TEN THOUSAND BUDDHAS MONASTERY, HONGKONG

Di antara Patung Budha Emas di Ten Thousand Buddhas Monastery



Hongkong terkenal sebagai surga belanja di Asia. Di berbagai sudut kota ini, bertebaran mal dan pusat perbelanjaan yang siap menguras isi dompet turis dari berbagai penjuru dunia. Namun, Hongkong bukan hanya tempat belanja. Selain mal dan pasar, kota ini juga mempunyai berbagai tempat menarik yang layak untuk dikunjungi. Salah satunya adalah The Ten Thousand Buddhas Monastery (Biara Sepuluh Ribu Budha). Tempat yang satu ini memang tidak populer di kalangan turis karena Pemerintah Hongkong sengaja tidak memasukkannya ke dalam brosur-brosur wisata. Biro perjalanan di Indonesia juga tidak ada yang memasukkan nama biara ini ke dalam daftar tempat kunjungan wisata di Hongkong. Saya pun baru mengetahuinya dari internet, setelah iseng-iseng googling mencari informasi tempat-tempat wisata di Hongkong yang sepi turis.

Baru mendengar namanya saja, saya langsung tertarik. Apalagi setelah melihat foto-foto ribuan Patung Budha berwarna emas di biara tersebut dan mengetahui lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota Hongkong. Saya semakin mantap untuk memasukkan Ten Thousand Buddhas Monastery ke dalam daftar tempat yang akan saya kunjungi di Hongkong.

 Po Fook Hill Garden, kompleks pemakaman di bawah Ten Thousand Buddhas Monatery

Ternyata, keterangan internet tidak bohong. Ketika saya dan teman tiba di Ten Thousand Buddhas Monastery, tak ada turis yang berkunjung selain Warga Hongkong yang akan beribadah dan sejumlah buruh migran Indonesia (TKI) yang sedang jalan-jalan di sana. Rambu-rambu atau petunjuk arah ke tempat ini hanya ada satu dan sengaja dibuat tidak mencolok, tidak seperti petunjuk arah ke tempat-tempat wisata populer lainnya di Hongkong. Saking minimnya petunjuk arah, kami mengalami sedikit kesulitan mencari tempat ini dan sempat nyasar ke Po Fook Hill Garden, kompleks pemakaman yang berada tepat di bawah Ten Thousand Buddhas Monastery. Untunglah, setelah bertanya ke beberapa penduduk setempat, kami berhasil menemukan tempat ini.

The Ten Thousand Buddhas Monastery merupakan sebuah Biara Budha yang terletak di lereng Bukit Po Fook, Desa Pai Tau, Distrik Sha Tin, New Territories, Hongkong. Biara ini mulai dibangun oleh Biksu Yuet Kai pada tahun 1949 dan baru selesai tahun 1957. Meski statusnya merupkan tempat ibadah dan masih digunakan sampai sekarang, biara ini terbuka untuk umum dan turis. Untuk mencapai Ten Thousand Buddhas Monastery, dari hotel kami di daerah Tsim Sha Tsui, kami naik MTR (jaringan kereta bawah tanah di Hongkong) jalur biru muda (east rail line) dan turun di Stasiun Sha Tin. Dari Stasiun East Tsim Sha Tsui di daerah Kowloon/Tsim Sha Tsui, butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai Stasiun Sha Tin. Keluar dari Stasiun Sha Tin, kami harus berjalan kaki sekitar 300 meter hingga tiba di gerbang Ten Thousand Buddhas Monastery yang letaknya cukup tersembunyi. Selanjutnya, kami harus mendaki ratusan tangga hingga tiba di lokasi altar utama biara. 

 Gerbang Ten Thousand Buddhas Monastery

Di gerbang biara, kami sudah disambut jajaran Patung Budha Emas di kanan kiri jalan. Saya jadi makin semangat untuk segera menjelajahi biara ini. Beberapa meter dari gerbang, jalan berubah menanjak dan badan jalan terbagi menjadi dua. Sebelah kiri jalan semen rata untuk pengunjung yang memakai kursi roda dan sebelah kanan untuk pengunjung umum. Salut untuk Pemerintah Hongkong yang tetap memperhatikan kaum diffable
 

Patung Budha Emas di kanan kiri jalan di Kompleks Ten Thousand Buddhas Monastery

Melihat jalan yang menanjak dengan ratusan anak tangga, saya jadi sedikit heran. Tumben Pemerintah Hongkong tidak menyediakan eskalator atau lift di tempat seperti ini. Padahal di tempat-tempat umum lainnya di Hongkong (misalnya di Stasiun MTR, bandara, dan pusat perbelanjaan), eskalator atau lift bisa kita temukan dengan mudah. Bahkan, untuk mempermudah mobilitas warganya dari daerah Central ke daerah MidLevel yang di atas bukit, Pemerintah Hongkong membangun eskalator outdoor terpanjang di dunia yang panjangnya mencapai 800 meter lebih. Namun, mau tak mau kami harus mendaki anak tangga yang konon jumlahnya mencapai 431 itu. Ratusan Patung Budha Emas yang berjejer di kanan kiri jalan, seakan memberi semangat kepada kami untuk melanjutkan perjalanan. Jadinya, saya berjalan sambil memotret-motret patung tersebut. Setiap kali melihat patung yang unik/lucu, saya berhenti untuk memotretnya. 

