaten Ngada dengan menyewa kendaraan atau naik ojek. Sebenarnya Anda bisa naik kendaraan umum tapi saya tidak menganjurkan karena kendraan umum di Bajawa belum menjangkau semua tempat wisata yang ada di wilayah Kabupaten Ngada dan waktu beroperasi kendaraan umum pun sangat terbatas.

Maskapai yang melayani penerbangan dari Denpasar atau Kupang menuju Bajawa dan Ende adalah Lion Air (www.lionair.co.id), Merpati Air (www.merpati.co.id), dan Trans Nusa (www.transnusa.co.id). Sebaiknya Anda menanyakan langsung ke maskapai tersebut atau mengecek jadwal penerbangan di internet karena penerbangan menuju kedua kota tersebut tidak tersedia setiap hari. (edyra)***

*Dimuat di Majalah CHIC No.119, 11 Juli 2012.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

KEAJAIBAN WARNA-WARNI ALAM FLORES

Berfoto di Kawah Wawo Muda, dengan kawahnya yang berwarna-warni unik

Kalau ada yang bertanya, di mana tempat liburan alternatif di Indonesia selain Bali dan Lombok? Jawaban saya adalah Flores. Mengapa Flores? Flores adalah pulau dengan segala keunikan dan keindahan di setiap jengkal tanahnya. Sesuai dengan namanya yang berarti bunga, Flores memang sangat cantik seperti bunga. Dari barat ke timur, pulau yang panjangnya sekitar 400 km ini benar-benar cantik menawan. Pulau ini “kaya warna” dalam arti sesungguhnya, baik warna alam, penduduk maupun budayanya. Mungkin tidak ada pulau atau tempat lain di dunia ini yang memiliki warna-warni alam selengkap Flores. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, coklat hingga merah muda (pink) semua bisa Anda lihat di Flores. Danau, pantai, sawah, hingga kawah gunung di Flores semuanya memiliki warna yang unik, yang sulit atau bahkan tidak mungkin Anda jumpai di belahan bumi mana pun.

Keajaiban warna alam Flores bisa Anda saksikan dari ujung barat pulau di Labuan Bajo, sampai ujung timur pulau di Larantuka. Berikut lima keajaiban warna alam Flores yang harus Anda lihat ketika Anda berkunjung ke Flores. Tak masalah Anda memulai kunjungan dari arah barat (Labuan Bajo) maupun dari arah timur (Maumere/Ende). Semuanya menawarkan pesona yang sangat menarik. Sebagai Warga Negara Indonesia, sudah sepantasnya Anda mendahulukan mengunjungi Flores daripada jalan-jalan jauh keluar negeri. Rugi rasanya kalau Anda tidak melihat dengan mata kepala sendiri warna-warni alam Flores, minimal sekali seumur hidup.

Pantai Merah (Pink Beach)
Bila Anda memulai kunjungan di Flores dari arah barat (Labuan Bajo), keajaiban warna alam Flores pertama yang harus Anda lihat adalah Pantai Merah (Pink Beach). Pantai Merah yang di kalangan turis asing disebut Pink Beach letaknya bukan di daratan Pulau Flores, tetapi di Pulau Komodo. Untuk mencapai Pantai Merah, Anda harus menyewa perahu atau speedboat dari Labuan Bajo, dengan lama perjalanan sekitar satu sampai dua jam.

Pink Beach yang indah dengan pasirnya yang berwarna pink

Sesuai dengan namanya, hamparan pasir di Pantai Merah berwarna merah muda (pink). Konon pantai berpasir pink hanya ada tujuh di dunia, salah satunya di Pulau Komodo. Makanya, sebagai Warga Negara Indonesia, kita patut berbangga hati memiliki pantai berpasir pink. Pasir pink ini terbentuk dari pecahan karang berwarna merah. Sebenarnya, hewan laut sejenis amuba bernama Foraminifera yang memproduksi warna merah pada karang tersebut. Dari kejauhan, pasir Pantai Merah terlihat berwarna putih seperti pantai berpasir putih biasa. Namun, semakin Anda mendekat, pasir pantai akan terlihat berwarna pink. Bila Anda mengambil segenggam pasirnya, akan terlihat butir-butir pasir berwarna merah di antara butiran pasir putih. Bila ombak menyapu pasir dan menariknya, maka warna pasir tersebut berubah menjadi pink cerah. Benar-benar indah! Butiran pasirnya sangat halus dan lembut, sehingga sangat nyaman untuk berjemur atau berjalan di atasnya.

Salah satu sudut Pink Beach yang eksotis

Selain keindahan pasirnya, kecantikan panorama Pantai Merah juga tak terbantahkan. Pantai ini dikelilingi bukit-bukit kecil dan pulau-pulau mungil di sekitarnya. Air lautnya sangat jernih berwarna hijau toska. Dari sudut mana pun Anda memotret Pantai Merah, Anda pasti akan mendapatkan foto yang menawan. Selain berfoto, aktivitas yang bisa Anda lakukan di Pantai Merah adalah berenang, berjemur, atau bermalas-malasan di pinggir pantai sambil membaca buku. Bagi Anda penggemar diving (menyelam) dan snorkeling, Pantai Merah adalah surganya. Keindahan bawah laut Pantai Merah sudah terkenal kemana-mana. Terumbu karang di Pantai Merah sangat banyak jenisnya dan semua dalam kondisi sehat. Mulai dari karang keras (hard corals) sampai karang lunak (soft corals), semua ada di Pantai Merah. Warnanya pun bermacam-macam. Mulai dari merah, kuning, hijau, biru, ungu, coklat hingga pink semua ada di sana. Aneka biota laut cantik dan unik seperti ikan badut (clown fish), butterfly fish, parrot fish, dan bintang laut (star fish) bisa Anda jumpai dengan mudah di Pantai Merah. Singkatnya, Pantai Merah adalah salah satu surga tersembunyi (hidden paradise) yang dimiliki Indonesia.

Bila Anda ingin menyelam (diving) ataupun snorkeling di Pantai Merah, Anda harus membawa peralatan sendiri karena di sana tidak ada tempat penyewaan peralatan diving dan snorkeling. Bila Anda malas membawa peralatan diving/snorkeling dari rumah, Anda tak perlu khawatir. Anda bisa menyewa peralatan tersebut di berbagai dive operator yang banyak terdapat di Labuan Bajo. Namun, satu hal yang perlu Anda ingat. Anda harus membawa perbekalan makanan dan minuman yang cukup karena di Pantai Merah tidak ada satu pun restoran ataupun warung.

Sawah Laba-Laba atau Sawah Lodok (Spider-Web Ricefield)
Sawah terasering atau sawah datar yang menghampar luas sudah sering kita lihat di berbagai penjuru Indonesia. Namun, bagaimana dengan sawah yang berbentuk lingkaran dengan petak-petak sawah yang seperti jaring laba-laba? Pernahkah Anda melihatnya? Jika belum, datanglah ke Desa Cara, Kecamatan Cancar, Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di desa yang letaknya sekitar 17 km sebelah barat Kota Ruteng ini, terdapat sawah yang bentuknya sangat unik dan hanya ada satu-satunya di dunia, yaitu Sawah Laba-laba. Penduduk setempat menyebutnya Sawah Lodok, wisatawan asing menyebutnya Spider-Web Ricefield. Konon, bentuk unik dan artistik persawahan itu mencerminkan betapa kuatnya hubungan kekerabatan Masyarakat Cancar.

Sawah Lodok yang bentuknya seperti jaring laba-laba

Lodok adalah sistem pembagian tanah atau sawah adat di Desa Cara, Kecamatan Cancar, Kabupaten Manggarai. Tanah/sawah adat di Desa Cara disebut Lingko. Cara pembagian sawah/lingko yang unik menjadikan sawah tersebut berbentuk seperti jaring laba-laba. Proses pembagian sawah adat (lingko) dimulai dari pusat sawah. Di pusat sawah ditanam sebatang kayu yang disebut Teno. Dinamakan Teno karena sepotong tiang itu diambil dari sejenis pohon yang dinamakan Haju Teno (Pohon Teno). Teno merupakan titik pusat lingkaran tanah lingko. Dari Teno ditarik garis-garis pembatas sawah (yang disebut Langang), sampai ke batas terluar tanah lingko (yang disebut Cicing). Untuk menentukan ukuran (luas) tanah di Sawah Lodok, Masyarakat Manggarai membaginya berdasarkan Moso (satuan jari tangan) sebagai dasar pembagian awal. Besaran moso pun sangat relatif, tergantung pada berapa jumlah warga yang akan menerima pembagian lingko tersebut. Semakin banyak yang akan menerima, semakin kecil ukuran moso, demikian pula sebaliknya, semakin sedikit jumlah penerima, semakin besar ukuran moso. Selain itu, besarnya moso juga bergantung pada kedudukan seseorang di desanya. Ada istilah moso biasa (satu jari), moso kina (satu setengah jari), dan moso wase (tiga jari). Warga yang dianggap sebagai pemimpin (tua beo/golo) atau tuan tanah (tua teno) biasanya mendapat moso wase (tiga jari), yang merupakan ukuran paling besar. Sedangkan warga lainnya akan menerima moso biasa (satu jari) atau moso kina (satu setengah jari).

Sawah Lodok ini letaknya di pinggir Jalan Raya Lintas Flores. Namun, dari pinggir jalan Anda tidak akan melihat keunikan sawah ini karena sawah ini nampak seperti sawah kebanyakan yang menghampar luas. Untuk bisa melihat keunikan Sawah Lodok, Anda harus membelokkan kendaraan Anda menuju Desa Cara dan mendaki sebuah bukit kecil, di dekat menara BTS provider telepon seluler. Dari puncak bukit tersebut, Anda baru bisa menyaksikan panorama menakjubkan Sawah Lodok, yang bentuknya seperti jaring laba-laba. Pada saat musim tanam, jaring laba-laba tersebut berwarna hijau menyejukkan mata. Sedangkan pada saat menjelang panen, jaring laba-laba tersebut berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Inilah salah satu keunikan alam Flores yang tidak akan Anda temui di tempat lain.

Kawah Wawo Muda
Danau kawah berwarna hijau, mungkin sudah biasa dan banyak ditemui di tempat lain. Lalu, bagaimana kalau danau kawah berwarna merah marun, kuning atau coklat? Danau kawah tersebut hanya ada di Flores, yaitu Kawah Wawo Muda. Kawah berwarna-warni cantik tersebut terletak di Dusun Ngoranale, Kelurahan Susu, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Kawah Wawo Muda, sering disebut sebagai “Mini Kelimutu” karena ukuran kawahnya yang lebih kecil dari Danau Kawah Kelimutu, dan memiliki tiga buah kawah dengan warna yang berbeda-beda. Saat saya berkunjung ke sana, tiga kawah Wawo Muda memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat.

Dua Kawah Wawo Muda yang berwarna merah kecoklatan dan coklat

Kawah Wawo Muda memiliki cerita menarik. Kawah ini berada di Gunung Wawo Muda yang letaknya tidak begitu jauh dari Kota Bajawa. Sebelum meletus, Gunung Wawo Muda hanyalah gunung berapi biasa, dan tidak memiliki kawah. Gunung ini juga tidak begitu tinggi (tingginya hanya 1.559 meter di atas permukaan laut), sehingga tampak seperti bukit. Gunung Wawo Muda mulai menyita perhatian masyarakat dan terkenal sampai ke mancanegara sejak meletus pada tahun 2001. Saat itu, malam hari tanggal 11 Januari 2001, salah satu lereng Gunung Wawo Muda meletus, dan mengagetkan Warga Kota Bajawa dan sekitarnya. Letusan tadi disertai dengan gempa yang melenyapkan lereng gunung, yang dulunya merupakan area perkebunan kopi. Akibat ledakan tersebut, terbentuklah beberapa kawah dengan air kawah yang berwarna-warni. Dari keterangan petugas hotel tempat saya menginap, setelah meletus terbentuk lima kawah dengan warna merah marun di lereng Gunung Wawo Muda. Salah satu kawah berukuran besar dan kawah-kawah lainnya berukuran lebih kecil. Warna air kawah tersebut kerap berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Saat ini, kawah di Gunung Wawo Muda tinggal tersisa tiga buah. Tiga kawah tersebut memiliki warna yang berbeda-beda, yaitu merah kecoklatan, kuning, dan coklat. Menurut para ahli, perubahan warna air kawah tersebut adalah akibat perubahan kandungan mineral dalam air kawah dan bebatuan di sekitarnya.

Pantai Batu Hijau (Green Stone Beach)
Dari Kawah Wawo Muda di Bajawa, lanjutkan perjalanan Anda ke arah timur menuju Pantai Batu Hijau, yang berada di wilayah Kabupaten Ende. Kalau di tempat lain ada pantai berpasir hitam, pantai berpasir putih, pantai berbatu atau pantai berlumpur, mungkin hanya di Flores kita dapat menemukan pantai berbatu hijau. Wisatawan biasanya menyebut pantai ini sebagai Pantai Batu Biru (Blue Stone Beach), tapi penduduk setempat menyebutnya sebagai Pantai Batu Hijau. Sebenarnya ada berbagai warna batu di pantai ini, mulai dari putih, coklat, krem, hijau, biru hingga ungu. Namun, yang paling banyak adalah batu berwarna hijau. Karena itulah pantai yang berada di Desa Penggajawa, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur ini dinamakan Pantai Batu Hijau.

Hamparan batu hijau di Pantai Batu Hijau

Ketika melakukan perjalanan dari Ende menuju Bajawa (atau sebaliknya), Anda akan bertemu Pantai Batu Hijau ini. Begitu memasuki Desa Penggajawa (sekitar 23 km dari pusat Kota Ende), Anda akan mulai melihat tumpukan batu berwarna-warni (dengan warna dominan hijau), di pinggir jalan. Semakin ke barat, tumpukan batu terlihat semakin banyak. Di beberapa tempat, batu-batu tersebut sudah dimasukkan ke dalam karung-karung kecil berwarna putih. Selanjutnya, Anda akan bertemu dengan pantai berpasir hitam dengan hamparan batu berwarna dominan hijau di sebelah kiri Anda (bila Anda datang dari arah Ende). Air lautnya berwarna hijau menawan. Itulah Pantai Batu Hijau. Satu-satunya pantai yang memiliki batuan berwarna hijau di Indonesia bahkan di dunia.

Kalau di pekarangan rumah Anda terdapat batu-batu kecil berwarna hijau atau biru, bisa jadi batu-batu tersebut berasal dari Pantai Batu Hijau. Setiap harinya, penduduk sekitar pantai yang kebanyakan kaum perempuan, bekerja mengumpulkan batu-batu hijau di pantai. Untuk mendapatkan batu-batu yang berkualitas, para penambang batu harus bersusah-payah, menggali pasir sampai kedalaman satu meter. Setelah terkumpul banyak, batu-batu tersebut dimasukkan ke dalam karung-karung kecil dan diletakkan di pinggir jalan, untuk selanjutnya dijual ke penadah. Dari tangan penadah, batu-batu tersebut disebarluaskan ke berbagai kota di Indonesia. Menurut seorang ibu yang sempat saya jumpai di Pantai Batu Hijau, batu-batu cantik tersebut hanya dihargai Rp 8.000,00 per karung kecil. Padahal satu karung kecil batu, beratnya lebih dari 10 kg kilogram. Harga yang sangat murah untuk batu-batu yang sangat cantik. Padahal, kalau sudah masuk toko bahan bangunan, harga batu-batu tersebut akan membengkak puluhan kali lipat. Satu lagi, bukti keajaiaban warna alam Flores.

Danau Kelimutu
Dari Pantai Batu HIjau lanjutkan perjalanan ke arah timur lagi untuk menyaksikan keajaiban warna alam Flores yang lain, yaitu Danau Kelimutu. Danau kawah yang berada di puncak Gunung Kelimutu ini sangat tersohor ke mana-mana karena keunikan warna danau kawahnya, yang terdiri dari tiga danau kawah dengan warna yang berbeda-beda dan selalu berubah-ubah seiring perjalanan waktu. Danau Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Desa terdekat dengan Danau Kelimutu adalah Dusun Moni (Desa Koanara). Dari Ende ke Moni jaraknya sekitar 60 km atau sekitar 90 menit berkendara sedangkan dari Maumere jaraknya sekitar 80 km atau sekitar tiga jam berkendara.

Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Danau Kelimutu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Keindahan Danau Kelimutu semakin dikenal masyarakat dunia setelah Y. Bouman, seorang turis dari Eropa, menulis artikel tentang Danau Kelimutu pada tahun 1929. Sejak saat itu, mulai banyak turis asing dan peneliti yang berdatangan ke Danau Kelimutu.

Tiwu Ata Polo (depan/kanan) dan tampak sedikit Tiwu Nua Muri Koo Fai (kiri)

Danau Kelimutu berada di puncak Gunung Berapi Kelimutu yang memiliki ketinggian 1.690 meter di atas permukaan laut. Luas ketiga Danau Kelimutu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter. Dulunya dinding pemisah tersebut cukup lebar dan bisa dilewati orang. Sekarang, dinding pemisah tersebut sangat tipis/sempit dan tidak bisa dilewati orang. Dengan posisi berdekatan, tidak menutup kemungkinan kedua danau ini akan menyatu bila terjadi gempa bumi dengan skala besar.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warni Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Mereka percaya bahwa perubahan warna pada ketiga Danau Kelimutu merupakan isyarat atau pertanda akan terjadinya suatu peristiwa/bencana alam di negeri ini, seperti : gunung meletus, tanah longsor, kekeringan atau bencana alam lainnya. Mereka sudah hafal arti warna yang ditunjukkan oleh Danau Kelimutu. Misalnya : bila air Danau Tiwu Ata Polo berwana hijau lumut berarti akan ada warga sekitar yang meninggal dunia.

Tiwu Nua Muri Koo Fai

Meski banyak ahli yang sudah melakukan penelitian, sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebab perubahan warna Danau Kelimutu. Sejumlah kalangan menduga, perubahan warna air di Danau Kelimutu disebabkan oleh tekanan gas aktivitas vulkanik, pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, kandungan zat kimia terlarut (garam, besi, sulfat dan mineral lain), serta pantulan warna dinding dan dasar danau. Selain itu, aktivitas kegempaan juga dapat mengubah warna kawah danau.

Tiwu Ata Mbupu

Saat ini ketiga Danau Kelimutu meiliki warna yang berbeda, yaitu : Tiwu Ata Polo berwarna hijau tua, Tiwu Nua Muri Koo Fai (yang paling besar) berwarna hijau toska, dan Tiwu Ata Mbupu (yang paling kecil dan letaknya terpisah jauh) berwarna hitam kelam. Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Mbupu warnanya relatif stabil yaitu hijau toska dan hitam kelam. Sedangkan Tiwu Ata Polo paling cepat berubah. Menurut informasi penduduk setempat, selama tahun 2010 ini sudah terjadi tiga kali perubahan warna di Danau Tiwu Ata Polo, dari coklat tua, hijau lumut, dan hijau tua. Pada tahun 2006, saat saya pertama kali berkunjung ke Danau Kelimutu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna coklat tua. Tiwu Ata Polo merupakan tempat berkumpulnya arwah orang jahat (tukang tenung), Tiwu Nua Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya arwah muda-mudi, dan Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya arwah orang tua.

Getting There
Untuk mengunjungi Flores, Anda harus terbang menuju Denpasar atau Kupang. Dari Denpasar/Kupang, lanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Labuan Bajo (bila Anda ingin memulai perjalanan dari arah barat) Ende atau Maumere (bila Anda ingin memulai perjalanan dari arah timur). Maskapai yang melayani penerbangan ke dua kota tersebut, adalah Lion Air (www.lionair.co.id), Merpati Air (www.merpati.co.id), dan Trans Nusa (www.transnusa.co.id). Untuk mencapai Pantai Merah yang berada di Pulau Komodo, Anda harus menyewa perahu atau speedboat dari Labuan Bajo, dengan lama perjalanan sekitar satu sampai dua jam. Sedangkan untuk mencapai tempat-tempat lainnya, dari Labuan Bajo, Ende atau Maumere, Anda tinggal melanjutkan perjalanan darat baik dengan kendaraan umum maupun menyewa mobil. Sebaiknya Anda menyewa mobil karena kendaraan umum di Flores belum menjangkau semua tempat wisata di sana dan waktu beroperasi kendaraan umum pun sangat terbatas. (edyra)***

*Dimuat di Majalah CITA CINTA No. 9, 27 April 2011
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

MENGEJAR MATAHARI TERBIT DI KELIMUTU

Foto dulu di dekat Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur. Suasana sepi mencekam, udara dingin menusuk tulang. Kamis, 18 November 2010, pukul 04.15 pagi, dengan mata yang masih sedikit mengantuk, saya dan Ahmad keluar dari hotel di Kampung Moni, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Dengan berbekal jaket tebal, sarung tangan, dan syal, kami mengendarai sepeda motor, menembus dinginnya udara Moni, menuju Danau Kelimutu. Hanya suara binatang malam dan temaram sinar bulan yang menemani perjalanan kami pagi itu. Keinginan melihat indahnya matahari terbit di Puncak Gunung Kelimutu dan menyaksikan keajaiban warna-warni Danau Kelimutu, mengalahkan rasa kantuk dan malas kami.

Jarak dari Moni ke Puncak Gunung Kelimutu sekitar 13 km atau sekitar 30 menit berkendara. Kami harus melewati jalan yang menanjak dan berkelok-kelok seperti ular untuk mencapai tempat parkir Danau Kelimutu. Beberapa kilometer sebelum sampai di tempat parkir, kami harus berhenti sejenak di Gerbang Taman Nasional Kelimutu untuk membeli tiket masuk sebesar Rp 2.500,00 per orang dan Rp 3.000,00 untuk sepeda motor.

Dari Gerbang Taman Nasional Kelimutu, tempat parkir sudah dekat. Selanjutnya, kami harus jalan kaki dari tempat parkir (sekitar 15 menit), menyusuri jalur trekking dan mendaki ratusan anak tangga untuk mencapai gardu pandang (viewing point) Danau Kelimutu. Jalur trekking dan anak tangga menuju viewing point sudah dibuat dengan rapi dan ada penunjuk arah yang jelas. Namun, di tengah cuaca pagi yang masih gelap (untungnya saat itu sedang terang bulan), penunjuk arah tersebut biasanya tidak jelas terlihat. Sebaiknya Anda membawa senter agar perjalanan Anda lebih nyaman dan tidak salah jalan.

Anak tangga menuju Gardu Pandang (Viewing Point)

Setelah menyusuri jalur trekking dan mendaki ratusan anak tangga, sampaialah kami di gardu pandang (viewing point) Danau Kelimutu. Kami tiba di viewing point tepat sesaat sebelum sang surya memancarkan sinarnya. Kami langsung mencari tempat terbaik dan mengeluarkan kamera, bersiap-siap menyaksikan “pertunjukan alam” yang akan disajikan oleh Danau Kawah Kelimutu. Beberapa turis asing juga sudah nangkring di viewing point sambil memegang kameranya masing-masing. Setiap pagi yang cerah, bisa dipastikan selalu ada turis asing yang berkunjung ke Danau Kelimutu. Mereka sengaja jauh-jauh datang ke Danau Kelimutu untuk menyaksikan keajaiban warna-warni Danau Kelimutu.

Menyaksikan indahnya Danau Kelimutu dari Viewing Point

Perlahan-lahan langit mulai terang, dan semburat warna jingga mulai terlihat di ufuk timur. Dari sekian banyak pengunjung yang ada di Danau Kelimutu saat itu, tak ada satu pun yang bersuara. Semua seperti tersihir melihat perubahan warna langit yang mempesona, mulai dari gelap pekat, lembayung, dan perlahan-lahan berubah menjadi merah dengan semburat jingga. Seiring langit yang semakin terang dan matahari keluar dengan sempurna dari peraduannya, warna-warni ketiga Danau Kelimutu pun mulai nampak. Walau ketiga danau tersebut sering berubah-ubah warna, pagi itu Danau Kelimutu menyajikan warna hijau gelap (Tiwu Ata Polo), hijau toska (Tiwu Nua Muri Koo Fai), dan hitam (Tiwu Ata Mbupu). Cuaca memang sempurna pagi itu, langit cerah dan tak berkabut. Saya duduk di puncak viewing point sambil memandangi ketiga danau kawah yang terlihat sangat indah pagi itu. Tak lupa saya memotret ketiga danau ajaib tersebut. Pemandangan luar biasa indah radius 360 derajat, membuat saya takjub dan tak bisa berkata-kata. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena dua kali berkunjung ke Danau Kelimutu, saya bisa melihat ketiga danau secara utuh tanpa terhalang kabut. Menurut Pak Johanes, penjual kopi di Danau Kelimutu, di musim hujan seperti sekarang ini cuaca di Puncak Gunung Kelimutu sering mendung dan berkabut sehingga sulit untuk menyaksikan ketiga danau dengan sempurna. Pernah ada seorang turis dari Perancis, yang selama tiga hari berturut-turut mengunjungi Danau Kelimutu tapi tak bisa menyaksikan tiga danau kawah secara utuh. Mendengar cerita Pak Johanes, saya benar-benar merasa beruntung bisa menyaksikan panorama matahari terbit di atas Danau Kelimutu dan bisa menyaksikan tiga danau kawah secara utuh tanpa terhalang kabut.

Matahari terbit di Puncak Gunung Kelimutu

Sejarah Kelimutu
Kelimutu merupakan gabungan dari kata “keli” yang berarti gunung, dan “mutu” yang berarti mendidih. Danau Kelimutu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Keindahan Danau Kelimutu semakin dikenal masyarakat dunia setelah Y. Bouman, seorang turis dari Eropa, menulis artikel tentang Danau Kelimutu pada tahun 1929. Sejak saat itu, mulai banyak turis asing dan peneliti yang berdatangan ke Danau Kelimutu.

Danau Kelimutu berada di puncak Gunung Berapi Kelimutu yang memiliki katinggian 1.690 meter di atas permukaan laut. Danau kawah ini dianggap ajaib dan misterius, karena warna air di ketiga danau selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu. Uniknya lagi, warna air di tiga danau tersebut selalu berbeda (jarang warnanya sama) pada waktu yang bersamaan. Karena keunikannya yang tidak bisa ditemui di tempat lain, Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi TamanNasional sejak tanggal 26 Februari 1992. Keindahan Danau Kelimutu juga pernah diabadikan dalam uang kertas pecahan lima ribu rupiah, yang terbit tahun 1992 dengan warna danau merah (Tiwu Ata Polo), hijau toska (Tiwu Nua Muri Koo Fai), dan hitam (Tiwu Ata Mbupu).

Masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Kelimutu percaya bahwa seseorang yang meninggal dunia arwah/jiwanya akan meninggalkan kampung halamannya dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau/kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Selanjutnya, arwah tersebut masuk ke dalam salah satu danau/kawah yang ada tergantung usia dan perbuatannya. Tiwu Ata Polo merupakan tempat berkumpulnya arwah orang jahat (tukang tenung), Tiwu Nua Muri Koo Fai merupakan tempat berkumpulnya arwah muda-mudi, dan Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat berkumpulnya arwah orang tua.

Perubahan Warna Danau Kelimutu
Meski banyak ahli yang sudah melakukan penelitian, sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa penyebab perubahan warna Danau Kelimutu. Sejumlah kalangan menduga, perubahan warna air di Danau Kelimutu disebabkan oleh tekanan gas aktivitas vulkanik, pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, kandungan zat kimia terlarut (garam, besi, sulfat dan mineral lain), serta pantulan warna dinding dan dasar danau. Selain itu, aktivitas kegempaan juga dapat mengubah warna kawah danau. Sebagai contoh : meningkatnya kandungan besi (Fe) dalam air kawah menyebabkan warna danau merah kehitaman, sedangkan warna hijau lumut dimungkinkan karena adanya biota jenis lumut tertentu.

Tiwu Nua Muri Koo Fai, saat ini berwarna hijau toska

Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warni Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat. Mereka percaya bahwa perubahan warna pada ketiga Danau Kelimutu merupakan isyarat/pertanda akan terjadinya suatu peristiwa/bencana alam di negeri ini, seperti : gunung meletus, tanah longsor, kekeringan atau bencana alam lainnya. Mereka sudah hafal arti warna yang ditunjukkan oleh Danau Kelimutu. Misalnya : bila air Danau Tiwu Ata Polo berwana hijau lumut berarti akan ada warga sekitar yang meninggal dunia.

Tiwu Ata Polo, saat ini berwarna hijau kebiruan

Saat ini ketiga Danau Kelimutu meiliki warna yang berbeda, yaitu : Tiwu Ata Polo berwarna hijau kebiruan, Tiwu Nua Muri Koo Fai (yang paling besar) berwarna hijau toska, dan Tiwu Ata Mbupu (yang paling kecil dan letaknya terpisah jauh) berwarna hitam pekat. Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Mbupu warnanya relatif stabil yaitu hijau toska dan hitam pekat. Sedangkan Tiwu Ata Polo paling cepat berubah. Menurut informasi penduduk setempat, selama tahun 2010 ini sudah terjadi tiga kali perubahan warna di Danau Tiwu Ata Polo, dari coklat tua, hijau lumut, dan hijau tua. Pada tahun 2006, saat saya pertama kali berkunjung ke Danau Kelimutu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna coklat tua.

Tiwu Ata Mbupu, saat ini berwarna hitam

Dinding Pemisah Danau Kelimutu
Danau Kelimutu terdiri dari tiga buah danau dengan bentuk, ukuran dan warna yang tidak sama. Ketiga danau tersebut adalah Tiwu Ata Polo (letaknya paling kanan), Tiwu Nua Muri Koo Fai (letaknya di tengah dan paling besar), dan Tiwu Ata Mbupu (letaknya terpisah jauh/paling kiri dan paling kecil). Dari tiga danau kawah tersebut, dua danau (Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo) letaknya berdekatan, sedangkan danau satunya lagi (Tiwu Ata Mbupu) letaknya terpisah jauh. Antara Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo dipisahkan oleh dinding pemisah yang sangat sempit. Dari sudut pandang geologi, dinding danau merupakan bagian yang paling labil. Dulunya dinding pemisah tersebut cukup lebar dan bisa dilewati orang. Sekarang, dinding pemisah tersebut sangat tipis/sempit dan tidak bisa dilewati orang. Dengan posisi berdekatan, tidak menutup kemungkinan kedua danau ini akan menyatu bila terjadi gempa bumi dengan skala besar.

Tiwu Nua Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo letaknya berdekatan dan
hanya dipisahkan oleh dinding pemisah yang sempit


Arboretum

Selain keindahan danau kawah, daya tarik Kelimutu adalah arboretum, hutan mini seluas 4,5 hektar, tempat tumbuhnya berbagai jenis pohon yang mewakili potensi biodiversitas Taman Nasional Kelimutu. Di sana terdapat aneka flora yang jumlahnya sekitar 78 jenis pohon. Di antara flora itu ada yang endemik Kelimutu, yakni uta onga (Begonia kelimutuensis) dan turuwara (Rhododendron renschianum).

Tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Kelimutu antara lain : kayu mata (Albizia montana), kebu (Homalanthus giganteus), tokotaka (Putranjiva roxburghii), uwi rora (Ardisia humilis), longgo baja (Drypetes subcubica), toko keo (Cyrtandra sp.), kayu deo (Trema cannabina), dan kelo (Ficus villosa).

Taman Nasional Kelimutu merupakan habitat sekitar 19 jenis burung yang terancam punah, di antaranya : Punai Flores (Treron floris), Burung Hantu Wallacea (Otus silvicola), sikatan rimba-ayun (Rhinomyias oscillans), Kancilan Flores (Pachycephala nudigula), sepah kerdil (Pericrocotus lansbergei), Tesia Timor (Tesia everetti), opior jambul (Lophozosterops dohertyi), opior paruh tebal (Heleia crassirostris), cabai emas (Dicaeum annae), Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum), burung madu matari (Nectarinia solaris), dan Elang Flores (Spizaetus floris).

Taman Nasional Kelimutu memiliki empat jenis mamalia endemik, yang sering dijumpai adalah dua tikus gunung, Bunomys naso dan Rattus hainaldi. Di Taman Nasional Kelimutu juga dapat dijumpai beberapa satwa seperti : banteng (Bos javanicus), kijang (Muntiacus muntjak), luwak (Pardofelis marmorata), trenggiling (Manis javanica), landak (Hystrix brachyura), dan kancil (Tragulu sjavanicus).

Getting There
Untuk mencapai Danau Kelimutu, Anda harus terbang menuju Denpasar atau Kupang. Dari Denpasar/Kupang, lanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju kota terdekat dengan Danau Kelimutu, yaitu Ende atau Maumere di Pulau Flores. Harap Anda perhatikan bahwa pesawat dari Denpasar/Kupang ke Ende/Maumere tidak tersedia tiap hari, tetapi hanya beberapa kali seminggu. Untuk memastikan jadwalnya, coba cek situs maskapai yang melayani penerbangan ke dua kota tersebut, yaitu Lion Air (www.lionair.co.id), Merpati Air (www.merpati.co.id), dan Trans Nusa (www.transnusa.co.id). Dari Ende atau Maumere, Anda tinggal melanjutkan perjalanan darat baik dengan kendaraan umum maupun menyewa mobil menuju Kampung Moni (Desa Koanara), desa terdekat dengan Danau Kelimutu. Dari Ende ke Moni jaraknya sekitar 60 km atau sekitar 90 menit berkendara sedangkan dari Maumere jaraknya sekitar 80 km atau sekitar tiga jam berkendara. Dari Moni ke Danau Kelimutu. Anda bisa naik ojek atau menyewa mobil. Jarak dari Moni ke Danau Kelimutu sekitar 13 km atau 30 menit berkendara.

Tips Berkunjung ke Danau Kelimutu
• Waktu terbaik untuk mengunjungi Danau Kelimutu adalah pada musim kemarau (April - September), di mana langit cerah dan tidak ada kabut. Pada musim hujan, cuaca di sekitar Danau Kelimutu sering berkabut sehingga susah untuk melihat ketiga danau secara utuh.
• Saat terbaik untuk menyaksikan keindahan Danau Kelimutu adalah di pagi hari antara pukul 06.00 -09.00 WITA. Lewat pukul 09.00 WITA, Danau Kelimutu biasanya sudah diselimuti kabut sehingga susah untuk melihat panorama ketiga danau secara utuh.
• Untuk bisa menyaksikan matahari terbit (sunrise) di puncak Gunung Kelimutu, sebaiknya Anda menginap di Moni. Di Moni terdapat sejumlah hotel atau home stay sederhana dengan harga terjangkau. Dari Moni, sebaiknya Anda berangkat sekitar pukul 04.00 WITA, sehingga pukul 05.00 WITA Anda sudah sampai di puncak Gunung Kelimutu.
• Jangan lupa untuk membawa jaket tebal, syal, kaos kaki, dan sarung tangan karena udara di sekitar Moni dan Danau Kelimutu sangat dingin, terutama di pagi dan malam hari! (edyra)***

*Dimuat di Majalah SEKAR No. 48, Januari 2011
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments