KEMBALI KE DANAU ASMARA





Saya bukan termasuk orang yang gampang puas dalam hal fotografi (dan berbagai hal lainnya). Jika belum mendapatkan foto suatu tempat dengan kualitas bagus (memuaskan), saya tak segan untuk kembali lagi meskipun tempatnya jauh atau susah untuk mencapainya. Begitu juga dengan Danau Asmara yang berada di pedalaman Flores. Karena saat kunjungan pertama saya belum mendapat foto-foto yang menawan, saya masih memendam keinginan untuk mengunjunginya sekali lagi suatu hari nanti. Dan kesempatan untuk menyambangi Danau Asmara lagi, datang di Bulan Agustus kemarin setelah saya mengunjungi Kepulauan Meko, Adonara.

Di Hari Minggu yang cerah, saya mengunjungi Danau Asmara seorang diri. Saya mengendarai sepeda motor pinjaman dari teman yang tinggal di Larantuka, dan berangkat dari Larantuka sekitar pukul 09.00 pagi. Cuaca cerah dan langit biru bersih mengiringi perjalanan saya menuju Danau Asmara pagi itu, membuat perjalanan sangat menyenangkan. Apalagi saya sudah pernah ke sana dua tahun lalu, sehingga saya masih lumayan hafal rute jalan menuju danau itu meski tak ada satu pun rambu-rambu atau penunjuk arah di sepanjang jalan menuju Danau Asmara.

 

Awalnya, kondisi jalan beraspal mulus hingga Desa Tanjung Bunga. Setelah itu kondisi jalan mulai memburuk, banyak lubang di sana-sini. Mendekati pesisir kawasan Pantai Bluhu, jalan mulai rusak parah. Aspal jalan sudah hilang sama sekali, berganti jalan tanah berbatu-batu besar. Kehati-hatian dan kewaspadaan sangat dibutuhkan saat berkendara di medan off-road seperti itu. Untungnya saya bertemu Pantai Bluhu yang letaknya persis di pinggir jalan. Saya pun berhenti sejenak di pantai cantik tersebut. Duduk-duduk di pantai berpasir putih yang dipagari jajaran pohon kelapa nan rindang ditemani angin sepoi-sepoi, mampu menghapus rasa lelah saya. Air laut yang warnanya bergradasi hijau kebiruan di depan saya juga , benar-benar menyejukkan mata saya. Sejenak saya lupa beratnya medan yang telah saya lalui.

Dari Pantai Bluhu, Danau Asmara sudah dekat. Jaraknya tinggal 4 km tapi kondisi jalan makin parah berupa jalan tanah berbatu dengan rute sedikit menanjak. Saya melewati satu desa dengan rumah-rumah penduduk yang tak begitu banyak jumlahnya. Setelah perkampungan penduduk habis, berganti menjadi kebun jambu monyet hingga tiba di tempat parkir Danau Asmara. Waktu yang saya butuhkan untuk mencapai Danau Asmara yang berjarak 45 km dari Larantuka adalah 2 jam 30 menit, termasuk berhenti sejenak di Pantai Bluhu.

Dari tempat parkir yang letaknya dekat pertigaan jalan, Danau Asmara belum terlihat karena letaknya agak jauh di bawah dan tertutup pepohonan yang rimbun. Tempat parkir ini juga tidak ada tulisannya yang menunjukkan lokasi Danau Asmara sehigga cukup membingungkan bagi pengunjung yang baru pertama kali datang. Untunglah, saya pernah mengunjungi Danau Asmara 2 tahun lalu, sehingga masih ingat jalannya. Kemudian, saya harus berjalan kaki sekitar 300 meter untuk mencapai bibir Danau Asmara. Sepeda motor tidak bisa mencapai bibir danau karena jalannya hanya jalan setapak yang menurun cukup terjal. Jalan setapak tersebut sebagian sudah disemen dan sebagian masih berupa jalan tanah. Di beberapa tempat jalan tertutup rumput/semak-semak dan terhalang pohon tumbang.

