JELAJAH CAGAR ALAM GUNUNG MUTIS

Berpose di pohon eukaliptus yang berumur 100 tahun lebih



Pulau Timor di Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal akan alamnya yang gersang dan udaranya yang panas. Hal ini disebabkan oleh rendahnya curah hujan dan tanahnya yang dipenuhi batu-batu karang. Namun di balik panas dan gersangnya Pulau Timor, tersimpan berbagai keindahan alam yang menakjubkan. Salah satunya adalah Cagar Alam Gunung Mutis. Di kawasan cagar alam ini, kita bisa melihat hutan hijau yang luas dengan pepohonan yang menjulang tinggi dan aneka satwa endemik khas Timor.

Secara administratif, Cagar Alam Gunung Mutis berada di wilayah Kecamatan Fatumnasi dan Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) serta Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Ada beberapa pintu masuk menuju cagar alam ini tapi yang paling dekat dan paling mudah dijangkau adalah melalui Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS. Desa ini jaraknya sekitar 143 km dari Kupang atau 33 km dari Soe, ibu kota Kabupaten TTS.



Perjalanan menuju Desa Fatumnasi membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Dari Kupang ke Soe, kondisi jalan bagus dan mulus karena merupakan ruas jalan negara. Namun, kita harus tetap waspada karena di beberapa tempat jalan berkelok-kelok naik turun bukit. Kadang jalan menyempit karena berada di bibir jurang, kadang jalan menanjak dan menurun terjal. Lengah sedikit bisa fatal akibatnya.

Pertigaan ke arah Kapan di Soe

Dari pertigaan di Kota Soe, kita belok kiri menuju Kapan, ibu kota Kecamatan Mollo Utara. Kondisi jalan masih cukup bagus tapi mulai menyempit dan terdapat kerusakan di beberapa titik. Jalan semakin berkelok-kelok dan mendaki karena Kota Kapan terletak di dataran tinggi. Parahnya, kita akan menjumpai beberapa persimpangan jalan tanpa rambu-rambu/penunjuk arah sehingga mengharuskan kita bertanya kepada penduduk setempat agar tidak tersesat. Namun, pemandangan di kanan kiri jalan sangat menarik. Salah satu titik paling menarik adalah Kilo 12 yang berjarak 12 km dari Kota Soe. Di tempat ini, kita bisa melihat panorama gunung, bukit, jurang dan lembah yang berpadu dengan indah. Orang-orang yang melintasi rute ini biasanya berhenti sejenak untuk sekedar melepas lelah sambil menikmati pemandangan indah atau berfoto narsis. Saya juga tak mau ketinggalan untuk singgah sejenak dan mengabadikan panorama cantik di Kilo 12.

Pemandangan menarik yang saya jumpai di perjalanan menuju Fatumnasi


Setelah melewati Kota Kapan, kondisi jalan berubah jadi buruk. Semakin menjauh dari Kapan, kondisi jalan semakin parah. Aspal menghilang berganti menjadi jalan tanah berbatu dengan batu-batu yang besar dan tak beraturan. Keahlian berkendara jelas sangat dibutuhkan di medan seperti ini. Karena membawa sepeda motor matic yang sebenarnya tidak cocok untuk jalan off road, beberapa kali saya berhenti untuk mendinginkan mesin setelah melewati tanjakan terjal. Saya juga berhenti ketika melihat pemandangan yang menarik. Panorama di sepanjang jalan menuju Fatumnasi memang indah. Mulai dari hutan pinus, bukit marmer, hingga padang sabana dengan sapi dan kuda yang sedang merumput.



Setelah berkendara hampir dua jam dari Soe, akhirnya saya tiba di Desa Fatumnasi. Desa yang dihuni Suku Dawan (salah satu suku asli Pulau Timor) ini, berbatasan langsung dengan Cagar Alam Gunung Mutis. Udara di Fatumnasi terasa sejuk karena desa ini terletak tepat di kaki Gunung Mutis. Fatumnasi berasal dari kata Fatum dan Nasi. Fatu artinya batu dalam Bahasa Dawan, dan Nasi konon katanya banyak batuan di desa ini yang bentuknya mirip beras. Saya langsung menuju kediaman Bapak Mateos Anin, tokoh adat paling terkenal di Fatumnasi. Pak Anin memiliki Homestay sederhana bernama “Lopo Mutis”, satu-satunya penginapan di Fatumnasi yang kerap menjadi jujugan para turis dan peneliti yang ingin menjelajah Cagar Alam Gunung Mutis atau mendaki Gunung Mutis. Selain itu, Pak Anin dan anaknya juga sering menjadi guide bagi para turis untuk menjelajah Cagar Alam Gunung Mutis atau mendaki Gunung Mutis.



Sayangnya, saat itu Pak Anin sedang pergi ke Soe. Saya disambut Pak Stefan, yang tak lain adalah anaknya Pak Anin. Beliau juga sering mengantar turis yang ingin menjelajah Cagar Alam Gunung Mutis dan mendaki Gunung Mutis. Sudah tak terhitung lagi berapa kali dia mendaki gunung tertinggi di Pulau Timor yang berketinggian 2.427 meter di atas permukaan laut tersebut, sehingga hafal betul rutenya.



Sebenarnya saya juga ingin mendaki Gunung Mutis tapi tidak jadi karena waktu saya terbatas. Selain itu, saya juga tidak membawa bekal yang cukup. Jadi, saya memutuskan menunda keinginan mendaki Gunung Mutis. Sebagai gantinya, saya akan menjelajah Cagar Alam Gunung Mutis dan melihat Gunung Mutis dari titik terdekatnya saja bersama Pak Stefan yang dengan senang hati akan menemani saya. 

Ume Kebubu
  

Sebelum menjelajah Cagar Alam Gunung Mutis, saya jalan-jalan keliling kompleks rumah Pak Anin ditemani dua orang cucu Pak Anin sementara Pak Stefan pulang ke rumahnya untuk ganti baju. Di kompleks rumah Pak Anin terdapat beberapa bangunan, yaitu aula/pendopo untuk menerima tamu dan turis, rumah utama, 4 rumah untuk kamar tamu (homestay), dan tiga buah rumah adat khas Timor dengan atap terbuat dari ilalang berbentuk kerucut. Rumah ini biasa disebut Ume Kebubu dalam Bahasa Dawan. Semua Warga Desa Fatumnasi mempunyai Ume Kebubu selain rumah utama karena dulunya rumah asli warga desa ini memang Ume Kebubu. Sekarang, Ume Kebubu dimanfaatkan sebagai dapur dan tempat menyimpan bahan makanan. Namun, di tempat Pak Anin, salah satu Ume Kebubu dimanfaatkan sebagai kamar tempat menginap para turis. Kata Pak Stefan, banyak turis asing yang ingin merasakan sensasi tidur di dalam Ume Kebubu.

Gerbang Cagar Alam Gunung Mutis di Desa Fatumnasi
  

Begitu Pak Stefan siap, kami segera berangkat menuju Cagar Alam Gunung Mutis. Ternyata pintu gerbang Cagar Alam Gunung Mutis hanya berjarak sekitar 1 km dari kediaman Pak Anin. Di dekat gerbang tersebut terdapat kantor pengelola cagar alam yang sekaligus berfungsi sebagai tempat pembayaran retribusi pengunjung. Namun, saat itu tidak ada satu pun orang di sana. 

Deretan pohon eukaliptus di Cagar Alam Gunung Mutis
  
Sekawanan sapi merumput di Cagar Alam Gunung Mutis


Memasuki wilayah Cagar Alam Gunung Mutis, suasana sangat sepi. Tak ada pengunjung lain selain kami berdua. Sesekali hanya terdengar lenguhan sapi dan ringkikan kuda di kejauhan. Saat itu, kami memang melihat sekawanan sapi dan kuda yang tengah merumput di bawah pohon eukaliptus. Pohon-pohon tersebut menjulang tinggi puluhan meter karena banyak yang sudah berumur ratusan tahun. Bila angin bertiup, aroma harum akan keluar dari daun-daun eukaliptus tersebut. Tanaman eukaliptus (Eucalyptus Urophylla) yang dalam bahasa setempat disebut Ampupu memang vegetasi dominan di Cagar Alam Gunung Mutis. Selain eukaliptus, tanaman lainnya adalah cendana, rotan paku-pakuan, dan berbagai jenis lumut. Saya tidak menyangka di Indonesia ada hutan eukaliptus seluas ini. Saya kira eukaliptus hanya ada di Australia, Selandia Baru, dan negara-negara empat musim lainnya.

