DI BALIK KEINDAHAN PULAU PANGABATANG


Pulau Pangabatang yang mungil dan indah




Pulau Pangabatang adalah sebuah pulau mungil yang terletak di Teluk Maumere, sebelah utara Pulau Flores. Secara administratif, pulau ini masuk ke dalam wilayah Desa Perumaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau Pangabatang terkenal akan keindahan pantai dan alam bawah lautnya. Tak heran kalau pulau mungil ini ramai dikunjungi turis di akhir pekan atau hari libur. Apalagi setelah Pulau Pangabatang menjadi lokasi syuting acara jalan-jalan di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Jadi semakin banyak turis yang datang, baik turis lokal maupun turis asing.  Sayangnya, kebanyakan turis hanya menjelajah bagian timur dan selatan pulau yang jauh dari pemukiman penduduk. Memang bagian tersebut sangat indah, karena terdapat sebuah tanjung dengan pasir putih yang memanjang ke tengah laut saat laut surut dengan air laut biru muda (turquoise). Sangat jarang turis yang menyempatkan diri mampir ke perkampungan penduduk yang ada di ujung barat pulau sehingga tidak tahu keadaan yang sesungguhnya Pulau Pangabatang. 

Tanjung pasir putih di ujung timur Pulau Pangabatang
 
Ketika pertama kali mengunjungi Pulau Pangabatang, saya juga seperti turis kebanyakan yang hanya menjelajah bagian timur pulau. Kegiatan yang saya lakukan hanyalah snorkeling dan bermain-main di pantai tanpa mampir ke perkampungan penduduk. Namun, karena saya masih penasaran dan belum puas dengan Pulau Pangabatang ini, saya datang lagi mengunjungi pulau cantik ini satu tahun kemudian. Tak tanggung-tanggung, dalm kunjungan kedua kali ini, saya menginap semalam di sana. Karena di Pangabatang tak ada hotel atau penginapan, saya menginap di rumah penduduk (kenalannya teman), namanya Pak Sartono. Sayangnya saat itu, Pak Sartono sedang melaut sehingga saya tidak bisa bertemu beliau. Namun, istri, anak dan adik Pak Sartono mau menerima kedatangan saya dengan tangan terbuka meski kami belum pernah ketemu/kenal sebelumnya. Bahkan anak dan adik beliau mau menemani saya keliling pulau dan bermain-main di pantai. Tetangga beliau yang tak lain adalah Kepala Dusun Pulau Pangabatang (Pak Ba’ding) juga menemani saya ngobrol-ngobrol di rumah Pak Sartono. Dari mereka, saya mendengar banyak cerita dan fakta menarik sekaligus miris tentang Pulau Pangabatang yang belum diketahui banyak orang. Berikut beberapa fakta tentang Pulau Pangabatang yang mungkin belum Anda ketahui.

Air laut sebening kaca berwarna hijau toska di sebelah barat Pulau Pangabatang
 
Dimiliki Seseorang
Pulau Pangabatang dimiliki oleh seseorang (saya tak bisa menyebutkan namanya) yang tinggal di Maumere. Untungnya pemilik pulau ini adalah Warga Negara Indonesia asli (bukan orang asing) dan beliau baik hati mengizinkan pulaunya ditinggali penduduk tanpa memungut bayaran sepeser pun. Jadi, Warga Pulau Pangabatang stastusnya adalah numpang di pulau tersebut.

Pemukiman penduduk di Pulau Pangabatang tergenang air laut saat pasang
 
Tergenang saat pasang
Pulau Pangabatang memiliki daratan yang luasnya hanya sekitar hektar dengan kontur pulau yang datar. Hanya bagian tengah pulau terdapat bukit batu dengan ketinggian tak sampai 10 meter di atas permukaan laut.  Anehnya, pemukiman penduduk berada di ujung barat pulau yang permukaannya datar dan rendah. Alhasil, saat air laut pasang, pemukiman tersebut akan tergenang air laut dengan ketinggian sampai selutut orang dewasa.

Tidak ada listrik
Sampai dengan tahun 2016, PLN belum masuk ke Pangabatang. Untuk penerangan di malam hari, warga mengandalkan genset yang dimiliki beberapa orang di sana. Listrik tersebut menyala dari jam 18.00 - 22.00 setiap harinya.

Tidak ada sumber air tawar
Seperti kebanyakan pulau kecil lainnya, di Pangabatang juga tidak ada sumber air tawar. Jadi, untuk keperluan makan dan minum, warga Pangabatang harus mengambil air dari daratan Pulau Flores atau mengandalkan air hujan yang ditampung di bak-bak penampungan. Untuk keperluan mandi dan mencuci sehari-hari, penduduk mengambil air dari sumur di pulau yang airnya payau. Ada tiga buah sumur di Pangabatang tapi semua airnya payau.

Tidak punya toilet
Sebagian besar warga Pangabatang belum memiliki kamar mandi dan toilet yang layak. Kamar mandi hanya beruba bilik sederhana tanpa ada toilet. Beberapa rumah yang letaknya persis di bibir pantai memiliki toilet dengan pembuangan langsung di laut. Yang tidak punya toilet, mereka biasa buang air besar di hutan bakau (mangrove) di bagian selatan kampung. Pada kunjungan kedua saya di Pangabatang, di sana sedang dibangun sarana MCK (WC Umum) bantuan dari pemerintah.

Belum ada sekolah
Sampai saat ini, di Pangabatang belum terdapat sekolah “yang sebenarnya”. Di pulau tersebut hanya terdapat satu Sekolah Dasar dari kelas I sampai kelas III. Bagi murid yang naik ke kelas IV harus melanjutkan sekolah di pulau tetangga (Pulau Dambila dan Pulau Perumaan) dan mereka harus menginap di rumah saudara/kerabat di pulau tersebut karena tidak mungkin tiap hari bolak-balik antar pulau karena jaraknya cukup jauh. Anak-anak tersebut biasanya berangkat ke Pulau Dambila/Perumaan Senin pagi dan kembali ke Pangabatang Sabtu siang. Bayangkan! Anak kelas IV SD harus berpisah dari orang tuanya setiap hari dan hanya bisa bertemu orang tua tiap akhir pekan. (Edyra)***


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

2 Response to "DI BALIK KEINDAHAN PULAU PANGABATANG"

  1. Baktiar Sontani says:
    28 June 2016 at 11:45

    Aku udah dua kali menginap di Pangabatang, pertama kali menginap di masjid yang bikin badan remuk semua, yang kedua di rumah pak Sartono yang paling nyaman. Lantai bambunya bikin tidur nyenyak... Sempet bangun malam gak mas? Malem setelah genset mati itu yang paling cakep, liat langit penuh taburan bintang

  2. Edyra Guapo says:
    28 June 2016 at 11:54

    Nggak sempet mas. Udah kecapekan, jadi tidurnya nyenyak banget.

Post a Comment