 

Tiba di pinggir danau, saya disambut anak-anak yang sedang berenang dan bermain air dengan riang. Saya juga bertemu sepasang suami istri (namanya Pak Yoseph) yang sedang menyirami tanaman sawi di pinggir danau. Di sekeliling Danau Asmara yang subur memang dimanfaatkan warga sekitar untuk bercocok tanam sayur-mayur dan buah-buahan, di antaranya pisang, kelapa, sawi, dan kangkung. Ada juga beberapa pohon mangga yang tumbuh alami di pinggir danau.

 

Melihat kedatangan saya, Pak Yoseph menghentikan sejenak aktivitasnya. Dia mengajak saya duduk di tepi danau untuk ngobrol-ngobrol. Dari obrolan dengam beliau, saya mendapat banyak informasi tentang Danau Asmara, termasuk tempat strategis untuk melihat keseluruhan danau. Bahkan, beliau bersedia mengantarkan saya menuju lokasi "view point" Danau Asmara.

Danau Asmara terbentuk akibat letusan Gunung Sodoberawao Kobanara pada tahun 400 - 500 SM. Danau ini berada di bagian kepala naga Pulau Flores, tepatnya di Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur. Jaraknya sekitar 45 km dari pusat Kota Larantuka dan bisa ditempuh sekitar dua jam lebih berkendara. Danau berbentuk oval ini memiliki luas area sekitar 6,5 hektar dengan kedalaman sekitar 20 meter.

 

Sebenarnya nama asli Danau Asmara adalah Danau Waibelen. Namun, danau cantik ini lebih dikenal dengan nama Danau Asmara karena konon ada kisah asmara nan tragis yang pernah terjadi di sana. Menurut penduduk setempat, dulu ada sepasang kekasih yang nekad bunuh diri di danau ini karena cinta mereka tidak direstui oleh orang tua mereka. Kemudian, jasad mereka menjadi sepasang buaya putih yang menjadi penghuni tetap Danau Asmara hingga kini. Kedua buaya tersebut tidak akan menampakkan diri kepada pengunjung. Mereka hanya akan menampakkan diri jika dipanggil dengan upacara adat, dengan serangkaian ritual khusus yang dipimpin tetua adat setempat.

 

Setelah ngobrol-ngobrol, Pak Yoseph menepati janjinya untuk mengantarkan saya ke view point Danau Asmara. Saya dan Pak Yoseph naik motor berboncengan mengelilingi Danau Asmara dari tempat parkir yang berada di sisi tenggara danau ke arah kanan (berlawanan arah dengan jarum jam). Saya berhati-hati menyusuri jalan di sekeliling Danau Asmara karena jalannya tanah berbatu tanpa aspal. Di beberapa tempat jalannya menyempit karena ditumbuhi rerumputan dan semak-semak di kanan kirinya. Dari jalanan yang mengelilingi danau, permukaan danau tidak terlihat jelas karena tertutup pepohonan. Di bagian barat, permukaan Danau Asmara mulai kelihatan tapi tidak seluruhnya. Setelah tiba di bagian utara danau, barulah Danau Asmara mulai terlihat jelas. Untuk bisa melihat keseluruhan Danau Asmara, kami harus masuk ke kebun/ladang penduduk. Dari situlah pemandangan terindah Danau Asmara bisa terlihat, karena danau tersebut tidak tertutup pepohonan. Rupanya inilah view point Danau Asmara. Saya benar-benar berterima kasih kepada Pak Yoseph yang telah berbaik hati mengantarkan saya menuju view point Danau Asmara. Tanap beliau, saya tak mungkin bisa menemukan tempat ini. (Edyra)***


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

2 Response to "KEMBALI KE DANAU ASMARA"

  1. Baktiar Sontani says:
    7 November 2016 at 10:03

    Kemarin waktu mau ke pantai di paling ujung kepala Larantuka melewati danau ini tapi baru tahu pas di ketinggian, mau turun gak jadi karena masih ngejar sunset di pantai ujung kepala itu.. Lain kali pengen kesini, cuma tampaknya lebih asyik kalo nginep (tenda) biar bisa moto pas pagi-pagi

  2. Edyra Guapo says:
    8 November 2016 at 07:36

    Nama pantainya apa mas? Katanya bagus ya, pantainya? Kemarin mau dianterin ke pantai itu oleh bapak2 yg aku temui di danau tapi nggak jadi karena waktuku mepet, takut ketinggalan pesawat.

Post a Comment