Bonsai Alam di Cagar Alam Gunung Mutis
 

Di antara kerimbunan pohon eukaliptus, terdapat sekumpulan pohon yang menarik perhatian saya. Penduduk setempat menyebutnya bonsai alam. Tanaman ini bentuknya memang seperti bonsai, tapi dalam ukuran yang lebih besar. Tingginya sekitar dua hingga tiga meter dengan cabang-cabang pohon meliuk-liuk ke samping, seolah ingin menggapai tanaman lain. Seluruh batang dan cabangnya ditumbuhi lumut. Uniknya, meski batang tanaman ini besar, daunnya berukuran sangat kecil. Bonsai alam ini merupakan salah satu daya tarik Cagar Alam Gunung Mutis yang memikat para turis dan peneliti dari berbagai negara.

Kondisi jalan di dalam Cagar Alam Gunung Mutis
 

Kami berjalan semakin jauh ke dalam Cagar Alam Gunung Mutis. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk setempat yang pulang dari ladang. Jalanan semakin buruk dan rusak. Kadang jalanan penuh batu-batu besar, kadang penuh akar-akar tanaman. Untuk mencari jalan yang lebih baik, kadang Pak Stefan memilih keluar dari jalan utama dan memilih lewat jalan setapak di antara pepohonan eukaliptus. Bahkan, beberapa kali saya harus turun dari motor karena takut jatuh, saking buruknya jalan. Sambil berjalan, biasanya saya memotret-motret aneka tanaman dan bukit-bukit batu dengan formasi unik yang banyak terdapat di cagar alam ini. 

Bukit Batu dengan formasi unik di Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis
 
Jalan tanah berbatu di Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis
 

Setelah berjibaku dengan medan off road di tengah hutan, akhirnya kami tiba di sebuah tempat dengan hamparan sabana yang luas dan puncak Gunung Mutis di kejauhan. Tampak kawanan sapi dan kuda yang sedang merumput di kejauhan, tapi jumlahnya tidak banyak. Menurut Pak Stefan, biasanya pagi hari kita bisa menjumpai sapi dan kuda dalam jumlah yang banyak. Saat matahari sudah bersinar terik, hewan-hewan tersebut lebih memilih untuk merumput di tempat yang rindang. Tempat ini namanya Pohong Gunung dan merupakan titik awal pendakian ke puncak Gunung Mutis. Para pendaki biasanya memarkir kendaraannya di sini, kemudian berjalan kaki sekitar dua sampai tiga jam menuju puncak Gunung Mutis. Meski tidak mendaki, saya senang berada di Pohong Gunung. Melihat padang sabana yang sangat luas dan Gunung Mutis yang menjulang tinggi di hadapan sudah menyejukkan mata saya. Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali untuk mendaki puncak Gunung Mutis.

Puncak Gunung Mutis dilihat dari Pohong Gunung
Menuju ke sana
Cagar Alam Gunung Mutis berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan dan  Kabupaten Timor Tengah Utara, tapi gerbang yang paling mudah dijangkau berada di Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten TTS. Jaraknya sekitar 33 km dari Soe (ibu kota Kabupaten TTS) atau 143 km dari Kota Kupang. Untuk mencapai Desa Fatumnasi, kita harus terbang dulu ke Kupang. Dari Kupang, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Fatumnasi dengan menyewa kendaraan (lama perjalanan sekitar empat jam) atau naik kendaraan umum (bus) sampai Kota Soe, terus naik angkot sampai Kota Kapan dan lanjut naik ojek sampai Fatumnasi atau bisa juga naik ojek langsung dari Soe sampai Fatumnasi dengan lama perjalanan sekitar dua jam.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

4 Response to "JELAJAH CAGAR ALAM GUNUNG MUTIS"

  1. Del Noeel ImanuelMelkitoto says:
    3 November 2015 at 23:53

    nice posting agan,, tapi kurang foto pendakian ke gunung nya please visit tkp ane gan ada foto pendakiannya

  2. Baktiar Sontani says:
    21 April 2016 at 11:40

    Ini pas bulan panas ya mas Edyra? Aku rencana Mei ini biasanya pas lagi bagus2nya view perbukitan apalagi kalo pagi-pagi

  3. Edyra Guapo says:
    21 April 2016 at 13:55

    Aku ke sana November 2014. Kapan mau mendaki mas? Ikutan dong!

  4. Wisata Dieng says:
    17 November 2016 at 15:55

    bener bener keren nihh


    Paket Wisata Dieng

Post a Comment