 Patung Budha Emas dengan aneka pose dan ekspresi wajah
 
Setelah mendaki ratusan tangga, kami bertemu pertigaan. Belok kiri menuju teras bawah di mana terdapat kuil utama dan Pagoda 9 Tingkat sedangkan belok kanan dan mendaki menuju teras atas. Kami memilih untuk menuju teras atas lebih dahulu. Dari pertigaan tersebut, kami harus mendaki 69 anak tangga untuk sampai di teras atas yang merupakan tempat tertinggi di biara ini. Di kanan kiri jalan (anak tangga) menuju teras atas juga dihiasi puluhan Patung Budha Emas.



 Patung Dewi Kwan Im dan Kuil Utama di teras bawah

Patung Manjushri di teras bawah

Panorama dari teras atas sangat indah. Distrik Sha Tin dengan gedung-gedung apartemen yang padat terlihat jelas di bawah sana. Selain Patung Budha, di teras atas terdapat beberapa bangunan yaitu Amitabha Hall, Avaloteskesvara (Kwun Yam) House, Cundi House, Ksitigarbha House, Jade Emperor Hall, Paviliun YueXi, dan Naga-Puspa Court. Semua bangunan berwarna merah dengan hiasan berupa ukiran/Patung Budha berwarna emas, dua warna keberuntungan yang dipercaya Etnis Tionghoa. Yang menarik perhatian kami adalah Patung Dewi Kwan Im (Kwun Yam) di ujung timur. Patung berwarna putih tersebut berdiri di sebuah kolam dengan air terjun buatan di belakangnya. Sayangnya saat itu air terjunnya sedang tidak dinyalakan. Di bawah patung ini terdapat sebuah kolam lagi yang berisi puluhan kura-kura. Di lereng bukit di dekatnya, bertebaran Patung-Patung Budha Emas dengan ukuran sekitar 30 - 50 cm.

 
Pagoda 9 Tingkat di teras bawah

Selanjutnya kami turun ke teras bawah yang merupakan bagian utama Ten Thousand Buddhas Monastery. Di teras ini terdapat Kuil Utama (Ten Thousand Buddhas Hall) yang di dalamnya tersimpan 12.800 Patung Budha berukuran kecil. Sayangnya, selain pemeluk Agama Budha dilarang masuk ke dalam Kuil Utama. Selain Kuil Utama, ada juga Paviliun Avalokitesvara (Dewi Kwan Im), Paviliun Samantabhadra, Paviliun Manjushri, Galeri 18 Arhat, Naga-Puspa Hall, dan Pagoda 9 Tingkat. Bangunan paling menarik dan paling fotogenik adalah Pagoda 9 Tingkat berwarna merah dengan ornamen warna emas dan putih di bagian atapnya. Pagoda cantik ini juga dihiasi puluhan Patung Budha Emas di jendela dan di sekelilingnya. Saya menaiki pagoda ini hingga puncak, melalui tangga melingkar yang sempit. Dari puncak pagoda, saya bisa melihat pemandangan indah di sekitar biara.

How to Get There
Cara termudah dan tercepat mencapai Ten Thousand Buddhas Monastery adalah dengan kereta bawah tanah (MTR). Anda bisa naik MTR jalur timur (east rail line) dari Stasiun East Tsim Sha Tsui di daerah Kowloon/Tsim Sha Tsui dan turun di Stasiun Sha Tin. Kemudian keluar melalui Exit B dan jalan kaki sekitar 300 meter hingga tiba di gerbang Ten Thousand Buddhas Monastery.(edyra)***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

ADORABLE ADONARA


Santai sejenak di Pantai Watotena



Nama pulau ini terdengar indah di telinga. Kenyataanya, pulau kecil ini memang  indah. Adonara nama pulau yang saya maksud. Sayangnya, keindahan Adonara belum terdengar gaungnya, tidak seperti dua tetangganya (Flores dan Lembata) yang sudah cukup terkenal. Saya yakin, belum banyak yang mengenal pulau ini selain masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT). Begitu juga dengan saya. Saya baru mengenal Adonara setelah tinggal di Kupang dan bertemu banyak orang yang berasal dari pulau ini. Perbincangan dengan orang-orang Adonara membuat saya penasaran dengan pulau ini. Apalagi teman saya yang asli Adonara, siap menjadi guide dan menemani saya keliling Adonara kapan pun saya mau. Tentu saja, saya makin penasaran dibuatnya.

Berbekal informasi yang minim tentang Adonara, awal Mei kemarin saya nekad berkunjung ke sana. Saya meluangkan waktu sehari penuh untuk menjelajah Adonara, dari ujung barat hingga ujung timur. Di luar dugaan, ternyata saya menemukan banyak keindahan dan keunikan di Adonara yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Mulai dari pantai perawan, laguna cantik, gunung berapi yang masih aktif hingga sentra tenun ikat yang belum dikenal banyak orang.

Sekilas tentang Pulau Adonara
Adonara adalah pulau kecil di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di sebelah timur Pulau Flores. Letak geografis Adonara sangat unik karena dikelilingi tiga pulau, yakni Flores di sebelah barat, Solor di sebelah selatan, dan Lembata di sebelah timur. Secara administrasi, saat ini Adonara masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Flores Timur yang beribu kota di Larantuka, Flores. Mengapa saya bilang saat ini? Pasalnya sebentar lagi Adonara akan dimekarkan menjadi sebuah kabupaten tersendiri, terpisah dari kabupaten induknya, Flores Timur. Dengan wilayah yang cukup luas (terbagi dalam delapan kecamatan) dan sumber daya alam yang melimpah (terutama perikanan dan kelautan), Adonara memang layak menjadi kabupaten tersendiri. Dengan menjadi kabupaten, Adonara diharapkan mampu mengejar ketertinggalan dari dua tetangganya, Flores dan Lembata.

