WARNA-WARNI DAMNOEN SADUAK FLOATING MARKET

Perahu untuk berkeliling Damnoen Saduak Floating Market

Pagi-pagi sekali, sekitar jam 06.00 di Hari Sabtu, 9 Januari 2010, saya bersama Imel jalan kaki dari kawasan Silom Road, Bangkok menuju Stasiun Kereta Api Hualampong. Hari ini kami akan mengunjungi salah satu ikon pariwisata Thailand, yang sering menghiasi kartu pos dan kaos souvenir dari Thailand, yaitu Pasar Terapung Damnoen Saduak (nama kerennya Damnoen Saduak Floating Market). Pasar terapung itu terletak di Provinsi Ratchaburi, sekitar 110 km dari Bangkok. Ketika ke Bangkok tahun 2008 lalu, saya belum sempat mengunjunginya karena keterbatasan waktu. Makanya, begitu punya kesempatan mengunjungi Bangkok lagi, saya mengalokasikan waktu untuk mengunjungi pasar terapung yang sudah sangat tersohor itu.

Berdasarkan informasi yang saya dapat dari internet (backpacker harus bersahabat dekat dengan internet), cara termurah (kalau nggak mau ikut tur) untuk menuju Damnoen Saduak Floating Market adalah dengan naik bus nomor 78 dari Bangkok Southern Bus Terminal (nama Thainya Sai Tai Mai). Dari terminal tersebut, perjalanan ke Damnoen Saduak Floating Market akan memakan waktu sekitar dua jam.

Bangkok Southern Bus Terminal jaraknya cukup jauh dari pusat kota Bangkok, yaitu sekitar 25 km. Cara paling praktis dan cepat mencapai terminal tersebut adalah dengan naik taxi. Berhubung kami ogah naik taxi (baca mau menghemat), kami memilih naik bus kota untuk menuju ke sana. Sayangnya bus kota yang menuju Bangkok Southern Bus Terminal jarang banget. Sialnya lagi, sebagian besar bus di Bangkok hanya mencantumkan nama kota/jurusan yang dituju dalam Bahasa Thai, yang hurufnya keriting. Jarang sekali bus yang mencantumkan nama kotayang dituju dalam tulisan latin. Dari informasi yang saya dapat dari petugas hotel, untuk menuju Bangkok Southern Bus Terminal kami harus pergi ke halte bus dekat Stasiun Kereta Api Hualampong dan naik bus nomor 14. Ribet juga ya, kalau ingin menghemat?

Kami berjalan kaki menyusuri jalan-jalan protokol di Kota Bangkok menuju Stasiun Kereta Api Hualampong. Ketika kami sampai di Rama IV Road, kami melihat bus nomor 14 lewat. Kami pun berhenti di halte terdekat untuk menunggu bus nomor 14. Kami sudah capek berjalan, makanya nggak melanjutkan jalan kaki ke Stasiun Hualampong, yang ternyata cukup jauh. Ketika ada bus nomor 14 lewat, kami pun segera menyetopnya. Bus berhenti dan kami pun naik bus. Saya langsung bilang ke kondektur bus bahwa tujuan kami adalah Bangkok Southern Bus Terminal. Sayangnya, dia tidak bisa berbahasa Inggris. Dia nggak mengerti apa yang saya maksud. Ketika saya bilang Sai Tai Mai, baru dia ngerti. Dan ternyata kami salah naik bus. Seharusnya kami naik bus yang sama tapi dengan arah yang berlawanan (dari seberang jalan). Kami pun segera menuju halte di seberang jalan, dan naik bus yang sama setelah menunggu lumayan lama. Ternyata kami salah bus lagi. Waduh, gimana nih? Ternyata info yang diberikan oleh petugas hotel dan kondektur bus nggak valid tuh. Kami pun segera turun dari bus, setelah dikasih tahu oleh kondektur bus (dengan menuliskan nomor bus di kertas), bus yang harus kami ambil untuk menuju Bangkok Southern Bus Terminal.

Sialnya, bus yang kami tunggu nggak ada yang lewat. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 07.30. Padahal, waktu terbaik untuk berkunjung ke Damnoen Saduak Floating Market adalah dari jam 08.00 sampai jam 10.00 pagi. Karena kami nggak ingin buang-buang waktu ataupun salah naik bus lagi, kami pun memutuskan untuk naik taxi ke Bangkok Southern Bus Terminal.

Nggak sampai setengah jam, kami pun sampai di Bangkok Southern Bus Terminal. Biaya taxi cuma THB 125 (sekitar Rp 36.250,00). Ternyata nggak mahal-mahal amat. Tahu gini, mending naik taxi dari tadi, deh. Jadi kami nggak perlu capek-capek jalan kaki dan naik turun bus karena salah jurusan.

Bus No. 78 yang menuju Damnoen Saduak Floating Market

Bangkok Southern Bus Terminal (di sana namanya tertulis Bangkok Bus Terminal), cukup besar tapi sunyi sepi. Tidak banyak kendaraan yang berseliweran. Pedagang asongan pun nggak banyak. Terminal ini merupakan pangkalan bus yang menuju kota-kota di Thailand bagian selatan, antara lain : Damnoen Saduak, Phuket, Krabi, Surat Thani, dan Hat Yai. Kami segera mencari bus nomor 78 (jurusan Damnoen Saduak), yang tempat ngetemnya berada di bagian kiri terminal. Sekitar jam 08.00, setelah bus terisi beberapa penumpang, bus pun segera berangkat. Di tengah jalan, bus berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Biaya transportasi dari Bangkok Southern Bus Terminal ke Damnoen Saduak cukup murah, hanya THB 64 per orang.

Peta Damnoen Saduak Floating Market

Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, kami pun sampai di Terminal Bus Damnoen Saduak. Begitu kami tiba, kami langsung disambut seorang perempuan yang menawarkan perahu untuk menuju ke pasar terapung. Di dekat terminal tersebut terdapaat semacam dermaga yang merupakan titik awal perahu untuk menuju Damnoen Saduak Floating Market. Biaya sewa perahu, THB 300 per orang. Kami akan diantarkan oleh seorang tukang perahu (nahkoda) untuk berkeliling pasar, belanja ataupun foto-foto selama kurang lebih satu jam. Kami tawar THB 500 untuk dua orang, nggak dikasih. Menurut perempuan tersebut, tarif itu adalah tarif sewa standar. Bahkan dia sampai menunjukkan Buku Lonely Planet, yang menjelaskan bahwa biaya sewa perahu ke Damnoen Saduak Floating Market adalah THB 300 per orang. Ya udah deh, kami ambil. Soalnya, menurut informasi di internet, biaya sewa perahu memang segituan juga.

On the boat to Damnoen Saduak Floating Market

Kami segera memulai petualangan di Damnoen Saduak, dengan naik perahu yang digawangi seorang nahkoda. Asyik nih, naik perahu menyusuri kanal-kanal (dalam Bahasa Thai disebut Khlongs) sempit, menuju pasar terapung. Perahu melaju kencang, membelah kanal sempit yang lebarnya hanya sekitar dua meter. Air di kanal tersebut berwarna coklat keruh tapi nggak ada sampahnya. Sesekali perahu berpapasan atau bersimpangan dengan perahu lainnya yang kebanyakan juga mengangkut turis. Saya sampai ketakutan kalau perahu berpapasan dengan perahu lainnya. Sepertinya perahu akan bertabrakan. Bisa berabe kan, kalau perahu bertabrakan dan kita kecebur ke dalam kanal yang airnya coklat keruh? Namun, nahkoda kami cukup jago menjalankan perahun. Soalnya, memang pekerjaannya sehari-hari. Perahu terus melaju dengan kencang, berbelok kanan kiri menyusuri kanal-kanal sempit. Kami melewati perkampungan penduduk yang kebanyakan berbentuk rumah panggung yang didirikan di atas air, di kanan kiri kanal.

Beberapa saat kemudian, kami mulai melihat pedagang cendera mata di pinggir kanal. Kebanyakan berjualan souvenir khas Thailand. Pedagang yang menjajakan dagangannya di atas perahu juga mulai terlihat. Ketika memasuki lokasi pasar, suasana semakin ramai. Kanal penuh sesak dengan perahu pedagang maupun perahu turis. Bahkan, di beberapa tempat (pertigaan/ perempatan kanal), terjadi kemacetan. Perahu berhenti total karena kanal yang sangat sempit dipenuhi oleh banyak perahu yang akan menuju ke lokasi pasar terapung. Ternyata kemacetan, bukan hanya di jalan darat ya? Di kanal/sungai pun terjadi kemacetan.

Pedagang souvenir yang lucu-lucu

Damnoen Saduak Floating Market sangat ramai dengan pedagang dan pengunjung (turis). Pedagang kue (jajan pasar) dan camilan yang kelihatannya lezat dan menggiurkan, berkeliling di kanal-kanal, menjajakan dagangannya kepada para pengunjung. Pedagang buah-buahan dan sayur-sayuran segar juga banyak berseliweran di sekitar perahu kami. Buah-buahan yang ranum dan segar seperti duku, jeruk, jambu, manggis, lengkeng, dan buah naga (yang gede banget) sangat menggoda saya. Pedagang souvenir khas Thailand kebanyakan berada di kios permanen ataupun di perahu, di pinggir kanal.

Vegetable Springroll yang gurih dan lezat


Saya pun tergoda untuk membeli seporsi vegetable springroll (semacam lumpia di Indonesia) dari pedagang kue yang lewat di samping perahu saya. Bentuk springroll-nya kotak-kotak kecil, tidak seperti lumpia di Indonesia yang panjang. Cara makannya cukup unik, yaitu dengan sebatng lidi gigi dan dilengkapi dengan saus sambal yang rasanya rame (manis, asem, asin, dan pedas). Rasanya, hmmm…yummy! Dalam sekejab, spring roll lezat itu pun habis tak tersisa.

Pedagang buah di Damnoen Saduak Floating Market

Ketika perahu kami berpapasan dengan penjual buah lengkeng yang besar-besar (pastinya lengkeng Bangkok), saya pun meminta nahkoda perahu untuk memperlambat laju perahu. Sejak memasuki areal pasar, saya memang telah melihat banyak pedagang buah lengkeng, tapi mereka agak jauh dari perahu kami. Pedagang buah pun mendekati perahu kami, sambil menarik perahu kami dengan sebatang kayu kecil yang ujungnya ada kaitannya. Sungguh unik dan lucu. Setelah terjadi kesepakatan harga, saya pun membeli buah lengkeng yang besar-besar tersebut. Kata Imel, beratnya sekitar 1,25 kg (Dia melihatnya ketika pedagang buah tersebut sedang menimbangnya). Lengkengnya bener-bener manis dan segar.

Melihat warung-warung makanan di pinggir sungai, yang menjual berbagai makanan lezat dan ramai dikerubutin para turis, kami ingin berhenti barang sejenak untuk membeli makanan lagi. Kayanya semua makanan di pasar terapung ini lezat dan menggoda. Sayangnya nahkoda kami nggak mengizinkannya. Dia terus memacu perahunya (kali ini lebih lambat), membelah kanal-kanal di Damnoen Saduak.

Nahkoda menghentikan perahu di ujung kanal, di depan kompleks pedagang cendera mata dan tempat pembuatan gula kelapa. Rupanya, setiap nahkoda perahu memiliki pedagang langganan. Dia akan mendapat komisi bila turis yang diantarnya berbelanja. Pantesan, tadi si nahkoda nggak mau berhenti waktu kami minta berhenti di kompleks penjual makanan yang ramai turis.

Kami diberi waktu 10 menit untuk berkeliling di area tersebut. Begitu kami tiba, kami diberi welcome drink yang berupa es nira segar. Setelah puas berkeliling di kompleks pertokoan tersebut, kami kembali naik perahu, untuk balik ke terminal. Kami tidak membeli apapun di tempat tersebut, karena souvenir yang dijual kebanyakan mirip dengan souvenir-souvenir yang dijual di berbagai art shop di Bali. Ngapain juga jauh-jauh ke Thailand beli barang yang sudah ada di Indonesia?

Dalam perjalanan balik ke terminal, kami sempat membeli souvenir lucu dari pedagang di pinggir kanal. Souvenir khas Damnoen Saduak Floating Market berupa miniatur perahu dengan pedagang buah dan berbagai macam buah di atasnya. Setelah kami tawar, pedagang melepas barang dengan harga THB 100 per buah. Saya dan Imel masing-masing membeli satu.

Selanjutnya nahkoda memacu perahu dengan kencang, melewat rute yang sama seperti saat kami berangkat tadi. Tak terasa, sampailah kami di Terminal Bus Damnoen Saduak. Kami harus segera mencari bus untuk kembali ke Bangkok. Petualangan yang unik dan seru di Damnoen Saduak Floating Market pun berakhir. Benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan dan pastinya nggak akan terlupakan. (edyra)***
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

2 Response to "WARNA-WARNI DAMNOEN SADUAK FLOATING MARKET"

  1. lulu utami says:
    6 March 2016 at 20:43

    Hai mas edyra..saya punya rencana mau k damnoen saduak ga pake tour, hotel saya di sukhumvit dekat BTS phromphong, kira2 naik bis nomor brp ya ke sai tai mai? Atau mending naik taxi aja? Ohiyah liat d blog sebelah, katanya pas pulang hrs jalan dulu ya kira2 800m ke terminal damnoen saduak krn ga bisa angkut penumpang ditmpt pas awal qt turun, bner ga mas?
    *hehee maaf ya banyak nanya 😁

  2. Plakat Akrilik Murah says:
    18 June 2016 at 10:02

    pengen sih bisa jalan-jalan ke negara tetangga gitu, borong souvenir khas, tapi negara yang mayoritasnya bukan muslim agak repot kayaknya nyari makanan yang halalan toyyiban

Post a Comment