Menuju Pulau Adonara
Untuk mencapai Adonara, dari Kupang saya harus terbang dulu ke Larantuka, kota terdekat dengan Adonara yang berada di ujung timur Pulau Flores. Dari Larantuka, saya melanjutkan perjalanan ke Adonara dengan perahu menyeberangi Selat Lewotobi hingga tiba di Pelabuhan Tobilota, Adonara. Dalam perjalanan ini saya tidak sendiri karena ditemani Kak Edys, teman yang berasal dari Adonara. Kami membawa sepeda motor dari Larantuka, agar lebih mudah dann leluasa menjelalajah Adonara.

Perjalanan berperahu dari Larantuka ke Tobilota di pagi hari sangat menyenangkan. Cuaca cerah, langit biru bersih, dan laut tenang tanpa arus ataupun gelombang. Di atas perahu, mata saya dimanjakan oleh panorama Kota Larantuka yang sangat menawan. Coba bayangkan! Sebuah kota berada di antara laut dan gunung. Di depan Larantuka terhampar Selat Lewotobi yang berwarna biru, dan tepat di belakangnya berdiri menjulang Gunung Ile Mandiri yang puncaknya sering tertutup awan. Alhasil, tercipta panorama kota yang luar biasa indah, di mana laut dan gunung berpadu dengan harmonis.

Pelabuhan Tobilota, Gerbang Masuk Adonara dari Arah Barat
Lima belas menit kemudian, perahu merapat di Dermaga Tobilota, Adonara. Sambil menunggu sepeda motor kami diturunkan dari perahu, saya dan teman jalan-jalan di sekitar pelabuhan untuk memotret panorama sekitar pelabuhan. Pelabuhan Tobilota merupakan pelabuhan kecil di ujung barat Adonara. Meski kecil dan fasilitasnya sederhana, pelabuhan ini ramai sepanjang hari karena merupakan salah satu pintu masuk utama Adonara dari arah barat. Setiap harinya, dari pagi hingga malam, perahu-perahu motor hilir mudik dari Pelabuhan Tobilota ke Pelabuhan Larantuka dan sebaliknya, mengangkut orang, sepeda motor, dan aneka macam barang. Dengan tarif yang cukup murah, hanya Rp 5.000,00 per orang dan Rp 15.000,00 per sepeda motor, perahu-perahu tersebut hampir selalu penuh muatan. 

 
 Jalan sempit di Pulau Adonara

Dari Tobilota, petualangan di Adonara kami mulai. Kami berencana mengelilingi Adonara dengan rute berlawanan arah jarum jam, dari sisi barat, selatan, timur hingga utara pulau. Karena itu, saya mengarahkan sepeda motor ke arah kanan/selatan, menyusuri pantai barat dan selatan Adonara. Jalan aspal yang mulus tapi sempit, menyambut kami begitu keluar dari pelabuhan. Lebarnya hanya sekitar 2 meter, dengan kondisi aspal yang cukup mulus. Namun, aspal yang mulus hanya beberapa kilometer saja panjangnya, seolah menjadi ucapan selamat datang di Pulau Adonara. Semakin menjauh dari pelabuhan, jalan mulai rusak, aspal terkelupas di sana-sini. Di beberapa ruas jalan, aspal sudah hilang sama sekali berganti menjadi jalan tanah berbatu. Kondisi jalan mulai berkelok-kelok, naik turun bukit. Topografi Adonara memang berbukit-bukit. Jadi, jangan harap, ada jalan lurus di pulau ini selain di kota. Bagi yang biasa berkendara di Jawa mungkin akan kaget melihat jalan berkelok-kelok seperti di Adonara. Namun tidak bagi saya yang sudah beberapa kali berkendara di Flores, di mana kondisi jalannya lebih ekstrim, meliuk-liuk seperti ular membelah gunung dan lembah.

 
Pulau Solor dilihat dari Adonara

Panorama indah yang kami temui sepanjang jalan, memberi hiburan tersendiri bagi kami. Bukit-bukit hijau, laut biru, dan Pulau Solor yang membentang di seberang pulau, membuat kami lupa sejenak akan jalan rusak yang kami lalui. Beberapa kali kami berhenti untuk menikmati keindahan alam Adonara dan mengabadikannya dengan kamera kesayangan saya.

Lamahala Jaya dan Waiwerang
Setelah hampir dua jam berkendara, kami tiba di Desa Lamahala Jaya yang berada di pesisir selatan Adonara. Jarak Tobilota - Lamahala Jaya yang hanya 26 km harus kami tempuh selama hampir dua jam karena jalan yang buruk dan berkelok-kelok penuh tanjakan dan turunan curam. Tidak seperti desa-desa sebelumnya yang sepi dan penduduknya jarang-jarang, Desa Lamahala Jaya sangat ramai dan semarak. Rumah-rumah penduduk sangat padat dan berhimpitan. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan dan pedagang. Tak heran kalau toko-toko/warung-warung kecil berjajar sepanjang jalan, dan perahu-perahu bertebaran di pantai. Di desa ini terdapat sebuah masjid yang cukup besar karena seluruh Warga Lamahala Jaya beragama Islam. Lokasi desa yang berada di pinggir pantai dengan kontur tanah yang miring dan berbukit-bukit, membuat Desa Lamahala Jaya terlihat sangat unik. Bila dilihat dari laut, rumah-rumah Warga Desa Lamahala Jaya yang bertengger di tepi pantai seperti mengapung di atas laut.

 
 Kota Waiwerang dilihat dari pelabuhan ferry

Lepas dari Lamahala Jaya ,kami tiba di Waiwerang, ibu kota Kecamatan Adonara Timur, sekaligus ‘kota’ terbesar di Adonara. Kota inilah yang digadang-gadang akan menjadi ibu kota Kabupaten Adonara. Sama seperti Lamahala Jaya, Waiwerang juga berada pinggir pantai dengan kontur tanah yang miring. Rumah-rumah penduduk berjajar dan berhimpitan di pinggir pantai hingga ke arah bukit. Karena statusnya sebagai ibu kota kecamatan, fasilitas hidup di Waiwerang lebih lengkap dibandingkan Lamahala Jaya. Selain toko dan warung, di kota ini juga terdapat kantor-kantor pemerintah, bank, puskesmas, penginapan, dan pelabuhan ferry. Kak Edys mengajak saya mampir ke pelabuhan agar bisa melihat panorama Kota Waiwerang secara keseluruhan.

Pantai Watotena
Berada di pulau kecil seperti Adonara, tak afdol rasanya bila tidak mengunjungi ke pantainya. Salah satu pantai paling terkenal dan paling indah di Adonara adalah Pantai Watotena. Nama pantai ini sebenarnya adalah Neren Watotena tapi Warga Adonara biasa menyebutnya Pantai Watotena saja. Pantai Watotena terletak di Desa Bedalewun, Kecamatan Ile Boleng. Dari Kota Waiwerang, pantai ini hanya berjarak 11 km atau sekitar 20 menit berkendara. 

 
 Pantai Watotena yang indah dan sepi

Tiba di Pantai Watotena, kami disambut debur ombak dan pasir putih yang berkilauan tertimpa sinar matahari. Air laut yang hijau kebiruan benar-benar menyejukkan mata kami yang sejak pagi hanya melihat perbukitan dan jalanan yang rusak. Suasana pantai sangat sepi, tak ada pengunjung maupun pedagang asongan. Kami hanya melihat sebuah sepeda motor diparkir di pinggir pantai, tanpa ada pemilik/pengendaranya. Mungkin pemiliknya sedang melipir atau berenang di pantai.

 
Sisi kiri Pantai Watotena yang eksotis dengan hiasan batu-batu magma

Pantai Watotena sangat menawan. Dengan pasir putih bersih dan air laut bergradasi hijau biru, membuat siapa saja jatuh cinta terhadap pantai ini. Panorama di sekitar pantai juga sangat menarik. Anda bisa melihat Pulau Lembata di sebelah timur, Pulau Solor di sebelah barat daya, dan Gunung Ile Boleng yang menjulang tinggi di sebelah utara. Selain pasir putih dan laut biru, daya tarik pantai ini adalah batu-batu magma aneka bentuk dan formasi yang menghiasi bibir pantai. Kehadiran batu magma hitam yang diduga berasal dari letusan Gunung Ile Ape tersebut semakin mempercantik Pantai Watotena. Apalagi di atas batu-batu magma tersebut telah dibangun beberapa lopo-lopo (sebutan gazebo dalam bahasa setempat) sebagai tempat melepas lelah dan menikmati keindahan pantai. Sayangnya Pantai Watotena kurang terawat. Lopo-lopo sudah banyak yang rusak dan banyak botol air mineral bertebaran di pinggir pantai. Akses jalan dari jalan raya utama menuju pantai juga sangat buruk, berupa jalan tanah berbatu. Jalan tersebut juga hasil swadaya masyarakat setempat, bukan dari pemerintah daerah.  Seharusnya pemerintah daerah setempat lebih memperhatikan Pantai Watotena, agar semakin banyak dikunjungi wisatawan dan menambah pendapatan daerah. 

 
Pantai Deri yang berpasir coklat kehitaman

Pantai Deri
Dari Pantai Watotena kami bergerak ke ujung timur Adonara, menuju Pantai Deri. Pantai berpasir coklat kehitaman ini berada di Desa Deri, Kecamatan Ile Boleng. Pantai Deri merupakan salah satu pantai kebanggaan Warga Adonara. Dari pantai ini, Anda bisa melihat Pulau Lembata di sebelah timur dengan jelas. Di Pantai Deri sudah dibangun beberapa fasilitas untuk kenyamanan pengunjung, di antaranya gerbang masuk ke pantai, toilet, dan sejumlah lopo-lopo. Sayang berbagai fasilitas tersebut kondisinya tak terawat. Lopo-lopo sudah banyak yang rusak, toilet juga sudah tak berfungsi. Sama seperti Pantai Watotena, suasana di Pantai Deri juga sangat sepi tanpa ada pengunjung. Pedagang makanan dan minuman juga tak ada. Menurut Kak Edys, pantai ini hanya ramai pengunjung pada Hari Minggu dan hari-hari libur. Di hari-hari lainnya, pasti akan sepi pengunjung. Apalagi sejumlah fasilitas di Pantai Deri sudah banyak yang rusak, sehingga membuat pengunjung makin malas menyambangi Pantai Deri.

 
Perempuan Adonara sedang menenun

Desa Redontena, Sentra Tenun Ikat Adonara
Dari keterangan Kak Edys, saya baru tahu kalau Adonara ternyata mempunyai tenun ikat seperti pulau-pulau lain di wilayah NTT. Pasalnya selama ini saya belum pernah melihatnya. Untuk melihat tenun ikat Adonara, Kak Edys mengajak saya mampir ke rumah saudaranya di  Desa Redontena. Desa yang berada di Kecamatan Kelubagolit ini, merupakan sentra tenun ikat terbesar di Adonara. Hampir semua perempuan di Desa Redontena bisa menenun karena sejak kecil sudah diajarai cara menenun. Biasanya, sejak kelas IV atau V SD, anak-anak perempuan di Desa Redontena mulai belajar menenun. Saudaranya Kak Edys yang bernama Kak Avin mulai belajar menenun sejak kelas IV SD. Setiap harinya, dia meluangkan waktu untuk menenun di sela-sela kesibukannya. Kak Avin dengan senang hati menunjukkan seperangkat alat tenun miliknya yang diletakkan di teras belakang rumah. Saya beruntung, saat itu adiknya Kak Avin sedang menenun selembar kain. Jadi saya bisa melihat proses menenun secara langsung. Kak Avin juga menunjukkan sarung-sarung cantik hasil tenunannya kepada saya. Motif tenun ikat Adonara ternyata cukup sederhana, berupa garis-garis horizontal dengan diselingi motif geometris. Walau motifnya sederhana tapi tetap indah karena warna-warnanya menarik. Untuk menyelesaikan selembar kain, biasanya dibutuhkan waktu sekitar satu minggu tergantung kerumitan motifnya. Kain-kain tersebut dijual dengan harga mulai Rp 140.000,00 hingga jutaan rupiah tergantung jenis benang dan motif kain. Yang termahal adalah kain tenun yang terbuat dari benang sutra, biasanya dijual dengan harga di atas Rp 1.000.000,00.

 
Tenun ikat khas Adonara

Danau Kotakaya
Persinggahan terakhir saya di Adonara adalah Danau Kotakaya. Danau kecil ini berada di pesisir barat laut Adonara, tepatnya di Desa Adonara, Kecamatan Adonara. Untuk menuju danau ini, dari jalan raya utama, kami harus belok ke kiri melewati jalan tanah berbatu sekitar 1,5 km hingga tiba di sebuah perkampungan nelayan dengan rumah-rumah sederhana tak jauh dari danau.

Langit mendung gelap saat kami tiba di Desa Adonara. Kami disambut segerombolan anak-anak yang sedang bermain bola di lapangan dekat danau. Saya pun mendekati mereka, untuk ngobrol-ngobrol sejenak. Melihat saya menenteng kamera, anak-anak tersebut meminta saya memotretnya. Saya pun menuruti kemauan mereka. Ketika saya tunjukkan hasil foto, mereka tersenyum dengan gembira.

 Danau Kotakaya yang berair asin

Setelah bercengkerama dengan anak-anak, saya dan Kak Edys bergerak menuju danau. Kami berjalan di pinggiran danau yang sudah dipagari dengan tembok rendah. Danau Kotakaya sebenarnya adalah laguna karena letaknya di dekat pantai. Tak heran kalau danau ini berair asin. Suasana Danau Kotakaya cukup asri berkat banyaknya tanaman bakau (mangrove) yang tumbuhi di berbagai sudut danau. Sayangnya, hujan turun saat kami sedang asyik berkeliling danau. Mau tak mau kami harus menyudahi acara keliling danau dan mencari tempat berteduh hingga hujan reda.

Kunjungan ke Danau Kotakaya menjadi penutup petualangan kami di Pulau Adonara. Dari danau tersebut, kami meluncur ke Pelabuhan Tanah Merah untuk menyeberang kembali ke Larantuka. Sebenarnya masih banyak tempat menarik di Adonara tapi kami tak bisa mengunjungi semuanya dalam sehari. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali ke Adonara!

How to Get There
Untuk mencapai Pulau Adonara, Anda harus terbang dulu ke Kupang, ibu kota Provinsi NTT. Selanjutnya, dari Kupang Anda bisa terbang dengan pesawat Trans Nusa (www.transnusa.co.id) menuju Larantuka di Pulau Flores atau Lewoleba di Pulau Lembata, tetangganya Adonara. Dari Larantuka, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Adonara dengan perahu sekitar 15 menit hingga tiba di Tobilota/Tanah Merah, Adonara Barat. Selain itu, dari Larantuka Anda juga bisa langsung menuju Waiwerang, Adonara Timur dengan naik perahu/kapal cepat. Kalau dari Lewoleba, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Waiwerang dengan perahu/kapal cepat. Lama perjalanan menuju Waiwerang baik dari Larantuka maupun Lewoleba, sekitar 90 menit dengan perahu motor atau 45 menit dengan kapal cepat, tergantung cuaca. (edyra)***

Where to Stay
Sampai saat ini, belum ada hotel yang representatif di Pulau Adonara. Di Waiwerang, kota terbesar di Adonara, hanya terdapat penginapan sederhana. Oleh karena itu, sebaiknya Anda menginap di Larantuka di mana terdapat banyak pilihan hotel/penginapan. Berikut beberapa hotel di Larantuka yang bisa Anda pilih sebagai tempat menginap.

Hotel Asa
Jl. Soekarno-Hatta, Weri, Larantuka
Telp. (0383) 2325 018
Tarif : mulai Rp 450.000,00

Hotel Lestari
Jl. Yos Sudarso No. 3, Larantuka
Telp. (0383) 2325 517
Tarif : mulai Rp 200.000,00

Hotel Kartika
Jl. Niaga No. 4, Postoh, Larantuka
Telp. (0383) 21888
Tarif : mulai Rp 85.000,00
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

KELEBBA MAJA, THE WONDER OF NATURE FROM SAVU ISLAND

Menikmati keindahan Kelebba Maja



Tebing berukir indah berwarna gradasi merah marun, pink, coklat, dan kelabu itu tampak jelas dari jalan raya, terutama di sisi sebelah kanan, karena tertimpa sinar matahari. Pilar-pilar batu berwarna merah muda dengan puncak berbentuk mirip jamur berwarna merah tua juga tampak seksi menggoda. Rasanya bahagia tak terkira bisa menemukan salah satu keajaiban alam yang letaknya sangat tersembunyi ini. Perjuangan berat untuk mencapai tempat ini terbayar lunas begitu saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri tebing dan pilar-pilar batu yang sangat mempesona ini. Saya ingin segera mendekati, menyentuh, dan mencumbunya. Namun, saya masih harus bersabar, karena lokasi itu berada nun jauh di bawah sana. Saya masih harus berjalan menuruni bukit, menyusuri jalan setapak beberapa ratus meter di antara tanaman berduri, dengan rute yang berliku-liku dan tak begitu jelas. Untunglah saya bersama Pak Nelson yang sudah paham betul rute jalan menuju  tempat itu. Jadi tak perlu khawatir akan tersesat. Memang, tak ada jalan pintas menuju surga.

Kelebba Maja, nama tempat yang saya maksud. Tempat ajaib ini berada di Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Saya mengetahui nama tempat ini dari Pak Nelson, pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Sabu Raijua, pada saat kunjungan kedua ke Pulau Sabu. Perkenalan saya dengan tempat ini, berawal dari foto-foto yang saya lihat di laptop milik teman yang asli Sabu, bernama Pak Nico. Anehnya, beliau tidak tahu nama tempat tersebut. Pak Nico hanya tahu nama desa di mana Kelebba Maja berada tapi tidak tahu persis letaknya di sebelah mana. Saat kunjungan pertama ke Pulau Sabu tidak sempat mampir ke tempat ini karena keterbatasan waktu. Karena itulah, saya penasaran setengah mati. Saya pun bertekad, suatu hari nanti harus mengunjungi tempat ini, saat berkunjung ke Sabu lagi.

Empat bulan kemudian, tak disangka-sangka saya berkesempatan mengunjungi Pulau Sabu lagi. Tentunya, saya mengangendakan waktu khusus untuk mengunjungi Kelebba Maja. Saya pun langsung menghubungi teman lama (Pak Nico), untuk menemani saya ke sana. Asyiknya, Pak Nico siap mengantar saya mengunjungi Kelebba Maja.  Namun, dia sudah agak lupa jalan menuju Kelebba Maja karena hanya sekali mengunjungi tempat itu dan itu pun sudah lama sekali. Tak apalah, yang penting ada teman yang menemani saya mengunjungi tempat impian. 

 Jalan rusak dengan pemandangan menarik menuju Kelebba Maja

Tepat jam 08.30 pagi, di Hari Minggu yang cerah, saya dan Pak Nico berangkat dari Kota Seba. Kami naik sepeda motor, Pak Nico yang menjadi pengendaranya. Pak Nico mengarahkan kendaraan melewati jalan utama yang membelah Pulau Sabu dan menghubungkan Kota Seba dengan Kecamatan Liae dan Kecamatan Hawu Mehara. Meski namanya jalan utama, jangan Anda bayangkan jalannya bagus dan mulus seperti jalan-jalan di Pulau Jawa. Sekitar 12 km pertama, kondisi jalan masih lumayan bagus, dengan aspal yang cukup mulus. Setelah melewati Bukit Lede Pemulu (salah satu titik tertinggi di Sabu, kondisi jalan mulai rusak, aspal jalan banyak yang terkelupas di sana-sini. Padahal jalan mulai berkelok-kelok, naik turun bukit.

Sampai di pertigaan jalan Desa Ledeke, Pak Nico membelokkan kendaraan ke arah kanan. Karena tidak ingat persis lokasi Kelebba Maja yang berada di Desa Raerobo, Pak Nico bertanya arah jalan menuju ke sana, kepada sekelompok orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Sayangnya, mereka tak ada yang tahu keberadaan tempat tersebut. Kami pun melanjutkan perjalanan. Selanjutnya, beberapa kali kami bertanya lokasi Kelebba Maja kepada beberapa orang yang kami temui di jalan, semuanya kompak menjawab tidak tahu lokasi tersebut. Mereka hanya tahu arah jalan menuju Desa Raerobo tapi tidak tahu letak Kelebba Maja. 

 Bukit berwarna pink kecoklatan di Desa Ledeke

Kami tetap melanjutkan perjalanan meski tidak tahu dengan pasti rute jalan menuju Kelebba Maja, sambil sesekali berhenti untuk motret ketika melihat pemandangan menarik. Salah satunya, kami berhenti di dekat sebuah bukit cantik yang berada di pinggir jalan Desa Ledeke. Bukit dengan lekuk-lekuk indah tersebut, menarik perhatian saya karena berwarna merah muda kecoklatan (peach). Bukit ini rada mirip dengan Kelebba Maja, namun minus pilar-pilar batu berpayung. Di Pulau Sabu memang banyak tanah yang berwarna peach seperti itu. Belakangan, setelah saya keliling pulau Sabu, saya menjumpai beberapa tempat dengan tanah berwarna merah peach.

Setelah mengambil gambar bukit cantik tersebut, kami segera melanjutkan perjalanan kembali. Rute yang kami lewati menanjak dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus. Tiba di sebuah pertigaan dengan jalan tanah, Pak Nico membelokkan sepeda motor ke arah kiri. Rute yang kami lewati lebih menantang. Jalan berkelok-kelok naik turun bukit, dengan kondisi jalan berubah-ubah, mulai dari jalan tanah, jalan berbatu hingga jalan yang di-paving (semen) di kanan kiri. Bahkan beberapak kali kami harus menyeberangi sungai kering tanpa jembatan. Panorama di kanan kiri jalan sangat menarik. Mulai dari rumah-rumah penduduk berdinding bambu dan beratap ilalang, bukit-bukit gersang dengan sapi dan kuda yang merumput, hingga laut biru di kejauhan. Sayangnya, kami tidak bisa menemukan Kelebba Maja yang kami cari-cari. Bertanya kepada penduduk juga tidak ada yang tahu. Kami pun kembali ke Seba dengan kecewa. Kelebba Maja yang saya mimpikan sejak lama, tak ketemu juga.

 Savana dengan kuda-kuda merumput yang kami temui di jalan saat menuju Kelebba Maja

Saat duduk-duduk santai di hotel, selesai makan siang, saya mendapat SMS dari Pak Kettu Makaba, penjaga Gua Lie Madira yang saya temui kemarin. Dia menanyakan, apakah saya sudah jadi mengunjungi Kelebba Maja. Saya jawab belum, karena tidak berhasil menemukannya. Pak Kettu pun ikut prihatin karena saya gagal menemukan Kelebba Maja. Saya minta tolong kepada Kelebba Maja, kalau ada temannya yang tahu pasti lokasi Kelebba Maja, agar mau mengantarkan saya ke sana. Dia meminta waktu sebentar, untuk menghubungi temannya dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sabu Raijua, yang tahu lokasi Kelebba Maja. Setelah itu akan menghubungi saya lagi.

Beberapa saat kemudian, Pak Kettu menghubungi saya lagi. Dia berhasil menghubungi Pak Nelson,  temannya dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sabu Raijua. Namun, dia tidak berani memastikan apakah Pak Nelson bisa mengantarkan saya ke Kelebba Maja atau tidak karena Pak Nelson masih ada acara dengan teman-teman kantornya. Setelah acara selesai, Pak Kettu akan mengajak Pak Nelson menemui saya di penginapan.

Jam 14.45 Pak Kettu datang ke penginapan bersama Pak Nelson. Setelah berkenalan, Pak Nelson bertanya kepada saya, kapan akan kembali ke Kupang. Saya pun menjawab besok, makanya kalau bisa hari ini harus mengunjungi Kelebba Maja. Pak Nelson pun iba melihat saya dan bersedia mengantarkan saya ke Kelebba Maja. Namun, beliau meminta waktu sebentar untuk ganti baju dan mengambil air minum di rumahnya.

Tak lama kemudian Pak Kettu dan Pak Nelson menjemput saya di penginapan. Mereka mengajak berangkat segera agar tidak kemalaman di jalan. Pasalnya kondisi jalan menuju Kelebba Maja tidak bagus. Namun, beliau akan membeli sirih pinang dulu untuk sesaji di Kelebba Maja. Kelebba Maja memang masih disakralkan Warga Sabu karena tempat itu merupakan lokasi untuk menyelenggarakan berbagai upacara adat (misalnya upacara meminta hujan) dan tempat pemujaan Dewa Maja, salah satu dewa yang dipercaya Orang Sabu.

Tepat pukul 15.15 kami meninggalkan Kota Seba menuju Kelebba Maja. Rute yang kami lalui persis sama seperti yang tadi pagi saya lewati bersama Pak Nico. Namun, setelah melewati sungai yang tanpa jembatan di sebuah desa yang berada di lembah (saya tidak tahu namanya karena tidak ada plang nama desa), kami berjalan lurus terus sementara tadi pagi, saya dan Pak Nico belok kanan hingga menemui jalan raya yang beraspal. Rupanya kesalahan kami tadi pagi adalah di pertigaan desa yang saya tidak tahu namanya. Dari pertigaan desa tersebut, Kelebba Maja hanya tinggal beberapa kilometer lagi, tapi kondisi jalan semakin buruk, berupa jalan tanah berbatu yang menanjak terjal tanpa aspal sama sekali.

 Pantai Wadumea dilihat dari kejauhan

Tak berapa lama kemudian, kami tiba di sebuah jalan dengan pemandangan yang menakjubkan. Dua pantai berpasir putih nampak di kejauhan (di sebelah selatan) dan tebing berukir dengan lekuk-lekuk yang unik dan warna-warni cantik di sebelah kiri jalan, nun di bawah sana. Pak Nelson yang memimpin perjalanan, memarkir sepeda motornya di tempat yang agak lapang di sebelah kiri jalan. Dia memberi tahu bahwa kami telah tiba di Kelebba Maja, tempat yang saya impikan selama ini. Saya bersorak kegirangan seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Bagaimana tidak gembira, bila tempat yang selama ini kita cari dengan susah payah, akhirnya ketemu juga. Namun, tebing-tebing warna-warni dengan pilar-pilar batu bak cendawan itu berada jauh di lembah bawah sana. Kami masih harus menuruni tebing dengan jalan setapak yang tak begitu jelas karena jarang dikunjungi orang. 

 Kelebba Maja dilihat dari kejauhan

Setelah Pak Kettu menaruh sesaji, berupa sirih pinang di dekat sebuah pohon, kami segera berjalan menuruni bukit. Kelebba Maja bukan tempat wisata sembarangan. Tempat ini masih dianggap keramat oleh Warga Sabu karena merupakan tempat untuk pemujaan terhadap Dewa Maja dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai upacara adat. Turis ataupun pengunjung yang ingin mengunjungi Kelebba Maja harus diitemani pemandu/Warga Sabu.

 Kelebba Maja, salah satu keajaban alam di Indonesia

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, menyusuri jalan setapak yang penuh pohon berduri di kanan kirinya, akhirnya kami benar-benar tiba di Kelebba Maja. Pilar-pilar batu dengan warna-warni menarik benar-benar di depan mata saya. Lagi-lagi, Pak Kettu menaruh sirih pinang, di sebuah pilar batu berbentuk mirip cendawan. Setelah itu, beliau mempersilakan saya menjelajah dan memotret tempat tersebut.

 Pilar-pilar batu bertopi mirip jamur di Kelebba Maja

Berada di lembah dengan tebing-tebing berukir cantik penuh warna dan pilar-pilar batu mirip jamur di hadapan, membuat saya takjub. Sesaat saya bengong, tak bisa berkata-kata. Saya seperti tak percaya dengan pemandangan bak di negeri dongeng, yang ada di depan saya. Saya benar-benar bersyukur bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, salah satu keajaiban alam yang dimiliki Indonesia ini.  Mungkin Tuhan sedang tersenyum saat menciptakan Kelebba Maja, sehingga tercipta pahatan alam yang begitu menakjubkan. Sambil memotret-motret, saya berdoa dalam hati, semoga Kelebba Maja tetap alami seperti ini dan bebas dari tangan-tangan jahil yang merusak keindahannya.

 Tebing berukir warna-warni di Kelebba Maja

Sedang asyik-asyiknya memotret, Pak Kettu memanggil saya untuk segera meninggalkan Kelebba Maja karena hari sudah sore. Bahkan Pak Nelson sudah berjalan cukup jauh meninggalkan kami. Saya pun menuruti kemauannya, walau dengan berat hati. Sambil berjalan, saya terus memotret-motret tebing dan pilar-pilar batu nan unik tersebut. Sebenarnya, saya belum puas dan masih ingin berlama-lama mengagumi keindahan Kelebba Maja. Namun, melihat matahari yang semakin condong ke barat dan mengingat jalan panjang (dan tidak bagus) yang harus saya tempuh untuk kembali ke hotel, terpaksa saya meninggalkan Kelebba Maja. Kelak, saya pasti akan merindukan tempat ini. Sambil berjalan mendaki bukit menuju jalan raya, dalam hati saya berjanji, saya pasti akan kembali ke Kelebba Maja. 
 

How to Get There
 Untuk mengunjungi Kelebba Maja di Pulau Sabu, Anda harus terbang dulu ke Kupang, NTT. Selanjutnya dari Kupang ada tiga pilihan moda transportasi menuju Sabu. Pilihan pertama adalah dengan pesawat Susi Air (www.susiair.com). Ini adalah cara tercepat dan termahal mencapai Kota Seba (Sabu) tapi dengan jadwal yang pasti. Susi Air terbang ke Sabu setiap hari tapi kapasitas penumpangnya hanya 12 orang. Jadi Anda harus memesan tiket jauh-jauh hari agar kebagian tiket. Pilihan kedua dengan kapal cepat yang berangkat dari Pelabuhan Tenau, dengan lama perjalanan sekitar 4 jam. Sayangnya kapal cepat ini hanya beroperasi seminggu dua kali, yaitu hari Senin dan Jumat beragkat dari Kupang dan kembali ke Kupang keesokan harinya (Selasa dan Sabtu). Pilihan terakhir adalah dengan ferry yang berangkat dari Pelabuhan Bolok, dengan lama perjalanan sekitar 14 jam. Ferry ini juga hanya beroperasi seminggu dua kali, yaitu Hari Senin dan Jumat. Bagi Anda yang memiliki waktu banyak, Anda bisa memilih kapal cepat atau ferry. Namun, Anda yang memiliki waktu terbatas, satu-satunya cara adalah dengan menggunakan pesawat. Selanjutnya dari Kota Seba, Anda bisa mencari pemandu (guide) yang bisa mengantarkan Anda ke Kelebba Maja. (edyra)***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments